Dari Salad hingga Es Jeruk, QRIS BRI Jadi Penopang UMKM Pangkalpinang Go Digital
Asmadi Pandapotan Siregar June 06, 2026 06:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Di tengah geliat usaha kuliner Kota Pangkalpinang, transformasi digital perlahan tak lagi menjadi milik usaha besar semata. Dari gerai salad modern di pusat kota hingga lapak sederhana penjual es jeruk di pinggir jalan, teknologi pembayaran non tunai kini menjadi bagian penting dalam denyut usaha harian pelaku UMKM.

Di atas meja kasir gerai SaladBell di Jalan KH Abdul Hamid, Kota Pangkalpinang, sebuah barcode QRIS dari BRI terpajang jelas, siap melayani transaksi pelanggan yang datang silih berganti.

Bagi sang owner, Belly (26), kehadiran QRIS BRI bukan sekadar alat pembayaran digital, tetapi juga menjadi instrumen yang membantu dirinya mengontrol usaha yang kini terus berkembang.

Usaha salad sehat yang dirintisnya itu kini telah memiliki empat cabang di Kota Pangkalpinang. Terbaru, SaladBell membuka store baru di kawasan Gedung Nasional dan tetap memilih menggunakan QRIS BRI sebagai sistem pembayaran digital utama.

"Alhamdulillah kita buka store baru di Gedung Nasional, dan tentu pakai QRIS BRI. Kita sudah sempat pakai QRIS bank lain, tapi memang BRI yang memberikan kenyamanan," ujar Belly kepada Bangkapos.com, Sabtu (6/6/2026).

Menurut dia, salah satu keunggulan yang paling dirasakan adalah kemudahan memantau transaksi secara langsung melalui aplikasi merchant BRI.

Setiap transaksi pelanggan yang menggunakan QRIS, kata Belly, dapat terpantau secara real time. Bahkan, notifikasi pembayaran langsung masuk melalui WhatsApp sehingga memudahkan pemilik usaha mengetahui uang yang telah diterima, meski tidak sedang berada di lokasi usaha.

Tampak depan gerai Salad Sayur Bell, Jalan KH Abdul Hamid, Kota Pangkalpinang, Sabtu (6/6/2026).
Tampak depan gerai Salad Sayur Bell, Jalan KH Abdul Hamid, Kota Pangkalpinang, Sabtu (6/6/2026). (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah/Andini Dwi Hasanah)

"Transaksi bisa langsung kita pantau di BRI Merchant, kemudian dapat WhatsApp secara real time kalau uang masuk. Memang kalau masuk ke rekening atau BRImo ada waktunya, tapi setidaknya kita bisa langsung memantau transaksi. Sebagai pengusaha, ini sangat membantu untuk hitung-hitungan," katanya.

Bagi Belly, sistem pemantauan transaksi menjadi hal penting. Sebab, ia tidak selalu berjaga di gerai setiap hari. Melalui pencatatan digital dari QRIS, jumlah transaksi yang masuk dapat dicocokkan dengan uang kas serta stok penjualan harian.

Cara ini dinilai membantu menjaga transparansi dan pengawasan usaha di tengah ekspansi bisnis yang dijalaninya.

"Karena tidak selalu di warung, jadi uang dari QRIS nanti dijumlahkan dengan uang kas, terus dicocokkan sama stok setiap hari," ujarnya.

Tak hanya soal pengawasan, Belly juga menilai QRIS BRI memiliki keunggulan dari sisi kecepatan pencairan dana dibandingkan platform lain yang pernah digunakannya.

"Lebih cepat masuk ke rekening," katanya.

Sejak menggunakan QRIS BRI pada 2024, transaksi non tunai di SaladBell terus meningkat. Dalam sehari, transaksi melalui QRIS dapat mencapai 50 hingga 100 kali pembayaran.

Meski begitu, Belly menyebut pola pembayaran pelanggan saat ini masih relatif seimbang antara transaksi digital dan tunai.

"Sekarang masih balance, sekitar 50 persen QRIS dan 50 persen tunai," ucapnya.

Cerita serupa juga datang dari pelaku usaha kecil di kawasan Air Itam, Pangkalpinang.

Di bawah payung sederhana dengan meja kecil tempat meracik minuman, Icha, pemilik usaha Es Jeruk Seger, juga merasakan manfaat digitalisasi pembayaran melalui QRIS BRI.

Meski usahanya tergolong UMKM kecil, Icha mengaku teknologi pembayaran digital justru membuat operasional usaha menjadi lebih praktis dan tertata.

Pelaku UMKM Es Jeruk Seger menunjukkan layanan pembayaran menggunakan QRIS BRI di kawasan Air Itam, Kota Pangkalpinang.
Pelaku UMKM Es Jeruk Seger menunjukkan layanan pembayaran menggunakan QRIS BRI di kawasan Air Itam, Kota Pangkalpinang. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah/Andini Dwi Hasanah)

Dalam sehari, transaksi menggunakan QRIS di lapaknya bahkan bisa mencapai sekitar 100 transaksi.

Menurut Icha, QRIS BRI membantu pelaku usaha kecil seperti dirinya tetap bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa harus dipusingkan dengan pencatatan manual.

"Lebih simpel, transaksi terpantau real time, jadi lebih membantu UMKM juga. Walaupun usaha kecil, kita tetap harus mengikuti perkembangan teknologi," ujarnya.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana digitalisasi keuangan mulai menjangkau berbagai lapisan usaha di Kota Pangkalpinang. Tak lagi terbatas pada toko besar atau pusat perbelanjaan, pembayaran berbasis QRIS kini menjadi bagian dari keseharian pelaku UMKM, bahkan di lapak sederhana pinggir jalan.

Di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin terbiasa bertransaksi non tunai, kemudahan memantau transaksi secara langsung, pencatatan yang lebih rapi, hingga efisiensi pengelolaan keuangan menjadi alasan mengapa banyak pelaku UMKM mulai beralih ke sistem pembayaran digital.

Bagi para pelaku usaha seperti Belly dan Icha, QRIS BRI bukan hanya soal menerima pembayaran, tetapi menjadi bagian dari upaya menjaga usaha tetap tumbuh, tertata, dan relevan di era digital.

Transaksi Melonjak Seiring UMKM Bangka Belitung Go Digital

Transformasi pembayaran digital di Bangka Belitung terus menunjukkan tren peningkatan. Di tengah semakin banyaknya pelaku usaha yang beralih ke transaksi non tunai, penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) disebut tumbuh signifikan, termasuk di sektor usaha mikro dan pedagang harian.

Relationship Manager Funding Transaction BRI Kantor Cabang Pangkalpinang, Tanti Jayanti, mengatakan perubahan pola transaksi masyarakat menjadi salah satu pendorong utama meningkatnya penggunaan QRIS di Bangka Belitung.

Tak hanya mempermudah pembayaran, QRIS juga dinilai membantu pelaku usaha dalam mengelola keuangan usaha secara lebih tertata. Setiap transaksi tercatat otomatis sehingga memudahkan pemantauan omzet harian hingga pencocokan pemasukan usaha.

Seiring meningkatnya adopsi transaksi digital, performa ekosistem merchant BRI secara nasional juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.

Pada Semester I 2025, volume transaksi merchant BRI tercatat mencapai Rp105,5 triliun atau tumbuh 27,2 persen secara tahunan (year on year/YoY).

"Nilai transaksi QRIS BRI juga melonjak hingga 142,9 persen YoY, sementara frekuensi transaksi meningkat 162,5 persen dibandingkan periode sebelumnya. Bahkan, rata-rata transaksi per merchant tercatat naik sebesar 62,5 persen YoY," ungkap Tanti kepada Bangkapos.com, Sabtu (6/6/2026).

Lonjakan angka tersebut menjadi gambaran semakin besarnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital, termasuk di kalangan UMKM.

Tanti menilai, perubahan perilaku konsumen yang semakin terbiasa melakukan pembayaran non tunai membuat pelaku usaha mulai beradaptasi agar tidak kehilangan pelanggan.

"Banyak pelaku usaha kecil yang sebelumnya mencatat secara manual kini mulai terbantu karena transaksi QRIS langsung masuk ke rekening dan dapat dipantau melalui aplikasi seperti BRImo maupun dashboard merchant," ujarnya.

Tak hanya QRIS, penggunaan aplikasi BRImo juga disebut ikut meningkat seiring berkembangnya ekosistem digital masyarakat.

Aplikasi tersebut kini tidak hanya digunakan untuk transfer uang, tetapi mulai dimanfaatkan pelaku UMKM untuk memonitor transaksi usaha secara real time, membayar pemasok, hingga mendukung aktivitas operasional harian.

Di wilayah kepulauan seperti Bangka Belitung, BRI juga terus memperluas edukasi digital kepada pelaku usaha mikro, termasuk memperbanyak akuisisi merchant QRIS di pasar tradisional dan usaha kecil agar digitalisasi keuangan semakin menjangkau masyarakat lapisan bawah.

"Bagi BRI, transformasi digital tak lagi sekadar soal perubahan cara membayar, tetapi menjadi langkah membuka akses keuangan yang lebih inklusif agar UMKM lokal dapat tumbuh lebih adaptif di tengah perubahan zaman," tambah Tanti. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.