TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menyambut euforia dan gairah Piala Dunia 2026, De Berry Beerhouse Denpasar bersiap memanjakan para pencinta sepak bola di Bali dengan menggelar agenda nonton bareng (nobar).
Menariknya, dalam pergelaran akbar kali ini, pihak manajemen tidak hanya menyasar suporter domestik, melainkan secara terang-terangan membidik ceruk pasar pariwisata Bali yang melimpah.
Manajemen De Berry kini tengah mengincar para wisatawan mancanegara (wisman) di Bali yang negaranya ikut bertanding dalam kompetisi sepak bola sejagat tersebut, seperti Belanda, Brasil, hingga Australia.
Baca juga: Rekomendasi Tempat Nobar Piala Dunia 2026 di Bali, De Berry Denpasar Siap Hidupkan Euforia Big Match
Strategi pemasaran digital secara masif pun siap digencarkan melalui media sosial untuk menarik atensi para turis asing ini.
"Selama ini kalau ada match klub besar seperti Liverpool atau MU, selalu ada orang asing yang datang karena mereka melihat informasi di medsos. Kita memanfaatkan media seperti Instagram dan Facebook untuk promosi," papar Manajer De Berry Denpasar, Nyoman Kariadi saat diwawancarai di De Berry Denpasar, Kamis 4 Juni 2026.
Baca juga: Begini Aturan Nobar Piala Dunia 2026 di Bali, Lisensi Komersial Mulai Rp10 Juta
"Dan nanti akan kita tambahkan ads (iklan berbayar) untuk memperluas jangkauan agar turis-turis asing tahu di sini ada venue nobar Piala Dunia," imbuh dia.
Nyoman tidak menampik bahwa agenda besar ini diharapkan mampu memberikan dampak instan pada pos pendapatan De Berry sepanjang bulan Juni.
Kehadiran para turis asing dan suporter lokal diproyeksikan dapat mengisi slot jam operasional subuh yang biasanya sepi pengunjung akibat adanya momentum hari raya lokal di Bali.
"Target peningkatan omset pasti ada. Kami mengharapkan bulan Juni ini kan juga banyak kegiatan di Bali, khususnya ada Hari Raya Galungan dan Kuningan," ujarnya.
"Paling tidak dengan adanya nobar-nobar ini kita harapkan bisa menambah omset kita di jam-jam yang kiranya tidak bisa dihandle saat siang hari karena orang-orang sedang sibuk sembahyang," imbuh dia.
"Jadi kita tutupi (kekosongan omset) di jam subuh itu. Sebenarnya kalau ada *match* jam 10 atau jam 11 pagi kita sudah bisa terima customer karena outlet sudah buka dari jam 10 pagi, cuma kendalanya ya itu tadi, tayangan proyektornya saja yang tidak tajam kalau siang," jabar Nyoman.
Meski memiliki ambisi besar menggaet turis mancanegara, pergelaran nobar di De Berry tetap dihadapkan pada perbedaan waktu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko yang membuat mayoritas pertandingan krusial tayang pada subuh dan pagi hari di zona waktu Indonesia.
"Hanya saja kan matchnya rata-rata pagi hari. Nah, ini yang menjadi tantangan, karena di jam-jam itu kan tidak seramai di jam-jam istilahnya seperti jam 10 atau 11 malam," tutur Kariadi.
Untuk menyiasatinya, De Berry bersikap selektif dengan siaran nobar pada laga-laga yang bergulir saat hari masih gelap demi memaksimalkan kualitas proyektor dan layar besar (big screen) di area depan.
Pertandingan subuh sekitar jam 3 atau 4 pagi dipastikan tetap dilibas, sedangkan laga yang tayang di atas jam 9 pagi terpaksa dilepas karena kendala paparan cahaya matahari.
Demi memberikan rasa aman bagi suporter lokal maupun wisman yang hadir, manajemen memastikan seluruh administrasi izin siar resmi sudah tuntas sejak bulan April.
Selain itu, area nobar berkapasitas hingga 100 pengunjung ini juga akan menerapkan sistem penutupan area luar guna menyaring penonton serta mencegah potensi gesekan antarsuporter.
Pada fase awal turnamen, pengunjung cukup datang dan memesan menu secara normal (just order) dengan harga minuman mulai dari Rp25.000.
Namun, regulasi ketat berupa sistem First Drink Charge (FDC) baru akan diberlakukan mulai babak 16 besar hingga laga final demi menyaring penonton agar suasana nobar tetap berjalan dengan aman, santai, dan tertib. (*)