Purbaya Heran dan Bingung dan Stres IHSG dan Rupiah Makin Tertekan
Joanita Ary June 05, 2026 10:35 PM

WARTAKOTALIVECOM, Jakarta — Pelemahan pasar keuangan domestik yang ditandai dengan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah menjadi sorotan pemerintah.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran dengan sentimen negatif yang terus membayangi pasar, meski kondisi fiskal Indonesia dinilai tetap solid oleh lembaga pemeringkat internasional.

Dalam Konferensi Pers APBN Kita di Jakarta, Jumat (5/6), Purbaya mengatakan pemerintah telah memperoleh penilaian positif dari lembaga pemeringkat global terkait pengelolaan fiskal Indonesia.

Namun, di sisi lain, pasar justru menunjukkan respons yang berbeda melalui aksi jual yang menekan pasar saham dan mata uang rupiah.

"Saya juga agak bingung sebenarnya apa yang terjadi. Jadi kelihatannya kesan bahwa fiskal kurang baik pelaksanaannya. Itu yang digembar-gemborkan, mencari kelemahannya terus kan, sehingga kira-kira mereka bilang fiskalnya jadi berantakan. Itu yang feed-in ke pelemahan nilai tukar dan penurunan saham," ujar Purbaya.

Menurut dia, persepsi negatif mengenai kondisi fiskal Indonesia tampaknya menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor.

Isu yang berkembang di pasar menyebutkan bahwa pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi mengalami defisit yang melampaui batas aman 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Narasi tersebut, kata Purbaya, terus bergulir dan memunculkan keraguan di kalangan pelaku pasar terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah.

Padahal, berdasarkan komunikasi langsung yang dilakukan pemerintah dengan lembaga pemeringkat internasional, kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam koridor yang sehat.

Purbaya mengungkapkan bahwa dirinya telah meminta penjelasan langsung kepada lembaga pemeringkat global Standard & Poor's (S&P) mengenai persepsi terhadap perekonomian Indonesia.

Dari hasil komunikasi tersebut, tidak ditemukan kekhawatiran berarti terkait stabilitas fiskal nasional.

"Padahal waktu saya tanya kemarin ke S&P, oh sudah bagus, sudah ini-ini, fiskalnya ini-ini," kata dia.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara penilaian fundamental yang dilakukan lembaga pemeringkat dengan sentimen yang berkembang di pasar keuangan domestik.

Di satu sisi, indikator fiskal dinilai masih terjaga, namun di sisi lain investor tetap melakukan aksi jual yang menekan harga saham dan nilai tukar rupiah.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam menjaga kepercayaan pasar.

Sebab, selain faktor fundamental ekonomi, pergerakan pasar keuangan juga sangat dipengaruhi oleh ekspektasi dan persepsi investor terhadap prospek ekonomi maupun kebijakan pemerintah ke depan.

Pemerintah sendiri menegaskan bahwa pengelolaan APBN tetap dilakukan secara hati-hati dengan menjaga disiplin fiskal.

Komitmen untuk mempertahankan defisit anggaran dalam batas yang terkendali serta menjaga kesinambungan fiskal disebut tetap menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Meski demikian, Purbaya mengakui bahwa derasnya narasi negatif mengenai kondisi fiskal Indonesia tampaknya telah memengaruhi psikologi pasar.

Karena itu, pemerintah akan terus memperkuat komunikasi kepada investor dan pelaku pasar agar kondisi fundamental ekonomi Indonesia dapat dipahami secara lebih utuh dan objektif.

Dengan penilaian positif yang diberikan lembaga pemeringkat internasional, pemerintah berharap sentimen pasar dapat kembali membaik sehingga tekanan terhadap IHSG maupun nilai tukar rupiah dapat mereda dalam waktu mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.