Jalan Rusak di Krayan Selatan Nunukan, Harga Sembako Naik 30 Persen, Camat Sebut BBM Ikut Langka
Amiruddin June 06, 2026 12:14 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Gegara akses jalan yang rusak parah di Krayan Selatan, Nunukan, harga sembako naik hingga 30 Persen, dan BBM pun semakin langka.

Krayan Selatan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, 

Lokasinya Krayan Selatan terletak di wilayah perbatasan RI-Malaysia.

Rusaknya akses jalan yang berdampak pada kenaikan harga sembako dan BBM yang semakin  langka, diungkap langsung Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli. 

Rusaknya akses jalan penghubung antarwilayah, membuat harga kebutuhan pokok melonjak hingga 30 persen, sementara pasokan BBM semakin langka.

Dampak kerusakan jalan bahkan membuat perjalanan yang biasanya hanya membutuhkan waktu satu hingga dua jam, kini bisa memakan waktu hingga enam hari.

Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli, mengungkapkan buruknya infrastruktur jalan telah memukul aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan RI-Malaysia tersebut.

"Kenaikan harga kebutuhan pokok saat ini berkisar 20 sampai 30 persen.

Penyebab utamanya karena jalan darat rusak, dan ada yang putus, sehingga distribusi barang menjadi terhambat," kata Oktavianus Ramli.

 

Kondisi jalan rusak parah di wilayah Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan
JALAN RUSAK PARAH - Kondisi jalan rusak parah di wilayah Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, membuat perjalanan yang biasanya ditempuh 1-2 jam kini memakan waktu hingga 6 hari. Dampaknya, harga sembako melonjak, BBM langka, dan 13 desa mengalami kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok. (TribunKaltara.com/Istimewa-Camat Krayan Selatan-Oktavianus Ramli)

 

Baca juga: Hujan Ekstrem, Jalan di Krayan Selatan Jadi Kubangan Lumpur, 90 Persen Barang dari Malaysia Terhenti

 

Mobil Rusak di Tengah Hutan

Oktavianus menjelaskan, akses darat dari Long Layu menuju Krayan Barat, dan Long Bawan, yang selama ini menjadi jalur utama distribusi barang kini nyaris lumpuh.

Para sopir harus menghadapi jalan berlumpur, tanjakan rusak, hingga kendaraan yang sering mogok di tengah perjalanan.

Tak jarang mereka terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer, untuk mencari bantuan maupun suku cadang kendaraan.

"Dulu perjalanan hanya satu sampai dua jam.

Sekarang bisa enam hari baru sampai tujuan.

Banyak mobil rusak di jalan, dan sopir harus mencari bantuan sendiri," ujar Oktavianus Ramli.

Kondisi itu membuat pasokan barang dari luar daerah terlambat masuk ke Krayan Selatan.

Ketika stok menipis, harga barang di tingkat pedagang pun ikut meroket.

BBM Langka, Harga Melonjak 

Salah satu kebutuhan yang paling sulit didapatkan saat ini adalah bahan bakar minyak ( BBM ).

Hampir tidak ada lagi kendaraan yang mampu mengangkut BBM ke Krayan Selatan, karena medan jalan yang semakin sulit dilalui.

Akibatnya, harga BBM yang sebelumnya sekitar Rp15 ribu per liter kini melonjak menjadi Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per liter.

Tak hanya BBM, harga gula yang sebelumnya Rp25 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp28 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram.

Sementara harga semen yang biasanya sekitar Rp280 ribu per sak, kini menembus Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per sak.

"BBM sekarang sangat langka.

Sebagian pasokan berasal dari Malaysia, tetapi distribusinya tetap harus melewati jalan darat yang rusak parah," jelas Oktavianus Ramli, kepada TribunKaltara.com, Sabtu (6/6/2026).

 

AKSES KRAYAN - Kondisi jalan di Krayan Selatan yang rusak parah akibat hujan ekstrem, tampak berlumpur, tergenang air, dan sulit dilalui kendaraan. Akses transportasi di wilayah perbatasan ini dilaporkan lumpuh dan berdampak pada aktivitas warga.(TribunKaltara.com/Istimewa-Camat Krayan Selatan
AKSES KRAYAN - Kondisi jalan di Krayan Selatan yang rusak parah akibat hujan ekstrem, tampak berlumpur, tergenang air, dan sulit dilalui kendaraan. Akses transportasi di wilayah perbatasan ini dilaporkan lumpuh dan berdampak pada aktivitas warga.(TribunKaltara.com/Istimewa-Camat Krayan Selatan (HO-Oktavianus Ramli)

 

13 Desa Terancam Krisis Pasokan Barang

Kondisi ini berdampak langsung terhadap 13 desa yang berada di wilayah Krayan Selatan.

Warga mulai kesulitan mendapatkan berbagai kebutuhan pokok seperti BBM, minyak goreng, gula, hingga barang kebutuhan sehari-hari lainnya.

Sebagai alternatif, distribusi barang hanya mengandalkan angkutan udara yang terbang satu kali dalam sepekan dari Nunukan, Tarakan, dan Malinau.

Namun kapasitas angkut pesawat yang hanya sekitar 700 kilogram, membuat pasokan barang belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ditambah lagi biaya pengiriman mencapai Rp20 ribu per kilogram, sehingga harga barang menjadi semakin mahal.

Beras Adan Tak Bisa Keluar 

Tak hanya barang yang sulit masuk, hasil pertanian warga juga sulit dipasarkan keluar daerah.

Beras Adan Krayan yang selama ini menjadi andalan ekonomi masyarakat, kini terhambat distribusinya karena tingginya biaya angkut.

Jika sebelumnya ongkos pengiriman hanya sekitar Rp2.500 per kilogram, kini naik menjadi Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram.

Akibatnya, daya beli masyarakat ikut menurun karena pendapatan petani berkurang.

"Kami melihat dampaknya sangat besar terhadap ekonomi masyarakat karena hasil pertanian sulit dijual keluar," kata Oktavianus Ramli

Minta Pemerintah Segera Bertindak

Melihat kondisi yang semakin berat, Pemerintah Kecamatan Krayan Selatan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, hingga instansi terkait agar persoalan ini segera mendapat perhatian.

Oktavianus Ramli berharap perbaikan jalan menuju Krayan Selatan menjadi prioritas pemerintah karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat di wilayah perbatasan.

"Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah, provinsi hingga pusat.

Jika akses jalan diperbaiki, distribusi barang akan lancar, harga bisa kembali stabil dan kesejahteraan masyarakat meningkat," pungkas Oktavianus Ramli.

(*)

Penulis: Fatimah Majid

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.