TRIBUN-MEDAN.com - Seorang wanita membagikan kisah perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku setelah ditinggalkan suami demi perempuan lain.
Kisah tersebut menjadi perhatian setelah ia menceritakan bagaimana mantan suaminya meninggalkan dirinya dan anak mereka, lalu kembali delapan tahun kemudian untuk meminta kesempatan kedua.
Dikutip dari Eva.vn Sabtu (6/6/2026), menurut penuturannya, ia dan mantan suami telah saling mengenal sejak masih duduk di bangku kuliah. Hubungan mereka dimulai secara sederhana dan berkembang hingga akhirnya berujung pada pernikahan.
Setelah lulus kuliah dan bekerja beberapa tahun, keduanya memutuskan menikah dengan harapan membangun kehidupan rumah tangga yang stabil.
Pada awal pernikahan, pasangan tersebut merantau ke Hanoi untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Sang istri bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan kecil, sementara suaminya bekerja di bidang penjualan bahan bangunan.
Meski kondisi ekonomi mereka belum sepenuhnya mapan, keduanya mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sambil menabung sedikit demi sedikit untuk masa depan.
Perubahan mulai terjadi setelah pasangan tersebut dikaruniai seorang putra. Anak mereka lahir prematur dan memiliki kondisi kesehatan yang lemah sehingga membutuhkan perhatian khusus. Pada waktu yang hampir bersamaan, ibu dari pihak suami di kampung halaman juga sering mengalami gangguan kesehatan.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, pasangan itu sepakat agar sang istri membawa anak mereka kembali ke kampung halaman untuk sementara waktu.
Keputusan tersebut diambil agar sang istri dapat lebih fokus merawat anak sekaligus membantu orang tua suami. Sementara itu, suami tetap tinggal di kota karena memiliki pekerjaan dengan penghasilan lebih besar.
Pada masa-masa awal menjalani kehidupan terpisah, hubungan mereka masih berjalan baik. Sang suami disebut rutin menghubungi keluarga dan berusaha pulang ketika memiliki waktu luang.
Bahkan, dalam satu kesempatan ketika anak mereka mengalami demam tinggi pada malam hari, ia menempuh perjalanan ratusan kilometer untuk mengantar anaknya ke rumah sakit.
Namun seiring waktu, kondisi mulai berubah. Pekerjaan sang suami berkembang pesat dan membuatnya semakin sibuk. Ia lebih sering bertemu klien, menghadiri berbagai kegiatan pekerjaan, serta melakukan perjalanan dinas ke berbagai tempat. Intensitas komunikasi dengan keluarga pun berangsur-angsur berkurang.
Wanita tersebut mengaku mulai merasakan kegelisahan, meski berusaha meyakinkan dirinya bahwa kesibukan suami semata-mata dilakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Kecurigaan itu akhirnya terjawab ketika ia menemukan pesan-pesan bernada romantis antara suaminya dan seorang perempuan lain melalui surat elektronik milik sang suami.
Setelah mengetahui hal tersebut, ia langsung berangkat ke kota pada malam hari untuk menemui suaminya secara langsung.
Dalam pertemuan itu, sang suami tidak membantah adanya hubungan dengan perempuan lain. Setelah lama terdiam, ia hanya mengatakan bahwa dirinya telah lelah menjalani kehidupan yang selama ini dijalani.
Pernyataan tersebut membuat wanita itu menyadari bahwa rumah tangga yang selama ini dipertahankannya tidak lagi dapat diselamatkan.
Perceraian kemudian terjadi ketika putra mereka baru berusia enam tahun. Momen perpisahan itu meninggalkan luka mendalam bagi keluarga tersebut.
Wanita itu menceritakan bahwa anak mereka menangis sambil memeluk kaki ayahnya dan berharap sang ayah tidak pergi. Namun pria tersebut tetap meninggalkan rumah tanpa menoleh ke belakang.
Setelah perceraian, wanita itu harus membesarkan anak seorang diri. Ia bekerja sebagai akuntan di sebuah toko dekat rumah pada siang hari dan mengambil pekerjaan tambahan pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan hidup serta biaya pendidikan anak.
Menurut pengakuannya, masa-masa tersebut merupakan periode yang sangat sulit dalam hidupnya. Meski demikian, tantangan terbesar yang dihadapi bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan perubahan sikap anaknya yang menjadi lebih pendiam dibanding sebelumnya.
Ia masih mengingat pertanyaan yang pernah diajukan sang anak setelah pulang sekolah. Anak itu bertanya apakah ayahnya pergi karena dirinya bukan anak yang baik.
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu kenangan paling menyakitkan yang pernah dialaminya sebagai seorang ibu.
Selama delapan tahun setelah perceraian, mantan suaminya disebut hampir tidak pernah memberikan perhatian kepada anak mereka. Sesekali pria itu mengirim sejumlah uang, tetapi kemudian kembali menghilang tanpa banyak komunikasi.
Seiring berjalannya waktu, wanita tersebut mengaku mulai terbiasa menjalani kehidupan hanya bersama putranya. Anak yang dibesarkannya seorang diri tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa dan sangat menyayanginya.
Ketika ia mengira kehidupannya akan terus berjalan seperti biasa, sebuah peristiwa tak terduga terjadi. Pada suatu sore saat hujan turun, mantan suaminya tiba-tiba datang ke rumah.
Menurut penuturannya, kondisi pria tersebut jauh berbeda dibandingkan saat meninggalkan keluarga mereka bertahun-tahun lalu. Tubuhnya tampak lebih kurus, pakaian yang dikenakan terlihat kusut, dan wajahnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Begitu bertemu dengannya, mantan suami itu langsung berlutut dan memohon agar diterima kembali. Ia kemudian menceritakan bahwa setelah meninggalkan keluarganya, dirinya hidup bersama perempuan yang menjadi selingkuhannya selama beberapa tahun.
Namun hubungan tersebut tidak bertahan selamanya. Ia mengaku mengalami kegagalan dalam pekerjaan hingga terlilit utang. Ketika kondisi ekonominya memburuk dan seluruh usahanya runtuh, perempuan tersebut juga meninggalkannya.
Tak lama kemudian, pria itu berusaha mendekati putranya. Namun anak yang kini telah beranjak besar hanya berdiri diam dan memandang ayahnya dengan sikap yang terasa asing. Setelah beberapa saat, sang anak mengatakan bahwa dirinya pernah menunggu ayahnya dalam waktu yang sangat lama.
Ucapan singkat tersebut membuat pria itu menangis.
Pada malam yang sama, mantan suami kembali menyampaikan keinginannya untuk menikah lagi dengan wanita tersebut. Ia mengaku ingin menebus kesalahan masa lalu dan memperbaiki hubungan dengan mantan istri serta anaknya.
Setelah mempertimbangkan permintaan itu, wanita tersebut akhirnya menyatakan bersedia memberikan kesempatan kedua dengan satu syarat. Ia meminta seluruh penghasilan mantan suaminya dikelola secara terbuka dan berada di bawah pengawasannya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa jika pria tersebut kembali berkhianat atau menyakiti dirinya maupun anak mereka, maka ia harus pergi tanpa membawa apa pun.
Menurut pengakuannya, mantan suami langsung menyetujui syarat tersebut tanpa keberatan.
Meski banyak orang mempertanyakan keputusannya, wanita itu mengaku tidak lagi memandang hubungan berdasarkan janji manis atau gambaran cinta yang ideal. Baginya, tanggung jawab dan ketulusan jauh lebih penting.
Ia juga menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui apakah keputusan tersebut akan menjadi pilihan yang tepat.
Namun ketika melihat putranya berdiri di antara ayah dan ibunya, ia memahami bahwa sang anak masih menyimpan harapan untuk kembali memiliki keluarga yang utuh.
(cr31/tribun-medan.com)