Semakin Agresif, Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-Mata Israel ke Tingkat Tertinggi
Febri Prasetyo June 06, 2026 04:35 PM

TRIBUNNEWS.COM - Pentagon telah menaikkan penilaian ancaman kontra-intelijennya terhadap Israel ke tingkat tertinggi.

Keputusan Pentagon ini karena kekhawatiran tentang spionase Israel yang semakin agresif yang menargetkan pejabat Amerika Serikat (AS), demikian dilaporkan NBC News pada Jumat (5/6/2026).

Badan Intelijen Pertahanan (DIA) mengeluarkan penilaian baru dalam beberapa pekan terakhir, menaikkan status ancaman Israel menjadi "kritis," menurut dua pejabat AS saat ini dan satu mantan pejabat AS yang dikutip oleh jaringan tersebut.

Langkah tersebut berawal dari kekhawatiran bahwa Israel secara khusus berupaya memantau pejabat senior AS untuk mendapatkan wawasan tentang pertimbangan internal pemerintahan Trump mengenai konflik di Timur Tengah.

Mengutip pejabat saat ini, laporan tersebut mencatat bahwa penilaian DIA mencakup dokumen setebal tujuh halaman yang mengidentifikasi insiden spesifik yang meningkatkan kekhawatiran AS.

Peningkatan kewaspadaan ini terjadi ketika Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berselisih mengenai perang dengan Iran dan operasi militer Israel di Lebanon, termasuk percakapan telepon yang tegang pekan lalu.

Israel sangat tertarik untuk mengetahui apakah Trump memutuskan untuk melanjutkan operasi tempur besar-besaran terhadap Iran atau mengejar penyelesaian perang melalui negosiasi.

Kedutaan Besar Israel di Washington membantah laporan tersebut, dengan mengatakan bahwa "sama sekali tidak benar" bahwa Israel melakukan pengumpulan intelijen terhadap pejabat pemerintah AS.

Sementara itu, Pentagon menolak berkomentar.

Baca juga: Hizbullah Tolak Gencatan Senjata antara Lebanon dan Israel

Emily Harding, wakil presiden Departemen Pertahanan dan Keamanan di Pusat Studi Strategis dan Internasional, menggambarkan Israel sebagai negara yang memiliki "dinas intelijen yang sangat agresif."

Isu Perseteruan AS-Israel

Percakapan telepon yang penuh amarah dari Presiden AS Donald Trump ke Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bocor ke publik.

Laporan yang bersumber secara anonim menyebar dengan cepat di media internasional.

Axios melaporkan pada Senin (1/6/2026) bahwa Trump menyebut Netanyahu "sangat gila" dan mencaci maki dia atas peningkatan ketegangan Israel di Lebanon.

Pada waktu yang hampir bersamaan, serangan Israel menewaskan enam orang, termasuk dua anak, di kota al-Marwaniyah, Lebanon selatan.

Para ahli mengatakan bahwa terlepas dari bocoran perselisihan dan kata-kata kasar antara Trump dan Netanyahu, pada akhirnya kebijakanlah yang terpenting, dan kebijakan tersebut hampir tidak berubah.

Baca juga: Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan Empat Orang, Ribuan Warga Mengungsi

TRUMP DAN NETANYAHU - Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara secara pribadi di Ruang Vermeil sebelum makan malam, Senin, 7 Juli 2025, di Gedung Putih. (Foto Resmi Gedung Putih oleh Daniel Torok)
TRUMP DAN NETANYAHU - Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara secara pribadi di Ruang Vermeil sebelum makan malam, Senin, 7 Juli 2025, di Gedung Putih. (Foto Resmi Gedung Putih oleh Daniel Torok) (Dok White House)

Direktur kebijakan di National Iranian American Council Action (NIAC), Ryan Costello, mengatakan pengamat politik semakin "mengejek" laporan tentang kemarahan tertutup dari Trump terhadap Netanyahu.

“Yang benar-benar penting adalah apa yang sebenarnya terjadi dalam praktiknya,” kata Costello kepada Al Jazeera, Selasa (2/6/2026).

Costello berpendapat bahwa kebocoran percakapan tersebut kemungkinan besar ditujukan kepada Iran.

“Saya melihat ini terutama sebagai sinyal kepada Iran bahwa Trump serius, dan dia ingin memisahkan apa yang terjadi di Lebanon dan serangan Israel dari negosiasi Iran,” kata Costello.

“Masih perlu dilihat sejauh mana kecaman itu benar-benar telah menyebabkan perubahan kebijakan Israel, dan saya pikir ada insentif yang kuat bagi Netanyahu untuk terus menentang," jelasnya.

Sementara itu, Axios membela liputannya.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.