Standardisasi dan Keamanan Pangan di Industri Kecil-Menengah Perlu Terus Didorong
Erik S June 06, 2026 11:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  — Standardisasi dan keamanan pangan di industri kecil dan menengah (IKM) perlu terus didorong untuk melindungi kepentingan konsumen.

Badan Stadardisasi Nasional (BSN) menyatakan, Indonesia saat ini memiliki lebih dari 13.000 SNI yang aktif, namun tingkat penerapannya di kalangan industri kecil dan menengah belum tinggi dan masih perlu terus didorong.

Salah satu upayanya adalah melalui kegiatan edukasi berbasis kampus sebagai pendekatan yang strategis dan tepat sasaran.

Nindya Malvins Trimadya selaku Ketua Tim Kerja Diseminasi Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyampaikan apresiasinya terhadap partisipasi sektor industri dalam program ‘SNI Goes to Campus’.

Menurutnya, keterlibatan dunia usaha memegang peran penting dalam mendekatkan pemahaman standardisasi dengan praktik nyata di dunia kerja.

‘Keterlibatan perusahaan membuktikan bahwa penerapan standar bukan hanya urusan laboratorium, tetapi menyentuh seluruh aspek operasional bisnis. Ini pesan yang perlu diterima mahasiswa sedini mungkin’, ungkapnya di kegiatan SNI Goes to Campus yang diselenggarakan Badan Standardisasi Nasional (BSN) di Institut Pertanian Bogor (IPB University).

Dia mengatakan, keterlibatan aktif sektor industri seperti Garudafood dalam gerakan ini mempertegas komitmen perusahaan dalam edukasi keamanan pangan kepada masyarakat luas.

Pemahaman mendalam mahasiswa tentang standardisasi industri merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan nasional sekaligus menciptakan ekosistem industri yang bertanggung jawab dan transparan, sekaligus mendukung agenda pencapaian ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

Program ‘SNI Goes to Campus’ di IPB University juga melibatkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dan diikuti ratusan mahasiswa.

Baca juga: LNK Perkuat Komitmen Keamanan Pangan Melalui Sertifikasi SNI untuk Seluruh Lini Produk

Prof. Dr. Ir. Yulin Lestari, Direktur Transformasi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran Institut Pertanian Bogor (IPB University) menekankan pentingnya pengintegrasian aspek standardisasi ke dalam kerangka kurikulum pendidikan tinggi sebagai upaya strategis meningkatkan kesiapan lulusan dalam memasuki dunia kerja.

Kolaborasi lintas sektor ini dijadwalkan akan terus bergulir dan menyambangi berbagai perguruan tinggi lainnya di seluruh wilayah Indonesia sepanjang tahun 2026, guna mencetak generasi muda yang sadar mutu dan siap berdaya saing tinggi. 

Head of Q-SHE & MFG Innovation, Bangun Raharjo membagikan pengalaman empiris serta praktik terbaik implementasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dalam rantai produksi industri makanan dan minuman skala besar.

Dalam paparannya, Bangun Raharjo menjelaskan, SNI bukan sekadar kewajiban regulasi, melainkan telah menjadi bagian dari budaya kerja perusahaan yang mengakar.

‘Standar bukan hanya tentang memenuhi persyaratan dan regulasi, tetapi tentang membangun disiplin, konsistensi, dan kepercayaan sehingga menjadi budaya kerja yang dijalankan setiap hari," ujarnya.

Pemahaman mahasiswa tentang pentingnya standardisasi sejak dini akan memiliki kesiapan lebih baik untuk masuk ke dunia industri, yang diyakini berkontribusi pada produk yang aman, bermutu, dan berdaya saing.

Dia menjelaskan, standar SNI sudah diterapkan di perusahaaan pada kategori produk biskuit sejak tahun 2014, meskipun regulasi belum mewajibkannya.

Baca juga: Menko Zulhas Hadiri Bimbingan Teknis Keamanan Pangan yang Diikuti Ribuan Karyawan Dapur MBG

Langkah ini mencerminkan keyakinan perusahaan bahwa standardisasi merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga konsistensi kualitas, meningkatkan kepercayaan konsumen, serta memperkuat daya saing produk nasional di pasar.

Melalui kegiatan ini, perusahaan bisa menggaungkan edukasi mengenai keamanan pangan (food safety) dan standardisasi produk kepada civitas academica.

Perusahaan menilai bahwa sektor perguruan tinggi memiliki peran krusial sebagai agen perubahan dalam menyebarluaskan kesadaran akan produk pangan yang aman, bermutu, dan memiliki sistem ketertelusuran yang jelas, sehingga asal bahan baku hingga proses distribusinya dapat diketahui.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.