Megawati Soekarnoputri Bersama GKR Hemas Buka Pameran Mata Hati Soekarno di Yogyakarta
Muhammad Zulfikar June 06, 2026 07:35 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri membuka pameran seni rupa bertajuk “Mata Hati Soekarno” di Le Gareca Space, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026).

Pameran yang digelar bertepatan dengan peringatan 125 tahun kelahiran Proklamator RI Soekarno tersebut menghadirkan karya dari 47 perupa lintas generasi yang mencoba mengenang, menafsirkan, dan merefleksikan sejarah serta pemikiran Bung Karno melalui berbagai medium seni rupa.

Baca juga: Dialog dengan Sekjen PDIP, Wakil PM Timor Leste Puji Visi Rekonsiliasi Megawati-Xanana Gusmao

Megawati duduk di samping Permaisuri Karaton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas. Di antara mereka, di bagian belakang duduk seniman senior asal Yogya sekaligus penanggung jawab acara, Butet Kartaredjasa.

Sejumlah tokoh nasional dan daerah turut menghadiri pembukaan pameran tersebut, di antaranya, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Mahfud MD, Ganjar Pranowo, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih dan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih.

Pembukaan pameran ditandai dengan, Megawati mengajak GKR Hemas membuka pintu kaca tempat pameran dan kemudian mengelilingi ruang pameran yang menampilkan hasil karya 47 perupa.

 Saat memasuki ruangan, terlihat Megawati menggandeng tangan GKR Hemas.

Sebelum itu, Butet menyampaikan kepada Megawati mengenai gagasan dasar pameran "Mata Hati Soekarno" ini.

"Ini adalah kesadaran kami para seniman untuk menghormati seniman juga yang kebetulan seorang Presiden pertama Indonesia, Proklamator, ideolog, penggali Pancasila, yang selalu menginspirasi kami, menginspirasi kita dari waktu ke waktu," kata Butet.

"Jadi kalau ada ungkapan dari Bung Karno itu "jangan hanya mewarisi abunya, maka kami ingin mewarisi apinya". Api Soekarno itulah yang menanamkan kesadaran ideologis kami sebagai warga bangsa yang selalu kami usung ke depan," tambahnya.

Baca juga: Pesan Khusus Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta untuk Megawati Soekarnoputri

Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menjelaskan panitia menantang perupa untuk menggali, menemukan, memilih sudut pandang, cara pandang, dan cara ungkap dalam melihat, memahami, meresepsi sosok paling ikonik dalam sejarah Indonesia yakni Bung Karno.

Mengolah dan mewujudkan tema "Mata Hati Soekarno" sesungguhnya tidak mudah karena para perupa atau para seniman atau para pelukis ini sebagian besar dari generasi 1990-an.

Melalui lukisan, karya grafis, dan gambar, mereka berupaya membaca kembali perjalanan hidup, gagasan, serta jejak kebangsaan yang diwariskan Bung Karno kepada bangsa Indonesia.

Menurut Suwarno, Bung Karno merupakan figur yang tidak pernah habis untuk dibaca dan dimaknai ulang.

"Bung Karno adalah air, tanah, angin, dan api menghidupi, menumbuhkan, menebarkan, dan menyalakan harapan dari waktu ke waktu sampai hari ini. Lebih dari setengah abad sepeninggal Bung Karno, ia adalah inspirasi yang tak pernah redup," lanjutnya.

Karena itu, pameran ini tidak sekadar menghadirkan karya seni, tetapi juga membuka ruang dialog publik mengenai relevansi pemikiran dan nilai-nilai yang diwariskan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia tersebut.

"Merayakan Bung Karno dengan seni lukis sungguh bukan kebetulan. Ini perayaan yang tepat, karena teman-teman di berbagai belahan negara mengenal Indonesia, mengenal Bung Karno dari dekat, salah satunya adalah dari lima jilid buku yang diinisiasi beliau, yang diterbitkan dan belum pernah ada tandingannya sampai hari ini," katanya.

Pameran ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan peringatan 125 tahun kelahiran Bung Karno yang digelar di Yogyakarta, sekaligus menegaskan bahwa pemikiran, perjuangan, dan warisan intelektual Sang Putra Fajar tetap hidup dan relevan bagi generasi Indonesia masa kini maupun masa depan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.