Libur Sekolah, Dispar Sleman Bidik Kunjungan 450 Ribu Wisatawan
Joko Widiyarso June 06, 2026 05:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN- Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sleman memproyeksikan pergerakan wisatawan, ke berbagai destinasi di wilayah Bumi Sembada, menembus angka 450 ribu kunjungan selama periode musim libur sekolah 20 Juni - 22 Juli tahun ini.

Langkah mitigasi pelayanan saat ini sedang disiapkan, satu di antaranya dengan menerbitkan surat edaran untuk memberikan rasa aman, nyaman sekaligus mengantisipasi praktik tarif tidak wajar atau "nuthuk".

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata, Dispar Sleman, Kus Endarto mengatakan, target kunjungan yang cukup besar ini diharapkan mampu mendongkrak perputaran uang dan perekonomiandi masyarakat. Pihaknya mengestimasi rata-rata belanja wisatawan, di momen liburan ini berada di angka Rp750 ribu - Rp1 juta per orang per kunjungan.

"Estimasi belanja wisatawan berada di angka Rp750 ribu sampai Rp1 juta per orang, dengan angka awal dimaksimalkan di Rp750 ribu karena kondisi ekonomi yang kurang baik. Jika ditotal, peredaran uang diprediksi antara Rp337,5 miliar sampai dengan Rp1,2 triliun," kata Kus Endarto, dikutip Sabtu (6/6/2026). 

Terkait rata-rata lama menginap (length of stay), Dispar Sleman memperkirakan berada di angka 1,5 hingga 2 hari, dengan tingkat okupansi hotel bergerak di kisaran 40 persen sampai dengan 60 persen. Sementara itu, sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi objek wisata yang dikelola Pemkab Sleman—seperti Kaliurang, sebagian Kaliadem, dan Candi Ijo—ditargetkan menyumbang Rp50 juta sampai Rp75 juta.

Kendati demikian, di balik proyeksi kunjungan pelancong ini, bukan berarti tanpa tantangan berat. Berdasarkan data, jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Sleman pada periode Januari hingga Mei 2026 tercatat mengalami penurunan sebesar 12,57 persen dibandingkan periode yang sama, tahun lalu. Selain disebabkan daya beli masyarakat yang melemah, penurunan kunjungan diduga dipicu oleh tren baru pariwisata, di mana 55 persen wisatawan kini lebih memilih destinasi wisata pantai dibanding pegunungan.

Apalagi keberadaan jalan tol yang semakin cepat juga memicu fenomena micro tourism, di mana pelancong luar kota, seperti rute Surabaya-Jogja lebih memilih beristirahat di rest area dan berwisata cepat ketimbang menginap di hotel.

"Membuat orang datang itu mudah, tetapi mempertahankan orang untuk datang kembali, itulah yang jauh lebih susah," ujar Kus.  

Citra pariwisata daerah perlu dijaga agar wisatawan mendapat kesan menyenangkan dan kembali datang. Karena itu, untuk menjaga momen libur sekolah, Dispar Sleman akan menerbitkan Surat Edaran (SE) terkait wisata yang aman, nyaman dan menyenangkan. Melalui SE tersebut, seluruh pengelola destinasi wisata diwajibkan untuk memperketat Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan, menerapkan CHSE, serta bersinergi dengan UMKM lokal guna menggerakkan ekonomi warga sekitar.

Para pengelola wisata, khususnya jip wisata di Kaliurang dan Kaliadem, untuk rutin melakukan uji petik kelaikan kendaraan dan selalu mematuhi rekomendasi zona bahaya dari BPPTKG. Kendati Merapi saat ini masih berstatus siaga, destinasi favorit seperti Candi Prambanan dan Jeep Lava Tour Kaliadem diprediksi tetap menjadi magnet utama pelancong. Lonjakan kunjungan juga diyakini akan terdongkrak oleh sejumlah acara besar nasional dalam waktu dekat, seperti Mandiri Jogja Marathon di akhir Juni serta Prambanan Jazz Festival pada awal Juli mendatang.

Melalui surat edaran, Pemkab Sleman melarang keras segala bentuk praktik "nuthuk" harga, baik oleh petugas parkir, pengelola jasa, maupun penjual makanan dan minuman.

"Harapan kami nanti semua, baik itu petugas parkir maupun penjual makanan dan minuman tidak ada lagi yang namanya nuthuk," tegas dia. 

Di sisi lain, destinasi unggulan di Kabupaten Sleman yang berhimpitan di lereng Gunung Merapi membuat faktor keselamatan tetap menjadi perhatian utama. Mengingat status gunung api tersebut masih berada pada Level 3 (Siaga) hingga 31 Juli. Atas hal ini, Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengingatkan, bahwa berdasarkan rekomendasi BPPTKG Gunung di perbatasan DIY-Jateng itu boleh dikunjungi hanya di zona-zona tertentu dengan jarak yang telah ditentukan. Misalnya, di sebelah barat daya berjarak 7 kilometer, selatan 5 kilometer dan timur 5 kilometer. Karena itu kunjungan wisata di lereng Gunung Merapi, termasuk atraksi jip wisata menjadi perhatian. 

"Kita harus mengantisipasi, dengan kesiapsiagaan, kami bersama relawan terus mengamati. Karena merapi sedang tidak baik-baik saja. Kami juga masih punya status siaga darurat erupsi merapi sampai 31 Juli nanti," kata dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.