Night Shift for Cuties Tayang di Netflix, Angkat Drama Fandom K-Pop
Konten Grid June 06, 2026 12:34 AM

nextren.com - Netflix resmi menayangkan serial orisinal Indonesia terbaru berjudul Night Shift for Cuties mulai Kamis, 4 Juni 2026.

Serial delapan episode ini hadir secara global di Netflix dan mengangkat cerita persahabatan dua perempuan muda, budaya fandom K-pop, serta tekanan hidup generasi 20-an.

Serial ini dibintangi Shenina Cinnamon sebagai Muti dan Nadya Syarifa sebagai Jenar. Keduanya dikisahkan bertemu saat bekerja di sebuah minimarket Korea dan sama-sama menjadi penggemar berat girl group fiktif bernama Purple Tea.

Cerita utama Night Shift for Cuties berangkat dari perjuangan Muti dan Jenar untuk bertemu idola mereka.

Namun, perjalanan itu tidak hanya dibalut euforia fandom, melainkan juga konflik ekonomi, keluarga, kepercayaan diri, dan proses pendewasaan.

Dalam konferensi pers yang digelar Netflix, sutradara Monica Vanesa Tedja atau Mica menjelaskan bahwa serial ini ingin menangkap dinamika persahabatan perempuan secara lebih utuh.

"Kami mencoba menangkap cerita persahabatan perempuan yang bisa terlihat rumit dan seperti rollercoaster dengan pertengkaran dan cekcok, tapi di balik itu ada cinta dan rasa peduli," ujar Mica.

Menurut Mica, gagasan serial ini sebagian terinspirasi dari teman dekatnya yang sangat menggemari K-pop.

Ia melihat bagaimana seseorang bisa berubah menjadi lebih percaya diri, lebih ekspresif, dan lebih berwarna setelah menemukan idola yang memberi semangat hidup.

Mica menyebut transformasi itu membuatnya tertarik untuk melihat lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi di balik passion dan obsesi penggemar terhadap idolanya.

Penulis naskah Aline Djayasukmana, yang menggarap serial ini bersama Mica, mengatakan dunia K-pop dipilih karena memiliki daya tarik kuat, terutama dari sisi komunitas penggemar.

Menurutnya, fandom bukan hanya soal kegemaran terhadap musik atau visual idola, tetapi juga ruang bagi seseorang untuk menemukan identitas dan rasa percaya diri.

Aline juga menyoroti keputusan kreatif untuk menghadirkan girl group dalam cerita ini.

Ia menilai perempuan di industri hiburan menghadapi banyak tantangan, termasuk tuntutan fisik, standar kecantikan, dan tekanan untuk tampil sempurna.

"Kami mencoba mendobrak batasan dengan mengajukan gagasan bagaimana kalau pentolan sebuah grup adalah seseorang yang plus size, sesuatu yang tidak konvensional di industri," kata Aline.

Dari sisi karakter, Shenina Cinnamon mengatakan ia tertarik memerankan Muti karena tokoh ini tidak hanya digambarkan sebagai fangirl yang penuh antusiasme.

Muti juga merupakan bagian dari sandwich generation yang harus bekerja keras untuk menghidupi ibu dan adiknya.

"Saya belum pernah memerankan fangirl yang habis-habisan seperti di sini. Dan di balik itu ada Muti yang sangat membanting tulang karena ia termasuk dalam sandwich generation," ujar Shenina.

Shenina menilai Muti sebagai karakter yang kerap mengambil keputusan spontan, tetapi tetap memiliki alasan emosional yang kuat.

Bagi Muti, Purple Tea bukan sekadar idola, melainkan sumber motivasi ketika lingkungan sekitar tidak mampu memberinya semangat yang sama.

Sementara itu, Nadya Syarifa yang juga dikenal sebagai penyanyi SailorMoney mengaku merasa dekat dengan karakter Jenar.

Ia melihat banyak irisan antara dirinya dan Jenar, terutama soal pengalaman dihakimi orang lain, konflik dengan keluarga, serta upaya membangun rasa percaya diri.

"Saya melihat ada banyak sisi diri saya di Jenar, misalnya dihakimi orang lain maupun keluarga, segala perjuangan yang ia lakukan, hingga 'meminjam' kepercayaan diri idolanya agar dia juga bisa percaya diri," kata Nadya.

Produser Kevin Ryan Himawan menyebut produksi Night Shift for Cuties menjadi pengalaman yang menantang sekaligus menyenangkan.

Salah satu tantangan terbesar muncul dari pembuatan lagu, lirik, dan koreografi untuk Purple Tea agar terasa meyakinkan sebagai girl group di dalam cerita.

Untuk penggarapan musik, tim produksi bekerja sama dengan Kenny Gabriel dan Monica Eva Sancti atau Moneva.

Kevin menyebut proses tersebut sebagai perjalanan kolaboratif yang memberi banyak pembelajaran baru bagi tim produksi.

Night Shift for Cuties diproduksi dengan dukungan Soda Machine Films sebagai production service company.

Serial ini disutradarai Monica Vanesa Tedja, ditulis oleh Monica Vanesa Tedja dan Aline Djayasukmana, serta diproduseri Lucky Kuswandi dan Kevin Ryan Himawan.

Secara tema, Night Shift for Cuties mencoba membaca fenomena fandom K-pop dari sudut pandang yang lebih personal.

Serial ini tidak berhenti pada gambaran penggemar yang rela berjuang demi idolanya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana idola bisa menjadi sumber energi, pelarian, bahkan pegangan emosional bagi anak muda yang sedang menghadapi tekanan hidup.

Kehadiran serial ini juga menunjukkan bagaimana cerita lokal Indonesia mulai lebih berani mengangkat budaya pop global dengan pendekatan yang dekat dengan realitas anak muda.

Fandom, dalam konteks ini, tidak diposisikan sekadar sebagai obsesi, melainkan sebagai bagian dari cara seseorang bertahan, mencari komunitas, dan menemukan keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Di tengah semakin kuatnya budaya K-pop di Indonesia, Night Shift for Cuties hadir sebagai cerita tentang persahabatan dan mimpi yang terasa dekat dengan generasi muda.

Serial ini mengingatkan bahwa di balik poster, lagu, lightstick, dan antusiasme penggemar, sering kali ada kebutuhan yang lebih manusiawi: keinginan untuk merasa dilihat, didengar, dan punya alasan untuk terus berjalan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.