ANAMBAS, TRIBUNBATAM.id - Kesulitan nelayan mendapatkan solar subsidi di Kabupaten Kepulauan Anambas mulai berdampak pada harga ikan di pasaran.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah jenis ikan mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan di Pasar Ikan Tarempa Barat, Kecamatan Siantan.
Pantauan TRIBUNBATAM.id pada Sabtu (6/6/2026) pagi menunjukkan para pedagang menjual ikan dengan harga lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya.
Salah satu jenis ikan yang mengalami kenaikan adalah ikan Manyuk atau Cermin ukuran sedang. Saat ini ikan tersebut dijual sekitar Rp35 ribu per ekor.
Sebelumnya, pembeli masih bisa mendapatkan tiga ekor ikan Manyuk ukuran sedang dengan harga sekitar Rp50 ribu. Kenaikan ini membuat harga per ekor menjadi jauh lebih mahal dibandingkan biasanya.
Selain Manyuk, harga ikan Tongkol Hitam juga ikut naik. Saat ini pedagang menjualnya seharga Rp35 ribu per ekor.
Padahal beberapa hari lalu harga ikan Tongkol Hitam masih berada di kisaran Rp25 ribu per ekor.
Kenaikan mencapai Rp10 ribu per ekor tersebut mulai dirasakan masyarakat yang rutin membeli ikan untuk kebutuhan sehari-hari.
Kenaikan lebih tinggi terjadi pada ikan Tongkol Putih. Saat ini harga ikan tersebut mencapai Rp60 ribu per ekor.
Biasanya ikan Tongkol Putih dijual di kisaran Rp40 ribuan per ekor. Dengan kondisi sekarang, harga ikan naik sekitar Rp20 ribu dibandingkan harga normal.
Salah seorang pedagang ikan di Pasar Tarempa Barat, Fahmi, mengatakan kenaikan harga sudah terjadi selama empat hari terakhir.
"Sudah empat hari ini harga ikan naik. Untuk jenis ikan ya enggak banyak, cuma Tongkol dan Manyuk saja," ujar Fahmi.
Menurut Fahmi, pedagang sebenarnya tidak ingin menaikkan harga. Namun kenaikan harga sudah terjadi sejak tingkat nelayan sehingga pedagang tidak memiliki banyak pilihan.
"Dari kami sebenarnya enggak mau naikkan harga. Mau tidak mau terpaksa naik, karena dari nelayan sudah mahal harganya," katanya.
Ia menjelaskan, nelayan menaikkan harga jual ikan karena biaya operasional melaut meningkat akibat sulit memperoleh solar subsidi.
Akibat kondisi tersebut, sebagian nelayan terpaksa membeli bahan bakar dengan harga lebih tinggi agar tetap bisa melaut dan mencari ikan.
"Yang melaut pun nelayan yang bisa beli solar dengan harga lebih tinggi. Ada yang beli solar Rp10 ribu per liter. Mau tidak maulah bang," ucap Fahmi.
Selain harga yang meningkat, pasokan ikan di pasar juga mulai berkurang. Banyak nelayan memilih tidak melaut karena kesulitan mendapatkan bahan bakar dengan harga yang terjangkau.
Sementara itu, salah seorang pembeli, Zahra, mengaku cukup terbebani dengan kenaikan harga ikan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, ikan merupakan kebutuhan pokok yang hampir setiap hari dikonsumsi keluarganya maupun pelanggan warung makannya.
"Kami yang beli tentu terasa juga. Biasanya bisa dapat beberapa ekor dengan harga tertentu, sekarang jumlahnya lebih sedikit karena harganya naik," kata Zahra.
Zahra yang juga mengelola warung makan di Tarempa mengaku harus mengurangi porsi menu berbahan dasar ikan dan lebih selektif dalam membeli stok agar biaya operasional usahanya tetap terkendali.
Ia berharap pasokan solar subsidi untuk nelayan segera kembali lancar sehingga nelayan bisa melaut seperti biasa, pasokan ikan kembali normal, dan harga di pasaran dapat turun sehingga tidak memberatkan masyarakat maupun pelaku usaha kecil.(IHSAN IMADUDDIN/TRIBUNBATAM.id)