Kisah Wadiran, Puluhan Tahun Mangkal di Malioboro, Ikhlas Bentornya Dihancurkan demi Becak Listrik
Joko Widiyarso June 06, 2026 05:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Suara bising alat berat menggema di halaman UPT Pengujian Kendaraan Bermotor Kota Yogyakarta, Rabu (3/6/26) siang.

Satu per satu, kendaraan modifikasi yang akrab disebut becak motor (bentor) dipotong-potong dan dihancurkan oleh petugas yang dikerahkan di lapangan.

​Di antara puluhan pengemudi bentor yang menyaksikan armada pencari nafkahnya dimusnahkan, tampak sosok paruh baya bernama Wadiran (64). 

Warga Kota Yogyakarta tersebut hanya bisa memandangi dari kejauhan bentor kesayangan yang sudah puluhan tahun menemani, berubah jadi rongsokan besi.

​Namun, bukannya sedih atau meradang, garis wajah pria sepuh nan murah senyum ini justru menyiratkan keikhlasan dan kerelaan mendalam.

​"Ya sudah, enggak apa-apa. Sudah, sudah ikhlas, sejak tadi pas berangkat dari rumah, sudah ikhlas," cetus Wadiran, di sela prosesi pemusnahan bentor.

​Baginya, aspal Malioboro adalah saksi bisu perjalanan hidup sebagai pengayuh becak, yang dimulai dari armada tradisional sejak 1975 silam.

​Sempat mencoba peruntungan dengan ikut program transmigrasi ke Palembang pada 1982, Wadiran memilih pulang kampung dan menekuni profesi lamanya di kisaran 1992.

​"Terus ganti becak motor (bentor) itu kira-kira sejak tahun 2006. Berarti sudah 20 tahunan saya ganti, pakai becak motor, sudah lama, ya," kenangnya.

​Kini, demi mendukung Malioboro sebagai kawasan pedestrian yang bebas emisi, Wadiran harus rela beralih ke becak listrik yang disediakan pemerintah. 

Meski sepenuhnya menerima kebijakan eksekutif, dirinya mengaku masih perlu beradaptasi lantatan karakteristik kendaraan barunya ini jelas berbeda.

​"Kemarin baru dilatih sehari. Ya nanti latihan dulu. Kan harus coba bawa penumpang juga, karena istilahnya sekarang belum lanyah (lancar)," tutur Wadiran.

​"Semoga saja, mudah-mudahan bisa lancar, ya. Pokoknya mudah-mudahan semakin maju, semakin laris, karena becak listriknya bagus juga," tambahnya.

Tukang bentor mendukung Pemkot

Sementara, Ketua Koperasi Jasa Becak Wisata Yogyakarta, Petrus Juli Hartono, mengungkapkan pada dasarnya para anggota sangat mendukung program transisi hijau dari pemerintah demi masa depan Malioboro. 

Namun, jika boleh jujur, tidak sedikit di antara ratusan pengemudi yang sebenarnya lebih memilih bertahan dan mengais nafkah dengan becak motor.

​"Tapi kita mengingat juga untuk kebijakan pemerintah, biar ke depannya kita masih bisa mengais rezeki di sepanjang kawasan pedestrian Malioboro," urainya.

​Petrus membeberkan, hingga saat ini sudah ada sekitar 140 unit becak listrik yang siap beroperasi di lapangan, gabungan dari program transisi pemerintah.

Dengan jumlah yang akan terus bertambah, pihaknya pun berharap Pemkot bergerak cepat melengkapi infrastruktur penunjang seperti fasilitas pengisian daya.

​"Harapannya, pemerintah nanti bisa menyediakan untuk tempat-tempat pengecasan, dan juga yang paling penting itu bengkelnya. Bengkel sama pengecasan, itu kita harapkan bisa disediakan," pungkasnya. (aka)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.