TRIBUNBATAM.id, BATAM – Suasana berbeda dirasakan puluhan mahasiswa Universitas Batam (Uniba) saat mengikuti kuliah lapangan di Museum Raja Ali Haji Batam, Jumat (5/6/2026).
Tidak hanya belajar dari buku dan ruang kelas, mereka diajak menelusuri langsung jejak sejarah, budaya, serta perjalanan panjang peradaban di Provinsi Kepulauan Riau.
Kegiatan tersebut dipandu oleh dosen pengampu mata kuliah, Dr. Agus Siswanto Siagian, S.H., M.H., yang mendampingi mahasiswa selama kunjungan sekaligus memberikan pemahaman mengenai pentingnya sejarah sebagai fondasi pembentukan identitas bangsa.
Menurut Dr. Agus Siagian, kuliah lapangan merupakan metode pembelajaran yang dirancang untuk memperkuat pemahaman mahasiswa melalui pengalaman nyata di lapangan.
"Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami sejarah perjuangan bangsa Indonesia sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya Melayu sebagai bagian dari identitas bangsa," ujarnya.
Ia menjelaskan, pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman langsung menjadi salah satu cara efektif untuk menghubungkan teori yang dipelajari di kelas dengan realitas sejarah yang ada di masyarakat.
"Pada setiap mata kuliah yang saya ampu, saya berupaya menghadirkan pembelajaran yang aplikatif melalui kuliah lapangan. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga dapat melihat secara langsung berbagai peninggalan sejarah, artefak, serta memahami proses lahirnya Provinsi Kepulauan Riau," katanya.
Dr. Agus berharap program serupa dapat terus dilaksanakan dan melibatkan lebih banyak mahasiswa, baik dari Program Studi Ilmu Hukum maupun Program Studi Manajemen dan Akuntansi Universitas Batam.
Selama berada di museum, para mahasiswa tampak antusias mengikuti pemaparan yang disampaikan pemandu Museum Raja Ali Haji Batam, Raja Zunesti. Berbagai materi sejarah disampaikan, mulai dari masa Kesultanan Riau-Lingga hingga perkembangan Batam menjadi kawasan industri, perdagangan, dan investasi bertaraf internasional.
Salah seorang mahasiswa, Alya Maitsa Karnia Ginting, mengaku mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda melalui kegiatan tersebut.
"Menurut saya, kuliah lapangan jauh lebih menarik dibandingkan hanya belajar di dalam kelas. Berbicara tentang hukum di Tanah Melayu tentu tidak dapat dilepaskan dari akar sejarah dan peradaban yang melatarbelakanginya," ungkap Alya.
Hal senada disampaikan Muhammad Aqila Al Ghazanfar. Ia menilai kuliah lapangan mampu membuka wawasan mahasiswa sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap sejarah dan budaya daerah.
"Kegiatan ini memberikan wawasan yang lebih luas serta mendorong mahasiswa untuk lebih memahami sejarah dan kekayaan budaya yang dimiliki Provinsi Kepulauan Riau," katanya.
Melalui kegiatan tersebut, Universitas Batam kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga pengalaman nyata. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan memiliki wawasan kebangsaan yang lebih kuat serta tumbuh rasa cinta terhadap sejarah dan budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa.(*)