Oleh:
Mitha Hasanah, Mahasiswa Bahasa Indonesia USK
SERAMBINEWS.COM, ACEH BESAR - Tidak banyak desa di Aceh yang masih bisa mempertahankan wajah aslinya di tengah arus modernisasi yang terus bergerak. Lubuk Sukon, sebuah desa yang berjarak sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh ini dikenal sebagai salah satu kawasan yang masih menjaga kelestarian rumah adat Aceh beserta adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun.
Perjalanan menuju Lubuk Sukon tidak memakan waktu lama. Semakin mendekati kawasan desa, hiruk-pikuk kendaraan mulai berkurang. Sebelum masuk, ada jembatan di atas aliran sungai, lalu sebuah gapura bertuliskan ”Selamat Datang di Desa Lubuk Sukon” berdiri menyambut setiap pengunjung yang datang. Dari titik itu, suasana khas pedesaan mulai terasa.
Hal pertama yang langsung menarik perhatian begitu masuk ke desa adalah deretan Rumoh Aceh, yang berdiri rapi di sepanjang jalan. Rumah-rumah panggung berbahan kayu ini tidak hanya masih berdiri, tapi benar-benar terawat dengan baik.
Salah satu yang paling mencolok adalah Rumoh Aceh milik Tje’Mat Rahmany, tokoh Aceh sekaligus mantan Duta Besar Republik Indonesia. Rumah itu menjadi salah satu bangunan paling ikonik di desa ini.
Rumoh Aceh memiliki beberapa keunggulan dibanding rumah biasa. Bentuknya yang berupa rumah panggung dengan lantai yang lebih tinggi dari permukaan tanah membuat bangunan ini lebih aman dari genangan air dan banjir, terutama saat curah hujan tinggi.
Ruang kosong di bawah rumah juga membantu mengurangi dampak kelembapan pada bangunan serta dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Serta, sirkulasi udaranya yang bagus membuat rumah terasa sejuk tanpa pendingin ruangan.
Sistem sambungan kayunya juga membuat bangunan relatif lebih tahan terhadap guncangan gempa, mengingat Aceh merupakan daerah rawan gempa. Material yang digunakan umumnya berupa kayu untuk struktur utama, papan untuk dinding dan lantai, rotan atau tali sebagai pengikat, serta daun rumbia untuk atap pada bentuk tradisionalnya.
Pembangunan Rumoh Aceh membutuhkan biaya yang cukup besar, terutama karena penggunaan kayu berkualitas. Namun, masyarakat tetap berupaya mempertahankan dan merawat rumah tradisional tersebut sebagai warisan budaya Aceh.
Tidak ada nama tunggal di balik desain Rumoh Aceh. Rumah adat ini adalah hasil kearifan lokal yang tumbuh dan diwariskan secara turun-temurun, bukan karya satu orang atau satu zaman.
Keunikan Lubuk Sukon bukan cuma soal bangunannya. Tata letak rumah di desa ini masih mengikuti resam gampong. Aturan adat warisan leluhur yang mengatur bagaimana rumah-rumah diposisikan. Karena itu, rumah-rumah di sini terlihat teratur, bukan sekadar berdiri tanpa pola.
Lingkungan desa ini juga bersih dan tertata. Halaman rumah dipenuhi tanaman, dan hampir tidak ada sampah berserakan di jalan. Bukan karena ada peraturan ketat yang ditempel di papan, tapi memang seperti sudah menjadi kebiasaan warganya.
Baca juga: Mengenal Kehidupan Masyarakat Aceh Tempo Dulu Lewat “Pameran Rumoh Aceh”
Lubuk Sukon sudah lama dikenal sebagai desa wisata budaya, bahkan disebut sebagai desa wisata pertama di Aceh karena dinilai berhasil mempertahankan kekayaan budayanya. Ada satu program yang cukup menarik di sana, namanya wet-wet gampong atau wisata keliling desa yang mengajak pengunjung melihat langsung kehidupan masyarakat, mengamati Rumoh Aceh dari dekat dan mengenal tradisi yang masih dijalankan sampai sekarang.
Kunjungan ke Lubuk Sukon tidak butuh waktu lama, tapi kesannya tidak mudah dilupakan. Warga disana bercerita bahwa menjaga Rumoh Aceh bukan hanya tentang mempertahankan bangunan lama, tetapi juga menjaga jati diri dan warisan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat. Karena itulah, keberadaan rumah adat di desa ini terus dirawat dan dilestarikan dari generasi ke generasi.
Bagi yang ingin melihat langsung bagaimana Rumoh Aceh dan adat Aceh masih hidup dalam keseharian, Lubuk Sukon adalah tempat yang layak dikunjungi. Jaraknya dekat dari Banda Aceh, dan yang ditawarkan jauh lebih dari sekadar pemandangan desa.(*)