SURYA.CO.ID - Terungkap sosok 4 orang terduga pelaku pengeroyokan Thomas Julius Kristianto alias TJK (19) warga Kecamatan Tandes, Surabaya, hingga tewas pada Sabtu, 30 Mei 2026.
4 terduga pelaku yang disebut teman-teman korban itu sudah ditangkap jajaran Polrestabes Surabaya beberapa waktu lalu.
Mereka berinisial CJF, AAY, KVRL, dan RU.
Kabar ini diakui Kasi Humas Polrestabes Surabaya, AKP Hadi Ismanto saat dikonfirmasi pada Jumat (5/6/2026).
“Ya benar sudah diamankan empat orang (pelaku pengeroyokan hingga tewas). Berinisial CJF, AAY, KVRL, dan RU,” kata Hadi.
Baca juga: Tabiat Thomas Remaja Surabaya yang Tewas Dikeroyok Temannya, Foto Kemeja Putih Kenangan Terakhir
Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Raditya Herlambang juga membenarkan kabat penangkapan itu.
Dikatakan Raditya, pihaknya masih melakukan proses penyelidikan lebih lanjut. Oleh karena itu, dia masih belum bisa menjelaskan mengenai peristiwa kekerasan dengan korban jiwa tersebut.
“Masih lanjut pemeriksaan. Perkembangan selanjutnya diinfo humas (Polrestabes Surabaya),” ujar Raditya.
Sebelumnya penangkapan 4 terduga pelaku itu diungkap Ketua RT 01 RW 01, Manukan Kulon, Wijayanto Raharjo.
Dia tak menampik, beberapa orang terduga pelaku, merupakan teman satu sekolah korban.
"Benar 4 orang. Iya benar diamankan empat orang. Iya tadi pagi semuanya. 3 orang Ini 1 ada yang satu sekolah ada yang tidak. Ya itu menurut info yang saya terima," ujarnya saat ditemui di rumah duka korban.
Kakek korban, Margono (88), menceritakan detik-detik terakhir sebelum sang cucu mengembuskan napas terakhirnya di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.
Margono mengatakan, peristiwa memilukan ini bermula saat Thomas berpamitan kepadanya pada Sabtu, 30 Mei 2026, malam. Saat itu, menurut dia, Thomas hanya mengatakan ingin keluar rumah sebentar bersama seorang temannya.
Namun, hingga larut malam, Thomas tak kunjung kembali ke rumah. Sebaliknya, keluarga justru dikejutkan dengan kedatangan teman Thomas yang mengabarkan bahwa korban berada sebuah klinik.
"Pamitannya ke saya mau keluar sebentar. Keluar itu kok enggak pulang-pulang. Tahu-tahu temannya ke sini mengabarkan Thomas ada di dokter Danu," ujar Margono kepada Kompas.com saat ditemui di kediamannya, Jumat.
Saat pihak keluarga menyusul, kondisi Thomas sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan luka parah di bagian kepala.
"Sudah enggak sadar, terluka di kepalanya," kata Margono dengan nada sedih.
Karena klinik tersebut merupakan rumah sakit bersalin, korban harus segera dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar.
Setelah sempat kesulitan mencari ambulans, Thomas akhirnya dilarikan ke RSUD Dr. Soetomo untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Naas, nyawa pemuda berusia 19 tahun itu tidak tertolong setelah menjalani beberapa operasi.
"Meninggal setelah dioperasi pagi tadi sekitar jam 05.00 WIB," pungkas Margono.
Thomas diketahui sudah tidak memiliki orang tua sejak kecil.
Bungsu dari empat bersaudara ini diasuh oleh tante, kakek dan neneknya di daerah Manukan Yoso II, Kota Surabaya.
Thomas diketahui baru lulus dari SMA negeri di kawasan Jalan Manukan Madya Kota Surabaya.
Belum juga sempat mengambil ijazah kelulusan sekolahnya, dia sudah meninggal karena dikeroyok teman-temannya.
Nia Sanjaya, sahabat mendiang ibu Thomas mengungkapkan, korban berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Rencananya, korban hendak mendaftarkan diri untuk memperoleh beasiswa yang difasilitasi oleh pihak sekolah.
Beberapa waktu lalu, korban sudah berusaha mempersiapkan segala sesuatunya untuk mendaftarkan diri memperoleh beasiswa.
Bahkan, korban sempat berfoto dengan kemeja warna putih untuk dicetak dalam berkas pendaftaran beasiswa.
Namun, takdir berkata lain, Nia tak menyangka bahwa foto yang hendak dipakai mendaftar beasiswa kuliah menjadi foto yang dipajang pada peti pemakaman korban di rumah duka.
"Dia tanya-tanya ke kakak-kakaknya itu bagaimana cara pengurusannya. Setelah itu si Thomas itu kan minta foto. Minta foto pakai kemeja warna putih katanya untuk persiapan untuk pendaftaran kuliah. Setelah foto dicetak. Ternyata fotonya malah untuk yang dipeti," katanya seraya menahan tangis.
Nia Sanjaya mengetahui betul bagaimana masa kecil Thomas hingga remaja dan saat ini lulus SMA.
Dikatakan Nia, Thomas anak yang sopan. Setiap bertemu dengan para tetangga atau ibu-ibu rumah tangga yang sedang duduk di depan rumah, korban selalu menyapa.
Baca juga: Sosok Remaja Surabaya yang Tewas Dikeroyok Temannya Gara-gara Sandal Ternyata Tak Punya Orang Tua
"Kalau dengan pihak-pihak ibu-ibu yang ada di sini dia tuh sopan gitu loh. Ya sangat disayangkan sampai terjadi seperti ini gitu loh," ujarnya saat ditemui surya.co.id, Kamis (4/6/2026).
Selama ini, korban tidak pernah membuat permasalahan dengan para warga atau para tetangga sekitar permukiman rumahnya. Bahkan, korban memiliki kepribadian yang cenderung baik
"Setahu saya Thomas itu enggak pernah bikin masalah yang bagaimana bagaimana sewajarnya anak-anak remaja gitu. Tapi bagi saya Thomas pribadi yang baik. Pendiam," ujarnya saat ditemui TribunJatim.com di dekat rumah duka, pada Kamis (4/6/2026).
Sementara itu, kakak sulung korban Hana Novia Kristiani (32) mengakui adiknya memiliki kepribadian pendiam atau cenderung introvert.
Namun, sang adik masih bisa mengakrabkan diri dengan orang lain. Itulah mengapa sang adik memiliki banyak teman.
"Jadi sekalipun dia introvert tapi dia ini banyak disukai sama orang-orang. Bahkan orangtuanya teman-temannya itu biasanya itu suka kalau misalnya Thomas itu main atau tidur di rumahnya temannya," katanya saat ditemui awak media di rumah duka.