Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sulvi Sofiana
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Rencana pemerintah pusat menjadikan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar mulai tahun ajaran 2027 mulai direspons oleh daerah.
Di Kota Surabaya, Dinas Pendidikan (Dispendik) telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mendukung kebijakan tersebut, salah satunya melalui program pembiasaan penggunaan Bahasa Inggris di lingkungan sekolah.
Program pembiasaan itu akan diterapkan setiap hari Jumat sebagai upaya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris siswa sejak dini. Dispendik meyakini metode pembiasaan menjadi salah satu cara efektif untuk memperluas kosakata dan meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa asing.
Selain membangun budaya berbahasa Inggris di sekolah, Dispendik Surabaya juga mulai mempersiapkan aspek tenaga pengajar dan penguatan kompetensi siswa melalui berbagai program kolaborasi.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dispendik Kota Surabaya, Mohamad Sufyan, mengatakan kemampuan berbahasa asing akan lebih mudah dikuasai apabila digunakan secara rutin dalam keseharian.
"Pembiasaan bahasa itu bisa karena biasa. Kalau sudah terbiasa dipakai, kosa kata yang dimiliki anak-anak akan semakin berkembang. Semakin sering digunakan, semakin bisa," kata Sufyan, Sabtu (6/6/2026).
Baca juga: PR Besar setelah Prabowo Minta Bahasa Prancis Diajarkan di Sekolah, Anggota DPR Pertanyakan Guru
Menurut Sufyan, konsep pembiasaan Bahasa Inggris tersebut terinspirasi dari keberhasilan program Kamis Mlipis yang selama ini mendorong penggunaan Bahasa Jawa di lingkungan sekolah.
Karena itu, Dispendik mulai mengarahkan sekolah untuk menyediakan hari khusus penggunaan Bahasa Inggris sebagai bagian dari pembiasaan komunikasi sehari-hari.
"Nanti kalau Kamis Mlipis menggunakan bahasa daerah, maka untuk hari Jumat pembiasaan menggunakan Bahasa Inggris," ujarnya.
Saat ini Bahasa Inggris di jenjang SD dan SMP masih berstatus muatan lokal. Pelaksanaannya pun bergantung pada kesiapan masing-masing sekolah.
Namun, ketika kebijakan pemerintah pusat mulai diterapkan pada tahun 2027, seluruh sekolah diwajibkan menyediakan mata pelajaran Bahasa Inggris.
"Kalau sudah menjadi mata pelajaran wajib, semua sekolah harus melaksanakan. Selama ini masih muatan lokal yang menyesuaikan kemampuan sekolah masing-masing," jelasnya.
Selain pembiasaan siswa, Dispendik juga mulai memperhitungkan kebutuhan tenaga pengajar yang akan meningkat ketika Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib.
Menurut Sufyan, setiap sekolah nantinya membutuhkan guru Bahasa Inggris yang dapat mengampu mata pelajaran tersebut secara khusus.
"Kalau sudah menjadi mata pelajaran wajib, otomatis harus ada guru Bahasa Inggris. Sementara ini bisa diampu guru kelas jika belum tersedia," katanya.
Sebagai bentuk persiapan, Dispendik Surabaya menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga kursus dan pelatihan (LKP) yang memiliki program peningkatan kemampuan Bahasa Inggris bagi siswa.
"Ada beberapa lembaga yang menawarkan program gratis untuk siswa. Kami bekerja sama dengan LKP-LKP yang memang memiliki program penguatan Bahasa Inggris," ungkapnya.
Dispendik juga memanfaatkan sekolah yang telah menerapkan Sistem Pendidikan Kerja Sama (SPK) atau kurikulum internasional sebagai sarana pembelajaran bagi sekolah lainnya.
Melalui program kunjungan antarsekolah, siswa dan guru dapat mempelajari secara langsung praktik penggunaan Bahasa Inggris dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari.
"Yang sekolah negeri belajar ke sekolah SPK karena mereka memang setiap hari menggunakan Bahasa Inggris dalam pembelajaran. Jadi ada pembelajaran sebaya antar sekolah," ujarnya.
Program pembiasaan Bahasa Inggris tersebut nantinya akan dievaluasi secara berkala sebagaimana program pembiasaan bahasa lain yang telah berjalan di Kota Surabaya.
Saat ini terdapat 283 SD negeri di Surabaya. Dispendik berharap seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta, dapat beradaptasi secara bertahap sehingga siap ketika kebijakan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai diberlakukan pada tahun 2027.
"Kami optimistis. Yang penting dibiasakan dulu. Kalau sudah menjadi kebiasaan, anak-anak akan lebih percaya diri menggunakan Bahasa Inggris," pungkas Sufyan.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto mengaku telah menginstruksikan sekolah-sekolah di Indonesia untuk mulai meningkatkan pembelajaran bahasa Perancis.
Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan pernyataan bersama Presiden Perancis Emmanuel Macron dalam kunjungan kerja di Paris, Perancis, Kamis (28/5/2026).
"Sekarang, saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Perancis, melihat perkembangan dunia ke depan," kata Prabowo di Istana Elysee, Paris, Perancis, Kamis (28/5/2026), dilihat dari YouTube Sekretariat Presiden, dikutip dari Kompas.com.
Prabowo mengatakan, langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan Indonesia dan Perancis di masa depan.
Menurut Prabowo, hubungan Indonesia dan Perancis saat ini berada pada fase terbaik dan terus berkembang di berbagai sektor strategis.
Ia menyebut kerja sama kedua negara semakin erat, mulai dari bidang pertahanan, pendidikan, sains dan teknologi, hingga investasi.
Prabowo berpandangan, kuatnya hubungan kerja sama Indonesia dan Perancis ini karena peran dan dukungan dari Presiden Perancis Emmanuel Macron.
"Dalam beberapa hal, Indonesia dan Prancis memiliki sikap yang sama dan saat ini hubungan bilateral kita sangat baik, ini tidak lain adalah karena dukungan langsung dari Presiden Macron," tuturnya.