Jakarta (ANTARA) - Deputi Pemasaran Kementerian Pariwisata RI, Ni Made Ayu Marthini mengatakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membangun pengalaman wisata salah satunya berbasis data.
“Ini bukan sekadar ikut-ikutan tren. Ini fondasi dalam membangun pengalaman wisata yang lebih personal, efisien, dan berbasis data,” ujar Ni Made Ayu, dalam keterangan resminya yang diterima pada Sabtu.
Hal itu disampaikan Ni Made Ayu dalam diskusi bersama Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf), pada Jumat, (5/6) bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan dinilainya sebagai keniscayaan dalam industri.
Dalam hal ini, Kementerian Pariwisata mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam ekosistem digital melalui peluncuran Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA), yang dirancang untuk meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata nasional melalui teknologi yang adaptif, cerdas, dan berorientasi pada kebutuhan wisatawan.
Platform ini dapat diakses melalui indonesia.travel dan menjadi wajah baru transformasi digital pariwisata Indonesia. MaiA juga disesuaikan dengan salah satu program utama Kementerian Pariwisata yakni Tourism 5.0 yang menekankan pentingnya adopsi digitalisasi untuk menyasar target pasar dengan lebih efektif.
MaiA dirancang untuk membantu wisatawan di setiap tahap perjalanan, mulai dari fase membayangkan (dreaming), merencanakan (planning), memesan (booking), merasakan pengalaman berwisata (experiencing) hingga berbagi pengalaman (sharing).
Sebagai ekosistem, MaiA juga dapat digunakan industri untuk menjadi instrumen pengumpulan data perilaku wisatawan.
“Dalam tujuh bulan sejak peluncuran pada November 2025, kami bisa mengetahui bahwa ada sekitar 60 persen pengguna berasal dari pasar domestik dan 40 persen dari mancanegara, dengan dominasi wisatawan dari Tiongkok, Singapura, dan Jerman,” kata Made.
Data yang disajikan MaiA memberikan gambaran yang jauh lebih rinci dibanding metode survei konvensional.
Dengan MaiA, pemerintah dapat memahami perilaku wisatawan terkini, termasuk preferensi destinasi, aktivitas, hingga preferensi pengalaman yang diinginkan wisatawan.
Sementara itu, perubahan juga terjadi pada cara informasi bekerja di ruang digital. Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Publik dan Media, Apni Jaya Putra mengatakan bahwa masyarakat kini hidup dalam ekosistem yang dikendalikan oleh big data dan algoritma.
Setiap aktivitas digital, mulai dari pencarian hingga interaksi media sosial, diproses untuk membentuk profil pengguna. Profil inilah yang kemudian menentukan konten apa yang muncul di layar mereka.
Dalam konteks pariwisata, kondisi ini membuat wisatawan tidak lagi sepenuhnya “memilih”, tetapi diarahkan oleh sistem rekomendasi yang dikuasai platform global seperti Google, Meta, dan TikTok.
“Mereka menentukan destinasi apa yang terlihat, paket wisata apa yang direkomendasikan, hingga narasi mana yang paling dominan di ruang digital,” ujar Apni.
Oleh karena itu, tantangan komunikasi pariwisata saat ini bukan hanya soal menciptakan konten yang menarik. Tantangan sesungguhnya membangun kepercayaan di tengah banjir informasi.
Ketika informasi tersedia dalam jumlah nyaris tak terbatas, kata Apni, publik tidak hanya mencari rekomendasi, tetapi juga sumber yang dapat dipercaya. Di sinilah manusia kembali menjadi faktor penentu.
Kecerdasan buatan mampu mengumpulkan data, memproses informasi, dan menghasilkan rekomendasi dengan kecepatan yang mustahil dilakukan manusia.
“Yang lebih penting memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperkuat kepercayaan publik, bukan menggantikannya,” tutur Apni.





