Sempat Koma 4 Hari, ASN Pemkot Surabaya Widya Riskyanti Meninggal Dunia Usai Jadi Korban Jambret
Samsul Arifin June 06, 2026 10:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Kabar duka di lingkungan Pemkot Surabaya. 

Staf Kantor Pertanahan Kota Surabaya II, Widya Riskyanti (28), meninggal dunia setelah sempat koma selama empat hari di RSUD dr Soetomo Surabaya.

Ia mengembuskan napas terakhir pada Jumat (5/6/2026) sekitar pukul 15.49 WIB, usai menjadi korban penjambretan di Jalan Kusuma Bangsa, Kecamatan Genteng, Surabaya, atau tepatnya di belakang Grand City Mall, pada Selasa (2/6/2026) sore.

Peristiwa tragis tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama karena almarhumah diketahui sebagai tulang punggung keluarga yang membiayai kehidupan ibunda serta pendidikan dua adiknya.

Korban Jadi Tulang Punggung Keluarga

Widya merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Sejak ayahnya meninggal sekitar setahun lalu, ia menjadi penopang ekonomi keluarga, termasuk membiayai sekolah dua adiknya yang masih menempuh pendidikan.

Kehilangan Widya membuat keluarga terpukul. Sang ibunda, Isnaini Budiarti (53), mengaku tak menyangka anaknya menjadi korban kejahatan hingga merenggut nyawa.

Baca juga: ASN Wanita Tergeletak di Jalan Kusuma Bangsa Surabaya, Diduga Jadi Korban Jambret 

"Ya Allah, Widya tulang punggung kami. Widya masih membiayai adik-adiknya. Kok tega pelakunya Ya Allah," ujarnya saat ditemui di Rusun Indrapura, Sabtu (6/6/2026).

Mengingat peristiwa pada Selasa malam itu, membuatnya degub jantungnya kembali berdebar. Tak biasanya Widya terlambat pulang. Biasanya, sore hari, sang anak sudah tiba di rumah, lalu bercengkrama dengan adik-adiknya. 

Namun, Selasa malam itu, gundah gulana yang menjadi penghantar pertanyaan; mengapa Widya tak kunjung pulang atau berkabar jika memang terlambat sampai rumah. 

Isnaini sempat menelepon ponsel sang anak, namun tak kunjung tersambung. Biasanya, jikalau memang pulang terlambat atau barang kali ada kegiatan tambahan di kantor atau bersama teman-temannya, sang anak selalu berkabar. 

Ternyata, momen mendebarkan pada Selasa malam itu, benar-benar terjawab dengan air mata. Tatkala beberapa orang tetangga mendatanginya dan berkabar bahwa sang anak terlibat kecelakaan seraya menunjuk bukti dokumentasi foto motor sang anak, tangisnya langsung pecah. 

"Katanya ini warga sini itu, tapi motornya juga dilihatin, dilihat difoto toh. Ternyata ya memang itu punya anak saya. Benar ya," katanya. 

Pelaku penjambret berhasil mengambil tas sang anak yang berisi kartu identitas, ATM, uang, dan surat berharga milik sang anak yang disimpan di dalamnya. 

Menurut Isnaini, sang anak biasanya memang lewat rute Jalan Kusuma Bangsa untuk berangkat atau pulang ke rumah. 

Sang anak merupakan ASN di Kantor Dinas Pertanahan Kota Surabaya, sejak tahun 2017. Beberapa tahun lalu, tempat dinas sang anak berapa di kawasan Surabaya Utara. 

Tapi, semenjak setelah Hari Raya Idulfitri 2026 pada kisaran Bulan April kemarin, tempat dinas sang anak dipindah agak jauh di Surabaya Selatan. 

"Kalau itu dekat toh ya, aku enggak khawatir. Terus habis Lebaran kemarin langsung pindah ke sana," katanya. 

Menurut Isnaini, insiden penjambretan tersebut membuat anaknya mengalami luka parah pada bagian kepala.

sang anak sudah sempat mendapatkan penanganan medis; operasi, tapi kondisinya tak kunjung membaik. 

Widya terus menerus dalam keadaan tak sadarkan diri atau koma di kasur perawatan medis. 

Hingga, akhirnya, sang anak mengembuskan nafas terakhir, pukul 15.49 WIB, pada Jumat (5/6/2026). 

"Proses pemulihan gitu sebenarnya. Tapi enggak sadar-sadar dari habis dioperasi itu," pungkasnya. 

Kesaksian terhadap mendiang Widya juga dikisahkan sang kakak sulung, Irma Muslika (33). Saat berada di rumah sakit, ia sama sekali tidak bisa mengenali wajah sang adik. Karena kondisinya bengkak terluka dan berdarah. 

Karena, selama ini dirinya sudah tidak tinggal serumah dengan sang adik di rusun, semenjak menikah dan dikaruniai dua anak. Namun, yang bisa mengenali adalah sang ibunda, Isnaini Budiarti. 

Ibundanya mengenali sang adik dari pakaian seragam batik Korpri dinas ASN. Ternyata, kondisi luka sang adik begitu parah, sehingga harus menjalani operasi. 

Setelah dioperasi, ternyata kondisi sang adik tak kunjung membaik. Widya, koma selama empat hari, hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 15.49 WIB, pada Jumat (5/6/2026)

"Saya saya keluarga mencoba untuk ikhlas. Tapi saya bakal usut terus, Pak, kasus ini. Pelakunya harus mendapat hukuman setimpal," katanya saat ditemui TribunJatim.com

Irma berharap Anggota Polrestabes Surabaya segera menangkap seluruh pelaku penjambret yang menyebabkan adiknya koma hingga meninggal dunia.

Ia tak ingin, penjambret tersebut beraksi kembali dan menyebabkan orang lain meninggal dunia atau terluka. Irma juga berharap, para pelaku dapat dihukum seberat-beratnya

"Saya enggak mau damai, nyawa harus bayar nyawa, kalau bisa seumur hidup. Polisi semoga bisa menangkap semua pelaku karena sudah menghilangkan nyawa. Jahat banget. Cukup, ke adik saja, jangan ke yang lainnya," pungkasnya. 

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Genteng Polrestabes Surabaya Iptu Vian Wijaya membenarkan, penyelidikan atas kasus yang dialami korban masih bergulir. Personelnya masih memburu para pelaku. "Mohon waktu, nanti akan kami sampaikan," ujarnya saat dihubungi TribunJatim.com

Kronologi Kejadian Jambret di Jalan Kusuma Bangsa

Peristiwa bermula saat Widya pulang kerja seperti biasa melintasi kawasan Jalan Kusuma Bangsa, rute yang selama ini rutin dilaluinya. Namun pada Selasa sore itu, ia diduga menjadi korban penjambretan oleh pemotor misterius yang merampas tasnya.

Tas tersebut berisi kartu identitas, ATM, uang, dan surat berharga. Akibat kejadian itu, korban terjatuh dan mengalami luka parah di bagian kepala.

Setelah kejadian, warga sempat memberikan pertolongan dan korban segera dibawa ke rumah sakit untuk menjalani penanganan medis dan operasi.

Namun, kondisi Widya tidak kunjung membaik dan ia terus berada dalam keadaan koma selama empat hari hingga akhirnya meninggal dunia.

Keluarga Tak Menyangka dan Minta Pelaku Ditangkap

Sang ibu mengaku sempat cemas karena Widya tidak kunjung pulang seperti biasanya. Upaya menghubungi korban pun tidak berhasil hingga akhirnya kabar kecelakaan datang dari tetangga.

"Katanya ini warga sini itu, tapi motornya juga dilihatin, dilihat difoto toh. Ternyata ya memang itu punya anak saya. Benar ya," kata Isnaini.

Sementara itu, kakak korban, Irma Muslika (33), mengaku tidak dapat langsung mengenali kondisi adiknya di rumah sakit karena luka yang cukup parah.

Ia menegaskan keluarga meminta polisi mengusut tuntas kasus tersebut dan menangkap pelaku.

"Saya enggak mau damai, nyawa harus bayar nyawa, kalau bisa seumur hidup. Polisi semoga bisa menangkap semua pelaku karena sudah menghilangkan nyawa. Jahat banget. Cukup, ke adik saja, jangan ke yang lainnya," ujarnya.

Polisi Masih Selidiki Kasus Jambret Maut
Kanit Reskrim Polsek Genteng Polrestabes Surabaya, Iptu Vian Wijaya, membenarkan bahwa kasus penjambretan yang menimpa korban masih dalam proses penyelidikan.

Pihak kepolisian saat ini masih melakukan pengejaran terhadap pelaku yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.

"Mohon waktu, nanti akan kami sampaikan," ujarnya.

Kronologi Kejadian

kronologi pemotor wanita berseragam batik warna biru Korpri tergeletak di tengah jalan seusai dijambret pemotor misterius di Jalan Kusuma Bangsa, Genteng, Surabaya, atau tepat belakang gedung Mal Grand City, pada Selasa (2/6/2026) sore.

Informasinya, pemotor tersebut berinisial W (28) warga Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya. Korban sempat memperoleh penanganan medis di lokasi oleh Tim Medis PMI Kota Surabaya. Lalu, korban dirujuk ke RSUD dr Soetomo Surabaya.

"Teman saya kira kecelakaan biasa. Tapi pas petugas datang ternyata korban itu kena jambret. Perempuan, kayaknya sendirian, iya pakai seragam Korpri biru. Engga tahu PNS atau guru," ujarnya saat ditemui awak media di lokasi, pada Rabu (3/6/2026).

Hal senada juga disampaikan, saksi pedagang soto, LK (32), bahwa dirinya tak mengetahui pasti apakah perempuan tergeletak itu adalah korban kecelakaan biasa atau kejahatan jambret. 

Namun, kemarin, dirinya sempat melihat korban langsung ditangani oleh petugas BPBD Kota Surabaya yang mendatangi lokasi tersebut. Lalu, tak lama kemudian, korban dievakuasi menggunakan ambulan. 

"Kemarin waktu aku melintas dari rumah mau kerja ke warung lihat ada mas-mas baju oranye nolong orang di tikungan itu," ujarnya saat ditemui awak media. 

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Genteng Polrestabes Surabaya Iptu Vian Wijaya mengatakan, korban merupakan perempuan berinisial W (28) warga Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya. Korban merupakan pegawai atau staf berstatus P3K di instansi BPN. 

Kasus tersebut sedang diselidiki oleh personelnya. Sehingga, Vian belum bisa menyampaikan secara rinci mengenai kasus tersebut, hingga nanti penyelidikan dinyatakan selesai dan pelaku berhasil ditangkap. 

"Masih kamia lakukan penyelidikan, apakah benar laka lantas atau curas. (Latar belakang korban) P3K BPN," ujarnya saat dihubungi TribunJatim.com, pada Rabu (3/6/2026). 

Jalan Kusuma Bangsa Surabaya Rawan Kejahatan

Akibatnya, Motor Honda Vario 150 New warna hitam doff bernopol L-2141-AAG beserta STNK-nya, dan sebuah ponsel, dengan nilai kerugian total sekitar Rp25 juta, raib dibawa komplotan pelaku. 

Kakak kandung korban Fahmi (25) mengatakan, adiknya sempat ditodong pisau pada bagian perut saat dibawa para pelaku di kawasan Jalan Kusuma Bangsa, Rabu (8/4/2026) malam. 

Sehingga, sang adik kala itu, tidak berani berteriak meminta tolong kepada pengendara yang melintas atau warga yang bermukim di dekat lokasi tersebut. 

Tak cuma itu, sang adik juga sebelumnya sempat dihajar berkali-kali hingga wajah dan beberapa bagian tubuhnya memar akibat pukulan dari keempat pelaku. 

"Sebelum sampai di Jalan Pandan, adik saya sempat diancam diam serta ada perlakuan pemukulan di lajur kiri rel ambengan," ujarnya saat dihubungi TribunJatim.com, pada Kamis (9/4/2025).

Akibat insiden tersebut, lanjut Fahmi, selain kehilangan harta benda dan barang pribadi, sang adik juga mengalami syok dan trauma. 

Kendati begitu, secara umum, kondisi fisik sang adik dalam keadaan stabil atau berangsur-angsur membaik. 

"Alhamdulillah sudah lumayan membaik luka-luka yang dialami cuma luka memar di beberapa titik anggota badan di area pipi, pelipis, punggung. Korban sedikit banyak merasakan trauma," katanya. 

Berdasarkan cerita yang dituturkan sang adik. Fahmi menerangkan, korban semula bermotoran sendirian beriringan bersama satu orang temannya di kawasan perempatan besar Jalan Kenjeran. 

Lalu, motor korban mengarah ke ruas Jalan Rangkah untuk putar balik memasuki Jalan Rangkah Gang II. 

Nah, sesaat setelah 15 meter memasuki gang tersebut. Korban dicegat dan diancam senjata tajam jenis pisau oleh para pelaku berjumlah empat orang. 

"Mereka berboncengan masing-masing berpasangan dua orang mengendarai dua motor. Lalu putar balik menuju rangkah Gang 2. Setelah masuk rangkah Gang 2 kurang lebih 15 meteran tiba-tiba adik saya dipecok sama orang misterius berjumlah 4 orang," ungkapnya. 

"Lanjut ke arah lampu merah Ambengan pelaku mengarahkan kendaraan ke arah resto mi goreng lalu putar balik tepat di belakang Mal Grand City. Lalu pelaku melakukan eksekusi terakhir setelah belok masuk di Jalan Pandan," tambahnya. 

Fahmi menambahkan, para pelaku memaksa korban untuk mengikuti mereka. Caranya, dua orang pelaku tiba-tiba mengambil alih motor yang dikemudikan korban. 

Lalu, korban dipaksa duduk di bagian tengah bangku boncengan untuk dibawa ke suatu lokasi kawasan Jalan Ambengan hingga Jalan Stasiun Gubeng atau tepat belakang Mal Grand City. 

Selama dibonceng paksa untuk berkeliling itu, adiknya terus menerus dihajar oleh para pelaku. Hingga akhirnya korban dibawa di Jalan Kusuma Bangsa. Lalu dipaksa turun dari motor dan diancam bakal ditusuk pisau untuk menyerahkan motor, STNK dan ponsel. 

"Jumlah pelaku 4 orang, pakai pakaian dan jaket serba hitam. Pakai motor Scoopy merah, PCX hitam, Vario hitam kondisi pelat sudah ditutup semua," katanya. 

Menurut Fahmi, sang adik sempat berusaha mengejar dan meneriaki pelaku yang kabur membawa motor tersebut. 

Hingga akhirnya teriakan sang adik berhasil menyita perhatian tiga orang kurir jasa paket dan akhirnya dibantu untuk berkeliling di sekitar ruas jalan tersebut untuk mencari pelaku. 

"Adik saya sudah teriak dan ada lumayan banyak pegawai dari (perusahaan jasa antar barang) yang mengetahui lalu mengejar pelaku, tetapi lagi-lagi pelaku terlalu sat-set dan tidak terkejar," pungkasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.