TRIBUNKALTIM.CO - Timnas Indonesia menorehkan malam bersejarah di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Di hadapan puluhan ribu pendukung yang memadati stadion kebanggaan nasional tersebut, Timnas Inconesia berhasil menundukkan Oman dengan skor meyakinkan 3-0 dalam laga FIFA Matchday Juni 2026.
Kemenangan ini tidak hanya menghadirkan kebanggaan bagi publik sepak bola Indonesia, tetapi juga membawa dampak besar terhadap posisi Indonesia di peringkat dunia FIFA.
Berkat tambahan poin yang signifikan, Timnas Indonesia diproyeksikan naik empat tingkat ke posisi ke-118 dunia, sekaligus menyamai capaian terbaik yang pernah diraih pada era kepelatihan Patrick Kluivert setahun sebelumnya.
Lebih dari sekadar kemenangan dalam pertandingan persahabatan internasional, hasil ini menjadi simbol perkembangan signifikan sepak bola Indonesia yang dalam satu dekade terakhir berupaya bangkit dari berbagai persoalan yang sempat membuat peringkat FIFA Garuda terpuruk.
Baca juga: Timnas Indonesia Hajar Oman 3-0, Pasukan John Herdman Melesat di Ranking FIFA
Sejak peluit pertama dibunyikan, Timnas Indonesia menunjukkan intensitas permainan tinggi.
Skuad asuhan John Herdman tampil agresif dan berani mengambil inisiatif serangan menghadapi Oman yang datang dengan status tim berperingkat lebih tinggi.
Keunggulan Indonesia mulai terlihat pada menit ke-13 ketika Justin Hubner berhasil mencetak gol pembuka. Gol tersebut semakin meningkatkan kepercayaan diri para pemain Garuda untuk terus menekan pertahanan Oman.
Momentum positif berlanjut pada menit ke-27 saat Ole Romeny berhasil menggandakan keunggulan Indonesia. Skor 2-0 bertahan hingga pertengahan babak pertama dan membuat suasana stadion semakin bergemuruh.
Namun salah satu momen paling menentukan justru terjadi pada menit ke-37. Saat Indonesia unggul dua gol, Oman mendapatkan hadiah penalti yang berpotensi mengubah jalannya pertandingan.
Dalam situasi krusial tersebut, Emil Audero menunjukkan kualitasnya sebagai penjaga gawang kelas Eropa. Kiper Cremonese yang lahir di Mataram itu berhasil membaca arah tendangan Hatem Sultan dan melakukan penyelamatan gemilang.
Penyelamatan tersebut menjaga keunggulan Indonesia sekaligus mematahkan momentum kebangkitan Oman.
Memasuki babak kedua, Indonesia tetap mempertahankan intensitas permainan. Pada menit ke-56, Ragnar Oratmangoen mencatatkan namanya di papan skor setelah memanfaatkan bola muntah hasil penyelamatan kiper Oman.
Gol tersebut memastikan Indonesia unggul 3-0 dan menjadi gol penutup pertandingan.
Hingga peluit panjang dibunyikan, skor tetap bertahan dan Indonesia sukses mengamankan kemenangan meyakinkan tanpa kebobolan.
Kemenangan atas Oman memiliki arti lebih besar dibanding sekadar tambahan tiga gol dan tiga poin kehormatan.
Hasil tersebut mengakhiri catatan buruk Timnas Indonesia yang tidak pernah menang atas Oman selama 38 tahun.
Sebelum pertandingan ini, Indonesia dan Oman telah bertemu enam kali. Indonesia terakhir kali mengalahkan Oman pada ajang King's Cup tahun 1987 dan 1988.
Setelah itu, Indonesia hanya mampu bermain imbang 0-0 pada tahun 2009 sebelum menelan tiga kekalahan beruntun, yakni 1-2 pada Kualifikasi Piala Asia 2011, 0-1 dalam laga persahabatan tahun 2011, dan 1-3 pada pertandingan persahabatan tahun 2021.
Karena itu, kemenangan 3-0 di Jakarta menjadi pencapaian penting bagi John Herdman yang sebelumnya berjanji membawa Indonesia menciptakan sejarah baru.
Pergantian pemain yang dilakukan Herdman sepanjang pertandingan juga menunjukkan pendekatan taktis yang efektif. Dony Tri Pamungkas, Calvin Verdonk, Yakob Sayuri, Saddil Ramdani, Matthew Baker, dan Mauro Zijlstra turut mendapatkan kesempatan bermain dalam laga tersebut.
Ranking FIFA Indonesia Melonjak
Selain memutus rekor buruk, kemenangan atas Oman memberikan keuntungan besar dalam perhitungan ranking FIFA.
Sebelum pertandingan, Indonesia berada di posisi ke-122 dunia dengan koleksi 1.144,88 poin.
Sementara Oman menempati peringkat ke-79 dunia dengan total 1.313,46 poin.
Karena mengalahkan tim yang memiliki ranking jauh lebih tinggi, Indonesia memperoleh tambahan 6,56 poin FIFA.
Berdasarkan perhitungan Football Ranking, tambahan tersebut membuat total poin Indonesia meningkat menjadi 1.151,44.
Dengan raihan tersebut, Indonesia diproyeksikan naik empat tingkat ke posisi ke-118 dunia.
Posisi itu membuat Indonesia berhasil melewati Togo, Namibia, Sierra Leone, dan Korea Utara dalam daftar ranking FIFA.
Herdman Samai Catatan Patrick Kluivert
Menariknya, posisi ke-118 dunia bukanlah angka biasa bagi sepak bola Indonesia.
Setahun sebelumnya, tepatnya pada Juni 2025, Patrick Kluivert juga berhasil membawa Timnas Indonesia mencapai ranking ke-118 dunia setelah kemenangan atas China pada putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.
Saat itu Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyebut posisi tersebut sebagai capaian terbaik Indonesia dalam hampir dua dekade terakhir.
"Alhamdulillah Timnas Indonesia berhasil naik lima posisi ke peringkat 118 di ranking FIFA terbaru. Ranking 118 ini merupakan posisi terbaik untuk Indonesia dalam 19 tahun terakhir," tulis Erick Thohir melalui akun Instagram pribadinya kala itu.
Kini John Herdman berhasil mengulang pencapaian yang sama.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa peningkatan performa Timnas Indonesia bukan sekadar momentum sesaat, melainkan bagian dari proses pembangunan yang mulai menunjukkan hasil nyata.
Dari Peringkat 179 Dunia Menuju Kebangkitan
Perjalanan Indonesia menuju posisi 118 dunia tidak terjadi dalam waktu singkat.
Pada periode 1997 hingga 2004, Indonesia beberapa kali mampu menembus jajaran 100 besar ranking FIFA.
Namun berbagai persoalan yang melanda sepak bola nasional kemudian membuat posisi Indonesia terus merosot.
Dualisme kepengurusan PSSI, konflik internal sepak bola nasional, hingga sanksi pembekuan FIFA menjadi faktor yang berkontribusi terhadap penurunan prestasi.
Puncaknya terjadi pada 2015 ketika Indonesia terpuruk hingga menempati peringkat ke-179 dunia.
Karena itu, kembalinya Indonesia ke posisi 118 dunia dipandang sebagai salah satu pencapaian penting dalam era modern sepak bola nasional.
Emil Audero Jadi MVP
Di balik kemenangan besar Indonesia, nama Emil Audero menjadi salah satu sosok yang paling mendapat sorotan.
Penjaga gawang berusia 29 tahun tersebut dinobatkan sebagai Most Valuable Player (MVP) atau pemain terbaik pertandingan.
Penghargaan itu diberikan setelah Emil tampil gemilang dan menggagalkan penalti Oman pada menit ke-37.
Meski mendapatkan penghargaan individu, Emil tetap menonjolkan kerja kolektif tim.
"Soal penalti, itu memang tugas seorang kiper. Saya hanya berusaha tetap fokus sepanjang pertandingan," ujar Emil seusai laga.
Ia juga mengingatkan bahwa Timnas Indonesia masih memiliki beberapa aspek yang perlu diperbaiki.
"Hari ini masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki di lini pertahanan. Tugas seorang kiper bukan hanya menjaga gawang, tetapi juga membantu menjaga standar permainan tim, terutama dalam bertahan," terangnya.
Menurut Emil, keberhasilan menjaga gawang tetap steril merupakan hasil kerja seluruh tim.
"Peran kiper memang sangat krusial, tetapi saya juga didukung oleh rekan-rekan setim yang luar biasa. Dalam pertandingan seperti ini, menjaga fokus selama 90 menit sangat penting," katanya.
Pelatih John Herdman juga memberikan pujian kepada Emil.
"Saat kami unggul 2-0 dan lawan mendapatkan penalti, situasinya bisa berubah jika mereka berhasil mencetak gol. Emil ada di sini untuk membantu tim dan kami harus percaya kepada pemain seperti dia," ujar Herdman.
Matthew Baker Cetak Rekor Baru
Malam bersejarah Indonesia semakin lengkap dengan lahirnya rekor baru dari pemain muda Matthew Baker.
Bek berusia 17 tahun 23 hari itu resmi menjadi pemain termuda sepanjang sejarah Timnas Indonesia senior.
Baker masuk pada menit ke-80 menggantikan kapten tim, Rizky Ridho.
Usai pertandingan, pemain muda tersebut mengaku sangat emosional menjalani debut bersama skuad Garuda senior.
"Perasaan ketika saya masuk sebagai pemain pengganti hari ini tidak terlukiskan. Bahkan sekarang, rasanya masih baru saja meresap," ujar Matthew Baker.
Atmosfer SUGBK yang dipenuhi suporter membuat momen tersebut semakin berkesan baginya.
"Saya pikir Anda bisa melihat saat kami menyanyikan 'Tanah Airku', semua emosi saya keluar. Saya sangat bahagia. Kata 'senang' saja tidak cukup," tambahnya.
Debut Baker menjadi simbol regenerasi yang sedang berjalan dalam tubuh Timnas Indonesia, di mana pemain muda mulai mendapatkan kesempatan tampil bersama para pemain berpengalaman di level internasional.
Indonesia Jadi Sorotan ASEAN
Kenaikan Timnas Indonesia ke posisi 118 dunia menjadikan Garuda sebagai salah satu tim yang paling diuntungkan pada FIFA Matchday kali ini di kawasan Asia Tenggara.
Sementara Indonesia naik empat peringkat, Thailand justru turun satu tingkat ke posisi 94 dunia setelah bermain imbang 2-2 melawan Kuwait.
Vietnam tetap berada di posisi ke-99 dunia, sedangkan Malaysia menempati peringkat 138 dan Filipina berada di posisi 135.
Adapun Singapura turun ke posisi 148 dunia, sementara Kamboja naik ke peringkat 176 setelah menang atas Bhutan.
Posisi terbaru negara-negara ASEAN per 5 Juni 2026 menempatkan Thailand di urutan teratas kawasan, disusul Vietnam dan Indonesia.
Meski masih berada di bawah Thailand dan Vietnam, laju kenaikan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif yang terus berlanjut.
Update Ranking FIFA Negara ASEAN
Per Jumat, 5 Juni 2026 malam WIB
94. Thailand: 1.250,77 poin (turun 1)
99. Vietnam: 1.225,68 poin
118. Timnas Indonesia: 1.151,44 poin (naik 4)
138. Malaysia: 1.086,22 poin
135. Filipina: 1.096,73 poin
148. Singapura: 1.057,95 poin (turun 1)
158. Myanmar: 1.011,88 poin
176. Kamboja: 916,24 poin (naik 1)
185. Laos: 885,03 poin
193. Brunei Darussalam: 863,09 poin
201. Timor Leste: 825,64 poin