Laporan Hasim Arfah
Wartawan Tribun-timur.com dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKKAH – Menunaikan ibadah haji bersama orang tua lanjut usia bukan perkara mudah.
Jarak tempuh yang panjang, cuaca panas, hingga padatnya aktivitas ibadah sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para pendamping jamaah lansia.
Namun bagi Anggi Hardiyanti, jamaah haji asal Jakarta, perjalanan hajinya tahun ini justru dipenuhi rasa syukur.
Ia mengaku merasakan banyak kemudahan saat mendampingi sang ibu, Sudarti Arjo Sudarmo yang merupakan pengguna kursi roda selama menjalani rangkaian ibadah haji.
Menurut Anggi, layanan yang diberikan selama musim haji tahun ini cukup memuaskan.
Mulai dari konsumsi, ketersediaan air, fasilitas mandi hingga toilet dinilai sangat membantu, khususnya bagi jamaah lansia dan penyandang disabilitas.
Baca juga: Tatapan Kosong Torani di Ujung Perjalanan Haji
“Alhamdulillah semuanya bagus. Makanan cukup, tempat mandi bagus, air juga tersedia. Untuk toilet juga lebih mudah karena banyak toilet duduk, sehingga sangat membantu ibu saya yang menggunakan kursi roda,” ujarnya di paviliun Bandara Internasional king Abdulaziz Jeddah, Jumat (5/6/2026).
Ia juga mengapresiasi fasilitas yang tersedia di Arafah, Muzdalifah, Mina, hingga Madinah.
Menurutnya, berbagai kebutuhan dasar jamaah terpenuhi dengan baik sehingga membantu kelancaran ibadah.
Anggi masih menemukan sejumlah lansia yang menjalani ibadah tanpa pendamping.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuat sebagian jamaah lanjut usia mengalami kesulitan saat berpindah tempat maupun menjalankan rangkaian ibadah.
“Saya masih melihat ada lansia yang tidak memiliki pendamping. Mereka cukup kesulitan beribadah, sementara petugas tentu memiliki keterbatasan karena harus melayani banyak jamaah,” katanya.
Pengalaman paling berkesan baginya adalah saat harus mendorong kursi roda sang ibu selama menjalani berbagai rangkaian ibadah, mulai dari tawaf, perjalanan menuju Masjidil Haram, hingga saat melaksanakan lontar jumrah.
Ia mengaku sempat membayangkan beratnya perjalanan tersebut. Namun kenyataan yang dirasakan justru berbeda.
“Secara logika, dengan kondisi badan saya yang cukup besar, harus berjalan jauh sambil mendorong kursi roda tentu sangat melelahkan. Tapi Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan. Semua terasa ringan,” tuturnya.
Menurut Anggi, setiap doa yang dipanjatkannya selama di Tanah Suci seolah mendapat jawaban.
Ia merasa diberi kekuatan dan kemudahan untuk mendampingi ibunya hingga seluruh rangkaian ibadah selesai dilaksanakan.
Momen yang paling menyentuh baginya terjadi saat wukuf di Arafah.
Di tempat yang dikenal sebagai lokasi mustajab untuk berdoa itu, ia memohon agar keluarga besarnya kelak mendapat kesempatan yang sama untuk menjadi tamu Allah.
“Doa saya di Arafah sederhana. Saya berharap anak, cucu, dan keluarga besar saya diberi kesempatan setiap tahun untuk diundang ke Baitullah, baik untuk berhaji maupun umrah,” ujarnya.