Disrupsi AI dan Ketatnya Persaingan Kerja Jadi Bahasan Seminar Nasional HMAN PNUP Makassar
Ari Maryadi June 06, 2026 06:05 PM

 

‎TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Membicarakan bagaimana mahasiswa mempersiapkan diri di tengah ketatnya persaingan kerja dan disrupsi AI menjadi isu utama yang diangkat dalam Seminar Nasional yang diadakan Himpunan Mahasiswa Administrasi Niaga (HMAN) Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), Sabtu (6/6/2026).

‎Seminar tersebut merupakan rangkaian kegiatan Pekan Administrasi Niaga (Pena),  yang merupakan perayaan hari jadi ke-28 HMAN PNUP.

‎Kegiatan yang dihadiri sekitar 1.000 lebih peserta dari berbagai kampus itu dilaksanakan di Auditorium Kampus 2 PNUP.

‎Dalam forum yang dimulai sejak pukul 09.00 Wita tersebut, dihadirkan pemateri Dosen Administrasi Niaga PNUP Indra Alamsyah dan konten kreator sekaligus pemengaruh Rian Fahardhi.

‎Sesi diskusi dipandu oleh Angeline Lambert, mahasiswa berprestasi tingkat LLDIKTI Wilayah IX tahun 2024.

‎Indra Alamsyah membuka pemaparannya dengan menyinggung anggapan yang kerap dilekatkan kepada Generasi Z sebagai generasi yang malas, manja, dan tidak tahan menghadapi tekanan.

‎Ia mengajak peserta seminar mempertanyakan anggapan tersebut.

‎Menurutnya, ada banyak faktor yang mempengaruhi kehidupan generasi muda saat ini sehingga tidak bisa serta merta disimpulkan bahwa persoalannya hanya terletak pada individu.

‎"Apakah generasi muda Indonesia yang bermasalah atau sistemnya yang sedang tidak baik-baik saja?" ujar Indra dalam pemaparannya.

‎Ia menjelaskan bahwa Generasi Z saat ini hidup di tengah tsunami informasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. 

‎Kondisi tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang.

‎Di sisi lain, kata dia, Indonesia juga sedang menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang berdampak pada terbatasnya peluang kerja dan semakin ketatnya persaingan di dunia kerja.

‎Menurut Indra, situasi ketidakpastian ekonomi tersebut menjadi salah satu penyebab munculnya kecemasan di kalangan generasi muda.

‎Ia juga menyoroti perubahan kebutuhan keterampilan kerja yang berlangsung sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir akibat perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.

‎Meski demikian, Indra menilai generasi muda tidak boleh hanya menyalahkan sistem.

‎Ia mengatakan mahasiswa harus terus meningkatkan kompetensi, membangun mentalitas adaptif, memperkuat personal branding, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta memperbanyak pengalaman sejak masih berada di bangku kuliah.

‎"Di era AI ini, yang mahal bukan lagi informasi karena semua orang bisa mendapatkannya. Yang mahal adalah kemampuan berpikir," katanya.

‎Sementara itu, Rian Fahardhi mengangkat materi tentang bagaimana menciptakan kepastian di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

‎Ia menilai banyak anak muda saat ini tumbuh dalam situasi yang serba tidak pasti, baik dalam dunia kerja, pendidikan, maupun perkembangan teknologi.

‎Menurutnya, kondisi tersebut sering kali membuat anak muda merasa cemas dan kehilangan arah.

‎Karena itu, Rian mengajak peserta untuk tidak terlalu fokus pada hal-hal yang berada di luar kendali mereka, melainkan membangun kepastian melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

‎Ia menjelaskan bahwa keberhasilan yang diraihnya selama ini bukan semata karena keberuntungan, melainkan hasil dari proses panjang yang dilakukan secara terus-menerus.

‎"Kita sering terlalu fokus pada tujuan akhir, tetapi lupa membangun sistem yang membuat kita sampai ke tujuan itu," ujarnya.

‎Rian juga menyinggung perkembangan AI yang mulai mengubah berbagai jenis pekerjaan.

‎Menurutnya, manusia tetap memiliki peluang untuk bertahan dan berkembang selama mampu beradaptasi, terus belajar, dan menjaga fokus terhadap tujuan yang ingin dicapai.

‎"Jangan hanya menjadi konsumen informasi. Ciptakan karya, bangun kebiasaan baik, dan gunakan teknologi untuk meningkatkan kemampuan diri," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.