Derita Sunyi Anak Gaza Tercabik Luka: Ketika Anak Palestina Kehilangan Kemampuan Berbicara
Saifullah June 06, 2026 02:03 AM

Oleh: Sarah Ainun

TANGISAN biasanya menjadi bahasa pertama seorang anak ketika menghadapi ketakutan.

Namun di Gaza, sebagian anak bahkan telah kehilangan kemampuan untuk menangis, berbicara, atau mengungkapkan rasa sakit mereka. 

Mereka memilih diam. Bukan karena tidak memiliki cerita, melainkan karena penderitaan yang mereka alami telah melampaui batas kemampuan jiwa mereka untuk mengungkapkannya.

Dunia kembali dikejutkan oleh laporan mengenai anak-anak Gaza yang mendadak kehilangan kemampuan berbicara.

Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk yang melakukan misi kemanusiaan di Gaza bersama Médecins Sans Frontières (MSF), mengungkapkan bahwa tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak mengalami trauma. 

Ia memperkirakan lebih dari satu juta anak telah menderita trauma berat akibat perang yang berkepanjangan.

Sebagian dari mereka menunjukkan respons ekstrem berupa kehilangan kemampuan berbicara sebagai akibat dari tekanan psikologis yang luar biasa.

Bagi sebagian orang, kehilangan kemampuan berbicara mungkin hanya dipahami sebagai gangguan psikologis.

Namun bagi anak-anak Gaza, kondisi itu adalah bahasa penderitaan yang tidak lagi mampu diterjemahkan oleh kata-kata. 

Mereka hidup di tengah dentuman bom, kehilangan anggota keluarga, menyaksikan rumah-rumah rata dengan tanah, mengalami kelaparan, pengungsian, dan ketidakpastian yang berlangsung tanpa akhir.

Dalam kondisi demikian, diam menjadi bentuk lain dari jeritan yang tidak terdengar.

Tragedi ini menunjukkan bahwa perang yang terjadi di Gaza bukan sekadar penghancuran bangunan dan infrastruktur.

Yang sedang dihancurkan adalah manusia itu sendiri.

Yang disasar bukan hanya tubuh-tubuh yang hidup, tetapi juga pikiran, harapan, dan masa depan generasi berikutnya. 

Ketika seorang anak kehilangan kemampuan berbicara akibat trauma, sesungguhnya yang sedang dirampas bukan hanya suaranya, tetapi juga sebagian dari masa kecilnya.

Apa yang dialami anak-anak Gaza tidak dapat dilepaskan dari agresi yang terus dilakukan oleh entitas Zionis Israel. 

Serangan yang berlangsung selama bertahun-tahun telah menciptakan penderitaan multidimensi. 

Ribuan anak kehilangan orang tua, rumah, pendidikan, kesehatan, bahkan rasa aman yang menjadi kebutuhan paling mendasar bagi tumbuh kembang mereka. 

UNICEF dan berbagai lembaga kemanusiaan internasional berkali-kali memperingatkan bahwa generasi anak Gaza menghadapi ancaman kerusakan psikologis jangka panjang akibat perang yang terus berlangsung.

Karena itu, sulit untuk melihat fenomena ini hanya sebagai dampak sampingan perang. 

Kehancuran fisik yang masif, blokade berkepanjangan, penghancuran fasilitas sipil, serta serangan yang terus menimbulkan korban perempuan dan anak-anak menunjukkan adanya upaya sistematis yang tidak hanya menghancurkan kehidupan saat ini, tetapi juga masa depan rakyat Palestina. 

Ketika anak-anak kehilangan kemampuan berbicara, kehilangan pendidikan, kehilangan keluarga, dan kehilangan harapan secara bersamaan, maka yang sedang berlangsung bukan sekadar konflik bersenjata biasa.

Yang terjadi adalah penghancuran suatu bangsa secara perlahan, baik secara fisik maupun mental.

Ironisnya, dunia yang mengaku menjunjung tinggi hak asasi manusia tampak tidak berdaya menghentikan tragedi tersebut.

Berbagai forum internasional telah menghasilkan banyak pernyataan keprihatinan, resolusi, dan bantuan kemanusiaan. Namun semua itu belum mampu menghentikan derita yang terus dialami rakyat Gaza. 

Bantuan makanan dan obat-obatan memang penting, tetapi tidak cukup untuk menghentikan bom yang terus berjatuhan.

Bantuan psikologis memang dibutuhkan, tetapi tidak akan menyelesaikan akar masalah selama penjajahan dan agresi masih berlangsung.

Yang lebih menyakitkan adalah sikap sebagian penguasa di negeri-negeri Muslim.

Di tengah penderitaan rakyat Palestina, banyak dari mereka justru memilih diam, mengutamakan kepentingan politik dan hubungan diplomatik dengan negara-negara besar daripada membela saudara seiman yang sedang tertindas. 

Padahal Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan.

Palestina adalah persoalan umat yang menyangkut kehormatan, keamanan, dan keselamatan kaum Muslimin.

Kondisi ini sekaligus memperlihatkan betapa umat Islam hari ini kehilangan institusi politik yang dahulu berfungsi sebagai perisai pelindung mereka.

Selama berabad-abad, wilayah-wilayah kaum Muslimin berada di bawah satu kepemimpinan yang memiliki kekuatan untuk melindungi rakyatnya dari ancaman luar. 

Ketika institusi itu runtuh, umat Islam tercerai-berai ke dalam puluhan negara bangsa yang masing-masing lebih sibuk mengurus kepentingan nasionalnya sendiri daripada memperjuangkan kepentingan umat secara keseluruhan.

Akibatnya, ketika Palestina diserang, tidak ada kekuatan politik umat yang benar-benar mampu bertindak secara efektif untuk menghentikan agresi tersebut.

Yang muncul hanyalah kecaman, pernyataan belasungkawa, dan bantuan kemanusiaan yang sering kali terhambat oleh berbagai kepentingan politik internasional.

Karena itu, derita anak-anak Gaza tidak boleh berhenti pada narasi simpati dan empati semata.

Dunia memang perlu membantu proses pemulihan trauma mereka.

Namun terapi psikologis tidak akan pernah cukup selama akar penderitaan masih dibiarkan tumbuh. 

Anak-anak Gaza tidak hanya membutuhkan konselor dan psikoterapis.

Mereka membutuhkan keamanan, kemerdekaan, dan masa depan yang terbebas dari penjajahan.

Pembebasan Palestina menjadi kebutuhan mendesak untuk mengakhiri siklus penderitaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Selama penjajahan masih bercokol, selama agresi masih berlangsung, selama rakyat Palestina masih hidup dalam ketakutan setiap hari, maka luka-luka baru akan terus lahir, dan anak-anak lain akan menyusul kehilangan suara mereka.

Dalam pandangan Islam, kezaliman tidak boleh dibiarkan berlangsung tanpa perlawanan.

Penjajahan harus diakhiri dan kaum tertindas wajib dibela.

Karena itu, pembebasan Palestina memerlukan kekuatan nyata yang mampu menghentikan agresi dan melindungi rakyatnya. 

Tragedi yang terus menimpa Palestina seharusnya menyadarkan umat Islam akan urgensi memperjuangkan kembali hadirnya institusi pemerintahan Islam yang mampu mempersatukan kekuatan umat.

Dengan kepemimpinan yang berlandaskan syariat, kaum Muslimin tidak lagi berdiri sendiri-sendiri, melainkan menjadi satu kekuatan yang sanggup melindungi negeri-negeri Islam, menjaga kemuliaan umat, dan membela mereka yang tertindas.

Kesadaran ini bukan sekadar wacana politik, melainkan bagian dari upaya mencari solusi mendasar atas tragedi yang terus berulang.

Hari ini, dunia mungkin melihat anak-anak Gaza yang kehilangan kemampuan berbicara sebagai korban trauma perang.

Namun sesungguhnya diam mereka adalah kesaksian paling keras tentang kegagalan dunia menghentikan kezaliman. 

Di balik kebisuan itu tersimpan pertanyaan yang menuntut jawaban: sampai kapan penderitaan ini akan dibiarkan berlangsung?

Jika dunia masih memiliki nurani, maka derita sunyi anak-anak Gaza harus menjadi alarm bahwa tragedi ini tidak boleh lagi dipandang sebagai konflik biasa.

Mereka tidak membutuhkan belas kasihan sesaat. Mereka membutuhkan kebebasan. Mereka membutuhkan perlindungan.

Dan yang paling penting, mereka membutuhkan dunia yang benar-benar berani menghentikan kezaliman yang telah merampas masa kecil mereka.(*)

  • Penulis Adalah Perawat di RSJ Aceh
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.