Malam Satu Suro Kapan? Info Terkini 1 Suro 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa Lengkap dengan Sejarahnya
Doan Pardede June 06, 2026 05:19 PM

TRIBUNKALTIM.CO - Malam satu Suro kapan? simak informasi lengkap 1 Suro 2026 jatuh pada tanggal berapa, jadwal Malam 1 Suro, sejarah kalender Jawa 

Masyarakat Jawa setiap tahun memperingati Malam 1 Suro sebagai momen yang sarat makna spiritual dan budaya.

Tradisi ini menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa sekaligus bertepatan dengan Tahun Baru Islam atau 1 Muharam dalam kalender Hijriah.

Menjelang pertengahan tahun 2026, banyak masyarakat mulai mencari informasi mengenai kapan Malam 1 Suro 2026 dan 1 Suro 2026 jatuh pada tanggal berapa.

Baca juga: Terjawab Kenapa Malam 1 Suro Tidak Boleh Keluar Rumah dalam Tradisi Jawa

Malam satu Suro kapan

Berdasarkan kalender Hijriah, 1 Muharam 1448 Hijriah jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.

Karena dalam tradisi Jawa pergantian hari dimulai sejak matahari terbenam atau setelah waktu Magrib, maka Malam 1 Suro 2026 diperingati pada Senin malam, 15 Juni 2026.

Dengan demikian, masyarakat yang ingin menjalankan tradisi, doa bersama, tirakatan, atau kegiatan spiritual lainnya biasanya akan melaksanakannya mulai malam hari tanggal 15 Juni 2026.

1 Suro 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa?

Jika merujuk pada kalender Jawa yang bertepatan dengan kalender Hijriah, maka:

  • Malam 1 Suro 2026: Senin malam, 15 Juni 2026
  • 1 Suro 2026: Selasa, 16 Juni 2026
  • Bertepatan dengan: 1 Muharam 1448 Hijriah

Momen ini sekaligus menjadi penanda dimulainya tahun baru dalam penanggalan Jawa.

Apa Itu Malam 1 Suro?

Dikutip dari Tribunnews.com, malam 1 Suro adalah malam pertama bulan Suro, yaitu bulan pertama dalam kalender Jawa.

Bulan Suro memiliki posisi istimewa karena bertepatan dengan bulan Muharam dalam kalender Islam.

Oleh karena itu, malam tersebut sering dianggap sebagai waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri, meningkatkan ibadah, serta memanjatkan doa untuk menyambut tahun yang baru.

Di berbagai daerah di Jawa, Malam 1 Suro juga diisi dengan tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun, seperti tirakatan, doa bersama, kirab pusaka, hingga kegiatan spiritual lainnya sesuai adat setempat.

Meski memiliki nilai budaya yang kuat, pada dasarnya Malam 1 Suro juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri dalam menyongsong tahun baru.

Sejarah Malam 1 Suro

Sejarah Malam 1 Suro tidak lepas dari peran Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17.

Saat itu, Sultan Agung berupaya menyatukan masyarakat di wilayah kekuasaannya yang memiliki latar belakang budaya dan sistem penanggalan berbeda.

Masyarakat pesisir yang mayoritas beragama Islam menggunakan kalender Hijriah, sedangkan masyarakat pedalaman masih banyak menggunakan kalender Saka yang berasal dari tradisi Hindu.

Untuk memperkuat persatuan, Sultan Agung kemudian menggabungkan unsur-unsur dari kedua sistem penanggalan tersebut dan melahirkan kalender Jawa.

Dalam sistem baru tersebut, perhitungan tanggal mengikuti peredaran bulan sebagaimana kalender Hijriah, sedangkan perhitungan tahunnya tetap meneruskan angka tahun dari kalender Saka.

Nama "Suro" sendiri berasal dari kata Arab "Asyura" yang kemudian digunakan sebagai nama bulan pertama dalam kalender Jawa, sebagaimana Muharam menjadi bulan pertama dalam kalender Islam.

Karena menggunakan kelanjutan angka tahun Saka, tahun pertama dalam kalender Jawa tidak dimulai dari angka satu, melainkan dari tahun 1555 Saka.

Sejak saat itu, 1 Suro menjadi penanda pergantian tahun Jawa yang hingga kini masih diperingati oleh masyarakat di berbagai daerah, khususnya di Pulau Jawa.

Baca juga: Ada Apa dengan Weton Tulang Wangi di Malam 1 Suro? Ini Penjelasannya

Tradisi yang Identik dengan Malam 1 Suro

Di sejumlah daerah, Malam 1 Suro identik dengan berbagai kegiatan budaya dan spiritual, antara lain:

  • Tirakatan atau doa bersama.
  • Zikir dan ibadah malam.
  • Kirab pusaka di lingkungan keraton.
  • Tapa bisu atau berjalan tanpa berbicara.
  • Kegiatan refleksi dan introspeksi diri.

Tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap pergantian tahun sekaligus harapan agar kehidupan di tahun yang baru menjadi lebih baik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.