Dampak Rupiah Melemah Mulai Terasa di Perawatan Otomotif, Harga Oli dan Ban Naik Drastis 
Haorrahman June 06, 2026 04:55 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Melemahnya rupiah mulai berdampak pada harga sejumlah produk perawatan otomotif di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Kenaikan paling terasa terjadi pada oli mesin dan ban sepeda motor yang mengalami lonjakan harga cukup signifikan.

Sejumlah produk di Toko Zico Jaya di Jalan Moh Yamin, Lumajang mengalami penyesuaian harga mulai Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per item.

Kasir Toko Zico Jaya, Ardi, mengatakan kenaikan harga oli dan ban motor terjadi cukup drastis dibandingkan periode sebelumnya.

"Naiknya harga oli dan ban luar sepeda motor, naiknya gila-gilaan," kata Ardi, Sabtu (6/6/2026).

Baca juga: Rupiah Melemah, Harga Obat-Obatan Mulai Naik dalam Sebulan Terakhir

Menurut Ardi, produk pelumas yang naik paling tinggi adalah oli AHM MPX Matic, dari sekitar Rp 62 ribu menjadi Rp 90 ribu per botol.

Ia menyebut kenaikan mulai terjadi sejak pertengahan Mei 2026, bertepatan dengan melemahnya rupiah.

"Kalau oli Federal tidak signifikan kenaikannya, paling cuma naik Rp10 ribu. Sebelumnya Rp55 ribu sekarang Rp 65 ribu," ujarnya.

Selain itu, oli Deltalube ukuran 800 mililiter juga mengalami kenaikan dari Rp100 ribu menjadi Rp115 ribu. Sementara untuk oli Castrol Matic, hingga saat ini masih dijual dengan harga lama.

"Untuk Castrol tidak naik. Yang paling tinggi naik ya Deltalube, AHM, dan Federal," tambahnya.

Baca juga: Rupiah Rp 17.858 per Dolar, Produsen Tahu Tertekan, Kedelai Mahal Tapi Tak Berani Naikkan Harga

Harga Ban Motor Rp 300 Ribu

Tak hanya oli, kenaikan harga juga terjadi pada ban luar sepeda motor. Ardi menyebut produk ini menjadi komoditas otomotif yang mengalami lonjakan harga paling mencolok.

Sebelumnya, ban luar dijual sekitar Rp275 ribu per unit. Kini harga rata-rata sudah berada di atas Rp 300 ribu, bahkan beberapa merek mencapai Rp 325 ribu.

"Sekarang sudah tidak ada ban luar harganya di bawah Rp 300 ribu. Kalau ban dalam naiknya cuma Rp3 ribu sampai Rp 5 ribu," jelasnya.

Ardi mengatakan toko hanya menyesuaikan harga dari distributor atau pemasok. Karena itu, pihaknya tidak mengetahui secara pasti faktor yang menyebabkan kenaikan harga selain adanya penyesuaian dari supplier.

"Kalau penyebabnya naik tidak tahu. Soalnya dari supplier, kami hanya menyesuaikan saja," katanya.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah, Petani Jamur di Pasuruan Belum Merasakan Dampak Signifikan

Konsumen Mulai Beralih

Kenaikan harga turut memengaruhi perilaku konsumen. Sejumlah pelanggan yang sebelumnya menggunakan oli premium kini mulai beralih ke produk dengan harga lebih terjangkau.

Menurut Ardi, pengguna oli AHM menjadi kelompok yang paling banyak melakukan perpindahan merek karena selisih harga yang cukup besar.

"Banyak yang biasanya pakai AHM beralih ke Federal karena harganya lebih terjangkau. Kalau AHM naiknya sangat tajam," tuturnya.

Meski demikian, hingga saat ini belum terlihat dampak signifikan terhadap volume penjualan. Pihak toko masih menunggu hasil rekapitulasi penjualan bulanan untuk mengetahui pengaruh kenaikan harga terhadap permintaan pasar.

"Sementara masih tergolong stabil. Cuma banyak pelanggan yang komplain karena harga oli semakin mahal," imbuhnya.

Salah satu pelanggan, Fathur, mengaku terkejut saat mengetahui harga oli langganannya naik cukup tinggi. Akibatnya, ia terpaksa kembali ke rumah untuk mengambil tambahan uang sebelum melakukan penggantian oli.

Biasanya, ia membeli oli AHM dengan harga sekitar Rp 65 ribuan. Namun saat datang ke toko, harga produk tersebut sudah mencapai Rp 90 ribu.

"Biasa pakai AHM harganya Rp 65 ribuan. Saat sampai ternyata Rp90 ribu. Jadi saya balik untuk ambil uang lagi. Mau ganti oli lain, eman nanti berdampak ke mesin," ujar pengemudi ojek online tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.