TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Lengkap komentar juri soal Debat Pelajar Demokrasi di Nunukan yang membahas Pilkada lewat DPRD.
Mosi kontroversial tentang Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada melalui DPRD, sukses memanaskan Grand Final Kompetisi Debat Pelajar Demokrasi ke-4 tingkat SMA/MA se-Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, pada Jumat (5/6/2026) kemarin.
Dua tim terbaik, Rosita Institute dari SMA Negeri 1 Nunukan dan Smansa Synergy dari SMA Negeri 1 Sebatik, terlibat adu argumentasi sengit di hadapan dewan juri, dan ratusan peserta yang memadati Lantai V Kantor Bupati Nunukan.
Sejak awal debat dimulai, suasana langsung memanas.
Kedua tim saling melontarkan data, fakta, hingga sanggahan tajam terkait sistem pemilihan kepala daerah yang hingga kini masih menjadi perdebatan di Indonesia.
Baca juga: Smansa Synergy SMAN 1 Sebatik Juara Debat Pelajar Demokrasi Nunukan, Menang Telak di Final
Tim Rosita Institute yang berada di kubu pro, menilai pemilihan kepala daerah melalui DPRD dapat menghasilkan pemimpin yang lebih memahami kebutuhan daerah, karena dipilih oleh wakil rakyat yang mengetahui kondisi masyarakat secara langsung.
Sementara itu, Tim Smansa Synergy yang berada di kubu kontra menegaskan bahwa hak rakyat untuk memilih pemimpinnya secara langsung tidak boleh dikurangi.
Menurut mereka, pemilihan langsung merupakan bentuk nyata kedaulatan rakyat dalam sistem demokrasi.
Adu argumentasi yang berlangsung selama beberapa sesi itu, tak jarang mengundang tepuk tangan dan sorakan dari para pendukung masing-masing tim.
Beberapa kali peserta berhasil memancing decak kagum, karena mampu menyampaikan pandangan secara kritis layaknya politisi dan akademisi.
Penampilan kedua tim bahkan mendapat perhatian khusus dari salah satu juri, anggota DPRD Nunukan, Saddam Husein.
Menurut Saddam Husein, kemampuan para pelajar dalam memahami isu demokrasi dan politik jauh di atas ekspektasinya.
"Perdebatan yang ditunjukkan kedua tim cukup epik.
Tingkat pemahaman mereka terkait demokrasi dan dinamika politik sudah sangat luar biasa.
Saya melihat anak-anak muda ini memiliki keberanian dan kemampuan berpikir kritis yang patut diapresiasi," ujar Saddam Husein.
Baca juga: Pilkada Dipilih DPRD atau Rakyat? Grand Final Debat Pelajar Demokrasi di Nunukan Memanas
Meski memberikan pujian, Saddam Husein juga menyoroti beberapa aspek yang masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal retorika dan teknik penyampaian argumentasi.
Ia menilai sebagian peserta masih terlalu cepat berbicara, karena terpaku pada batas waktu yang diberikan.
"Mereka sebenarnya memiliki argumen yang kuat.
Hanya saja ritme berbicara dan artikulasi masih perlu diperbaiki, agar pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami," kata Saddam Husein.
Saddam menegaskan kegiatan debat demokrasi sangat penting untuk membentuk generasi muda yang melek politik, di tengah meningkatnya jumlah pemilih pemula setiap tahunnya.
Menurut Saddam Husein, anak muda tidak boleh bersikap apatis, karena hampir seluruh kebijakan publik yang dirasakan masyarakat lahir dari keputusan politik.
"Jangan sampai generasi muda buta politik.
Semua kebijakan, baik di tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional, ditentukan melalui proses politik.
Karena itu pemahaman politik harus ditanamkan sejak dini," tegas Saddam Husein
Kompetisi Debat Pelajar Demokrasi yang digelar Bawaslu Nunukan tersebut, menjadi salah satu wadah bagi pelajar untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, berbicara di depan publik, serta memahami dinamika demokrasi yang berkembang di Indonesia.
(*)
Penulis: Fatimah Majid