Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino berpotensi mengganggu produksi pertanian di Jawa Barat.
Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan Acuviarta Kartabi, menuturkan pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampaknya terhadap pasokan pangan agar tidak memicu lonjakan harga sejumlah komoditas pokok dalam beberapa bulan ke depan.
"Pertama dari sisi produksi memang harus ada antisipasi. Pengaturan terkait pengairan karena ancamannya kekeringan dan ujungnya bisa gagal panen. Jadi dari sistem produksinya juga perlu ada tindakan antisipatif," kata Acuviarta saat dihubungi Tribunjabar id, Sabtu (6/6/2026) malam.
Meskipun puncak kemarau yang dipicu El Nino bukan persoalan baru karena hampir selalu muncul dalam siklus tertentu. Namun, dampaknya terhadap produksi pangan tetap perlu mendapat perhatian, terutama pada komoditas yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Selain menjaga produksi, Acuviarta menilai kerja sama antardaerah perlu diperkuat untuk memastikan pasokan pangan tetap tersedia. Pasalnya, dampak El Nino tidak akan dirasakan secara merata di seluruh wilayah pertanian.
"Beberapa daerah tingkat intensitas El Nino-nya tidak sama, terutama kawasan pertanian. Sehingga kerja sama daerah ini bisa memperbaiki pasokan dan distribusi yang terdampak," ujarnya.
Ia juga menilai pemerintah perlu menyiapkan opsi impor untuk komoditas tertentu apabila produksi dalam negeri terganggu.
Salah satu komoditas yang mulai menunjukkan kenaikan harga adalah bawang merah.
"Bawang merah di bulan Mei sudah terlihat terjadi kenaikan. Saya kira seperti bawang merah ini perlu diantisipasi dengan kebijakan impor kalau kemudian terdampak lebih jauh," katanya.
Selain bawang merah, Acuviarta menyoroti cabai merah yang pada Mei lalu menjadi kontributor terbesar inflasi di Jawa Barat.
Sebagai informasi, inflasi di Jawa Barat pada Mei 2026 tercatat 0,24 persen. Adapun secara tahunan atau (Year on Year) tercatat sebesar 3,07 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi y-on-y Mei 2025 yang berada di level 2,78 persen.
Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar bulan ini mencakup cabai merah, bawang merah, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, dan bensin.
Sebaliknya, komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar adalah telur ayam ras, emas perhiasan, daging ayam ras, bawang putih, dan tomat.
Menurutnya, komoditas hortikultura seperti cabai dan sayuran sangat sensitif terhadap perubahan cuaca sehingga rentan mengalami gejolak harga.
"Memang kalau kita lihat juga cabai merah bulan kemarin menjadi kontributor tertinggi inflasi di Jawa Barat. Kalau saya melihat memang ada potensi kenaikan harga komoditas pangan," ujarnya.
Menurut Acuviarta, pemerintah perlu terus memantau perkembangan pasokan komoditas pangan yang memiliki siklus produksi pendek karena dampaknya terhadap harga biasanya berlangsung cepat.
Sementara itu, tekanan terhadap harga pangan juga berpotensi datang dari komoditas impor seperti kedelai.
Acuviarta menyebut ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai masih sangat tinggi, mencapai lebih dari 70 persen kebutuhan nasional.
"Pasokan kedelai ini sangat tergantung kepada impor. Dengan kondisi nilai tukar sekarang tentu cukup menyulitkan," katanya.
Ia mengatakan jika kenaikan harga kedelai semakin sulit dikendalikan, salah satu langkah yang dapat ditempuh pelaku usaha adalah melakukan penyesuaian volume produk untuk menekan kenaikan harga di tingkat konsumen.
"Kalau dampaknya terhadap kenaikan harga sangat besar, mungkin ada pengurangan volume atau ukuran produk supaya harga tetap bisa dijangkau masyarakat," ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga didorong mencari alternatif negara pemasok kedelai agar tidak hanya bergantung pada satu sumber impor.
Menurut Acuviarta, diversifikasi pasar impor dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi tekanan akibat penguatan dolar AS.
"Kita harus mencari alternatif impor kedelai. Karena memang pasokan kedelai kita masih sangat bergantung pada impor," katanya. (*)