Anak Muda Babel Jangan Tergiur Kaya Instan dari Investasi Saham
Fitriadi June 06, 2026 11:03 AM

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Institut Sains dan Bisnis (ISB) Atma Luhur Pangkalpinang, Henki mengatakan perguruan  tinggi memiliki peran penting dalam memperluas edukasi literasi keuangan, khususnya di bidang investasi pasar modal bagi generasi muda.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan kampus adalah membentuk Galeri Investasi (GI) sejak 2017 sebagai wadah edukasi dan pengenalan dunia investasi kepada mahasiswa maupun masyarakat.

"Kita sadar bahwa literasi keuangan di Bangka Belitung memang masih berbeda dibanding kota besar. Karena itu, kampus hadir menjadi salah satu pencetus edukasi literasi keuangan, terutama investasi," kata Hengki saat diwawancara Bangkapos.com.

Baca juga: Rugi Tak Bikin Kapok, Geliat Anak Muda Bangka Belitung Main Saham

Hengki menjelaskan keberadaan Galeri Investasi tidak hanya menyasar mahasiswa di lingkungan kampus, tetapi juga menjangkau siswa sekolah menengah atas dan kejuruan.

Melalui program edukasi tersebut, ISB Atma Luhur bahkan telah membina sejumlah sekolah guna mengenalkan pentingnya pengelolaan keuangan dan investasi sejak usia muda.

Baca juga: Modal Awal Investasi di Pasar Modal Terjangkau Jadi Pilihan Gen Z dan Milenial Babel

"Anak-anak SMA dan SMK mulai kita ajarkan tentang literasi keuangan. Tujuannya supaya generasi muda memahami cara mengelola uang dengan benar dan tidak terjebak pada hal-hal negatif seperti judi online," kata Hengki.

Edukasi investasi, kata Hengki, menjadi penting karena banyak anak muda saat ini dihadapkan pada berbagai tawaran keuangan digital yang belum tentu aman. 

Karena itu, lanjut Hengki, pemahaman dasar mengenai investasi legal dan berizin harus terus diperkuat.

Galeri Investasi yang ada di kampus berada di bawah pengawasan langsung Bursa Efek Indonesia (BEI) sehingga aktivitas edukasi dan pembinaannya berjalan secara terarah.

"Galeri investasi ini dilindungi dan dibina langsung oleh Bursa Efek Indonesia. Jadi kegiatan yang dilakukan juga terkontrol, tidak sembarangan, dan ada pengawasan," kata Hengki.

Ia mengatakan kesadaran mahasiswa untuk mulai berinvestasi saat ini perlahan tumbuh. Fenomena mahasiswa yang mulai menyisihkan uang jajan untuk membeli saham, menjadi indikator bahwa generasi muda mulai memikirkan pengelolaan keuangan jangka panjang.

"Kalau kita lihat, mahasiswa sekarang mulai tergerak untuk berinvestasi. Pergerakan investor muda sudah mulai tumbuh. Meski demikian, saya berharap anak muda agar tidak memiliki ekspektasi keliru terhadap investasi saham," kata Hengki.

Ia mengingatkan investasi bukan jalan pintas untuk menjadi kaya dalam waktu singkat. Kesalahan terbesar adalah berpikir investasi itu untuk cepat kaya. Itu mindset yang harus diluruskan. Investasi perlu proses, belajar, dan memahami risiko.

Pemula untuk memperbanyak literasi sebelum mulai menempatkan uang di instrumen investasi. Sebab, keputusan investasi yang terburu-buru tanpa pemahaman cukup berpotensi menimbulkan kerugian.

"Jangan langsung dieksekusi sebelum belajar. Ini uang sungguhan yang digunakan, jadi harus dipahami dulu. Belajar dari pengalaman orang lain dan pahami instrumennya," kata Hengki.

Hengki menegaskan kalau ada tawaran untung besar secara cepat, itu perlu diwaspadai. Investasi pasti ada risiko, ada momentum untung dan rugi. Yang penting pastikan platform atau tempat investasinya legal dan dilindungi OJK.

"Di tengah meningkatnya minat investasi generasi muda, peran kampus, komunitas pasar modal, serta edukasi keuangan dinilai menjadi fondasi penting agar tren positif tersebut tidak hanya menjadi fenomena sesaat, tetapi benar-benar melahirkan investor muda yang bijak dan melek risiko," kata Hengki. (t2)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.