TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Harga sejumlah obat di apotek wilayah Bondowoso mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan tersebut berkisar antara 5 hingga 10 persen dan diduga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta tingginya ketergantungan industri farmasi pada bahan baku impor.
Kondisi ini mulai dirasakan sejumlah apotek sejak Mei 2026. Selain berdampak pada harga jual obat, kenaikan tersebut juga memengaruhi pola konsumsi masyarakat yang kini semakin banyak memanfaatkan layanan BPJS Kesehatan untuk memperoleh obat.
PIK PRB dan Keuangan Apotek Safari Bondowoso, Toni Suprayitno, menjelaskan bahwa kenaikan harga di sektor farmasi bukanlah hal baru. Menurutnya, perubahan harga umumnya sudah diinformasikan oleh distributor atau produsen secara bertahap sebelum diberlakukan.
"Bulan sebelumnya sudah diinformasikan, paling hanya 10-20 item dan itu bertahap," ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (5/6/2026).
Baca juga: Truk Angkut 4 Ton Wortel Masuk Jurang di Kabupaten Bondowoso
Toni mengatakan, rata-rata kenaikan harga obat saat ini berada pada kisaran 5 hingga 10 persen dan tidak terjadi secara serentak pada seluruh produk. Besaran kenaikan juga berbeda-beda tergantung kebijakan masing-masing produsen.
Ia mencontohkan produk Micoral Tablet yang pada Mei 2026 memiliki harga netto apotek (HNA) ditambah PPN sebesar Rp249.750. Memasuki Juni 2026, harga produk tersebut naik menjadi Rp260.000.
"Jadi tidak sampai 10 persen dan bervariasi. Tidak harus flat (kenaikannya, red), tergantung pabrikannya," imbuhnya.
Menurut Toni, sekitar 10 hingga 15 item obat telah mengalami penyesuaian harga sejak Mei lalu. Di sisi lain, kenaikan harga tersebut turut berdampak terhadap penjualan obat reguler.
Apotek Safari mencatat omzet penjualan obat reguler pada April 2026 menurun sekitar 5 hingga 8 persen. Sebaliknya, penjualan obat melalui program BPJS Kesehatan Rujuk Balik justru mengalami peningkatan.
Baca juga: Guru dan Murid SDN Selolembu Bondowoso Jadikan Limbah MBG Bibit Pohon dan Pupuk Organik
Toni menilai kondisi ekonomi saat ini membuat masyarakat lebih memilih memanfaatkan fasilitas BPJS Kesehatan dibanding membeli obat secara mandiri.
"Dengan kondisi ekonomi seperti ini, masyarakat banyak memanfaatkan BPJS. Kalau dulu, istilahnya mereka memilih beli obat reguler yang mahal daripada pakai BPJS," tuturnya.
Kondisi serupa juga dibenarkan Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Bondowoso, Putu Setia Pratama. Menurutnya, kenaikan harga beberapa produk obat sebenarnya sudah mulai terjadi sejak Maret 2026.
Bahkan, ada sejumlah produk yang mengalami kenaikan harga lebih dari satu kali dalam beberapa bulan terakhir.
"Ada yang bulan Maret naik, kemudian bulan Mei naik lagi," kata Putu saat dikonfirmasi, Sabtu (6/6/2026).
Putu menjelaskan, kenaikan harga yang terjadi saat ini relatif tidak terlalu besar, yakni sekitar 3 hingga 5 persen. Penyesuaian harga tersebut terjadi pada berbagai produk, termasuk vitamin serta obat batuk dan pilek.
Meski begitu, kenaikan harga tetap berdampak terhadap daya beli masyarakat.
Baca juga: Plafon Lantai Dua Kantor Kelurahan Nangkaan Bondowoso Ambruk
"Kalau penurunan daya beli masyarakat tidak terlalu signifikan, kisarannya sekitar 10 persen," jelasnya.
Menurut Putu, pelemahan nilai tukar rupiah memberikan dampak nyata bagi industri farmasi karena sebagian besar bahan baku obat masih didatangkan dari luar negeri.
"Kami di jaringan apotek betul-betul merasakan dampaknya sekarang. Tentu sangat menyayangkan kondisi seperti ini," ujarnya.
Ia berharap nilai tukar rupiah dapat kembali stabil sehingga harga obat tidak terus mengalami penyesuaian. Putu juga mengkhawatirkan potensi kenaikan harga lanjutan apabila dolar AS terus menguat.
"Saya khawatirnya jika dolar terus naik seperti ini, sementara bahan baku datang dari luar negeri, akan ada kenaikan harga lagi ke depannya," katanya.
Menurut Putu, situasi tersebut tidak hanya dialami satu atau dua apotek, melainkan hampir seluruh apotek di Bondowoso. Hal itu karena sebagian besar pasokan obat berasal dari distributor yang sama di wilayah Jember, Surabaya, dan Malang.
"Semua mengalami hal serupa, saya yakin teman-teman apoteker lain juga merasakan hal yang sama. Banyak yang sudah saling curhat," pungkasnya.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah pada Sabtu (6/6/2026) pukul 10.26 WIB tercatat berada di level Rp18.049 per dolar AS. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang terus dipantau pelaku industri farmasi karena berpengaruh langsung terhadap biaya pengadaan bahan baku obat impor.