Alasan Senior Bakar 3 Santri Junior Hidup-hidup, Marah Korban Mengadu ke Pengasuh
Eko Setiawan June 05, 2026 11:25 PM

 

TRIBUNBATAM.id, LOMBOK TENGAH - Di usia yang baru menginjak 13 tahun, Sahid Al Hudri seharusnya menghabiskan hari-harinya untuk belajar dan bermain bersama teman sebaya.

Namun nasib berkata lain. Santri Pondok Pesantren Rusydah, Desa Mantang, Lombok Tengah itu kini harus menjalani hidup dengan luka bakar yang menutupi sekitar 80 persen tubuhnya setelah diduga menjadi korban aksi pembakaran oleh seniornya sendiri.

Saat ditemui Tribun Lombok, Kamis (4/6/2026), Sahid tampak duduk dengan wajah murung. Sebagian besar tubuhnya tertutup kain untuk menutupi luka bakar yang masih membekas.

Tatapannya kosong, seolah masih menyimpan trauma atas peristiwa mengerikan yang dialaminya.

Dengan suara pelan, Sahid menceritakan kembali kejadian yang mengubah hidupnya. Menurutnya, saat itu ia bersama dua temannya diminta masuk ke sebuah ruangan. Di dalam ruangan tersebut, seorang kakak kelas telah menyiapkan bensin.

Tak lama kemudian, bensin itu disiramkan ke dalam ruangan sebelum api menyala dan membakar mereka.

Ketika ditanya apakah peristiwa itu terjadi karena bercanda atau permainan yang berujung petaka, Sahid memberikan jawaban singkat namun tegas.

"Sengaja," ucapnya sambil menundukkan kepala.

Lebih memilukan lagi, Sahid mengaku dirinya bersama dua temannya tidak memiliki kesempatan menyelamatkan diri. Pintu ruangan disebut ditutup rapat sehingga mereka terjebak saat api mulai membesar.

"Terjebak kita bertiga, orang yang ngebakar bisa dia keluar," katanya.

Akibat peristiwa itu, satu dari tiga korban dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami luka bakar serius.

Keluarga menduga aksi tersebut dilatarbelakangi dendam pelaku. Sebelumnya, Sahid dan beberapa santri lain sempat melaporkan pelaku kepada pimpinan pondok atas dugaan perundungan terhadap santri lain, termasuk tindakan menelanjangi korban.

Setelah mendapat teguran dari pimpinan pondok, pelaku disebut menyimpan kemarahan dan sempat melontarkan ancaman kepada korban.

"Awas besok lagi-lagi kamu ngasih tahu, saya bakar kamu," ujar Sahid menirukan ancaman yang pernah diterimanya.

Tak hanya menanggung rasa sakit akibat luka bakar, Sahid juga harus menghadapi trauma mendalam. Bibi korban, Nurul Hidayah, mengungkapkan keponakannya merasa malu saat harus kembali ke lingkungan masyarakat karena kondisi tubuhnya yang berubah drastis.

"Kalau banyak orang malu, jangan dibawa keluar. Saya dilihatin terus sama orang, minta ditutup pakai kain panjang kayak orang sudah meninggal," tutur Nurul menirukan ucapan Sahid.

Di tengah penderitaan itu, keluarga korban juga menghadapi beban ekonomi yang berat. Orang tua Sahid yang berasal dari keluarga kurang mampu harus mencari pinjaman ke berbagai pihak demi membiayai pengobatan yang telah menelan biaya puluhan juta rupiah.

Keluarga mengaku hingga saat ini seluruh biaya pengobatan ditanggung sendiri. Mereka bahkan menyebut tidak menerima bantuan biaya dari pihak pondok pesantren.

"Satu peser pun tidak ada tanggung jawab dari saya karena saya juga termasuk korban, itu Lillahi Ta'ala," ujar Nurul menirukan pernyataan pimpinan pondok saat dimintai pertanggungjawaban.

Merasa tidak mendapatkan kejelasan dan keadilan, keluarga akhirnya memutuskan melaporkan kasus tersebut ke kepolisian. Mereka berharap proses hukum dapat mengungkap fakta sebenarnya sekaligus memberikan keadilan bagi Sahid dan korban lainnya.

Kini, selain berjuang memulihkan kondisi fisiknya, Sahid juga harus menghadapi trauma yang masih membayangi setiap harinya akibat peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya itu.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.