TRIBUNJAKARTA.COM - Di mata orang-orang terdekatnya, Thomas Julianus Kristianto (19) adalah sosok remaja yang tangguh, mandiri, dan tidak pernah membuat ulah.
Namun kini, masa depan cerah yang baru saja ia buka setelah dinyatakan lulus dari SMA 11 Surabaya harus pupus selamanya.
Thomas meninggal dunia secara tragis setelah diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang di belakang sekolahnya sendiri.
Kepergiannya yang mendadak meninggalkan luka mendalam, terutama bagi sang kakek yang merawatnya sejak kecil, serta para guru yang mengenalnya sebagai anak yang baik.
Bagi Margono (88), kakek Thomas, malam kejadian pada Sabtu (30/5/2026) itu berjalan seperti malam-malam biasanya.
Sang cucu sempat berpamitan kepadanya sebelum keluar rumah bersama seorang temannya.
"Pamitannya ke saya mau keluar sebentar. Keluar itu kok anu enggak pulang-pulang," cerita Margono kepada Kompas.com, Sabtu (6/6/2026).
Tak lama berselang, kabar duka itu datang.
Teman Thomas mengabarkan bahwa remaja tersebut sudah berada di klinik dalam kondisi tidak sadarkan diri akibat luka parah di bagian kepala.
Karena keterbatasan fasilitas di klinik rumah sakit bersalin tersebut, Thomas segera dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo menggunakan ambulans.
Sayangnya, takdir berkata lain. Setelah menjalani operasi besar pada bagian kepala, Thomas mengembuskan napas terakhirnya selang beberapa hari mendapat penanganan medis intensif.
Kehidupan Thomas tidaklah mudah. Ia merupakan seorang anak yatim piatu sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sejak orang tuanya tiada, ia dirawat oleh kakeknya yang sudah sepuh dan sang tante.
“Sejak SMP Thomas sama sama saya,” singkat Margono lirih.
Meski tumbuh tanpa orang tua, Thomas menjelma menjadi pemuda yang tangguh.
Margono menceritakan bahwa cucunya adalah anak yang rajin beribadah ke gereja dan memiliki rekam jejak akademis yang baik.
Thomas dikenal sebagai pemuda tangguh yang sedang mengusahakan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Surabaya.
"Ini baru lulus, tinggal tunggu ijazahnya saja. Rencananya setelah lulus ini, dia dapat beasiswa pemuda tangguh," tambah Margono.
Pihak SMAN 11 Surabaya Kaget, Kenang Korban sebagai Siswa Tertib Sementara itu, pihak sekolah, khususnya SMAN 11 Surabaya, mengaku sangat terkejut mendengar kabar duka yang menimpa salah satu anak didiknya tersebut.
Waka Humas SMAN 11 Surabaya, Istiawati, menegaskan bahwa Thomas adalah siswa yang tertib dan tidak pernah membuat masalah di sekolah.
"Anaknya ya enggak bermasalah sih, tertib mengikuti pelajaran juga. Dia normal-normal saja seperti remaja pada umumnya. Makanya ketika mendengar kabar seperti itu, kami agak kaget," kata Istiawati.
Meskipun pihak sekolah tidak memantau kehidupan personalnya di luar, Istiawati tidak menampik jika di kalangan teman-temannya, Thomas dikenal sebagai sosok yang sangat baik, humble (rendah hati), dan berjiwa pelindung.
Sebenarnya, momen bahagia tengah menanti Thomas.
Ia telah dinyatakan lulus pada 4 Mei lalu untuk tahun ajaran 2025/2026.
Pihak sekolah bahkan menjadwalkan upacara seremoni pelepasan siswa dan penyerahan ijazah secara resmi kepada orang tua atau wali pada tanggal 11 Juni 2026 mendatang.
Namun, kursi Thomas dipastikan akan kosong dalam seremoni tersebut.
Terkait motif maupun kronologi pasti pengeroyokan yang menewaskan Thomas di belakang SMAN 11 Surabaya, pihak sekolah maupun keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.
Keluarga korban diketahui telah resmi melaporkan kasus ini ke Polrestabes Surabaya.
Guna kepentingan penyelidikan dan memperkuat bukti hukum, jenazah Thomas juga telah menjalani proses otopsi.
"Semoga kasusnya segera selesai, kasihan anaknya yang meninggal, apalagi dia yatim piatu. Semoga dilapangkan kuburnya," tutur Istiawati menutup pembicaraan.
Sumber: KOMPAS.COM