TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG — Lonjakan harga komoditas hortikultura, terutama harga cabai dan bawang merah, mendorong angka inflasi Jawa Tengah kembali merangkak naik pada Mei 2026. Pergerakan positif ini membalikkan tren deflasi sebesar 0,03 persen yang sempat terjadi pada bulan sebelumnya.
Berdasarkan data resmi Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah, inflasi bulanan (month to month/mtm) regional pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,23 persen. Kendati mengalami kenaikan, laju inflasi di Jawa Tengah ini dilaporkan masih berada di bawah rata-rata inflasi nasional yang menyentuh angka 0,28 persen.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah, Anggis Rakhmi, mengungkapkan bahwa penurunan produktivitas di sejumlah sentra pertanian menjadi pemicu utama kelangkaan pasokan di pasar.
"Kenaikan harga terjadi pada komoditas cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit seiring menurunnya produktivitas akibat cuaca ekstrem, serangan organisme pengganggu tumbuhan, serta kekeringan di sejumlah sentra produksi," ujar Anggis Rakhmi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (6/6/2026).
Baca juga: Ahmad Luthfi Antarkan Jawa Tengah Raih Penghargaan Pengendalian Inflasi dari Kemendagri
Gagal Panen di Sentra Produksi dan Efek Jelang Iduladha
Menurut data BI, penurunan produksi cabai merah secara signifikan terjadi di Kabupaten Temanggung. Sementara itu, komoditas bawang merah mengalami gangguan pasokan akibat gagal panen di wilayah Pati dan Demak. Kondisi kelangkaan ini kian diperparah oleh melonjaknya permintaan masyarakat yang memasuki musim hajatan serta persiapan menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha.
Akibatnya, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang andil inflasi terbesar, yakni mencapai 0,07 persen. Selain sayur-mayur, komoditas minyak goreng ikut menyumbang inflasi akibat naiknya biaya produksi plastik kemasan dan keterbatasan stok.
Di sisi lain, sektor nonpangan seperti Kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan turut menyumbang inflasi sebesar 0,06 persen. Hal ini dipicu oleh kenaikan harga telepon seluler akibat mahalnya komponen chipset dan memori di pasar global seiring tingginya permintaan industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Surakarta, Kudus, dan Cilacap Catat Inflasi Tertinggi
Secara spasial, seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Tengah kompak mengalami inflasi pada Mei 2026. Kota Surakarta, Kudus, dan Cilacap menjadi wilayah dengan inflasi bulanan tertinggi di Jateng yang masing-masing menembus angka 0,31 persen.
Baca juga: Harga Ayam dan Cabai Melandai, Inflasi Jawa Tengah Tetap Jinak di Angka 2,11 Persen
Berikut adalah rincian capaian inflasi bulanan di kota/kabupaten IHK Jawa Tengah:
Surakarta, Kudus, Cilacap: 0,31 persen
Kabupaten Wonogiri: 0,30 persen
Purwokerto: 0,28 persen
Kabupaten Rembang: 0,24 persen
Kota Semarang: 0,16 persen
Kota Tegal: 0,14 persen
Kabupaten Wonosobo: 0,12 persen
Meskipun terdapat tekanan di berbagai sektor, Anggis Rakhmi menegaskan bahwa secara akumulatif inflasi Jawa Tengah masih terkendali dan berada di dalam rentang sasaran target nasional sebesar 2,5±1 persen.
Guna mengantisipasi lonjakan harga lanjutan menjelang Iduladha, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) berkomitmen memperkuat koordinasi lintas sektor demi menjaga kelancaran distribusi dan ketersediaan pasokan pangan di tingkat pasar pasar tradisional maupun ritel. (Rad)