TRIBUNNEWS.COM - Timnas Portugal mendapat modal positif menuju Piala Dunia 2026 dengan kemenangan 2-1 melawan Chile dalam laga uji coba di Oeiras, Lisbon, Minggu (7/6/2026).
Namun di balik kemenangan 2-1 atas Chile, perhatian publik justru tertuju kepada satu nama yang merupakan bintang AC Milan, Rafael Leao.
Penyerang yang dirumorkan bakal segera meninggalkan Serie A ini menjadi sorotan setelah menerima kartu merah akibat terlibat perkelahian dengan pemain Chile.
Insiden terjadi sesaat sebelum babak pertama berakhir. Awalnya, keributan melibatkan Joao Cancelo dan pemain Chile, Faundez.
Situasi yang sudah memanas semakin memburuk ketika bek Chile, Ivan Roman, ikut masuk ke dalam kerumunan pemain.
Leao yang datang untuk memisahkan para pemain justru kehilangan kendali. Dalam tayangan ulang, pemain berusia 27 tahun tersebut terlihat melayangkan pukulan ke arah wajah Roman.
Wasit asal Italia, Luca Zufferli, sempat menghentikan pertandingan untuk meninjau situasi sebelum akhirnya mengeluarkan kartu merah langsung kepada Leao dan Roman.
Upaya Cristiano Ronaldo yang mencoba berdiskusi dengan wasit tidak mampu mengubah keputusan tersebut. Leao hanya tersenyum saat meninggalkan lapangan setelah menerima kartu merah
Insiden itu langsung memunculkan kekhawatiran di kubu Portugal. Pasalnya, Piala Dunia 2026 tinggal menghitung hari dan Leao merupakan salah satu pemain penting dalam skema pelatih Roberto Martinez.
Baca juga: Dua Sisi Roberto Martinez Bagi Timnas Portugal di Piala Dunia 2026
Kartu merah tersebut semakin memperkuat anggapan bahwa Leao masih memiliki persoalan dalam hal kedisiplinan dan pengendalian emosi.
Dalam beberapa pekan terakhir, nama Leao memang menjadi bahan perbincangan di Italia.
Ia disebut frustrasi dengan situasinya di AC Milan dan dikabarkan ingin mencari tantangan baru di Liga Inggris atau Liga Spanyol.
Musim lalu juga tidak berjalan mulus bagi sang winger. Ia beberapa kali absen akibat hukuman dan sempat kehilangan tempat utama di bawah pelatih baru Milan, Massimiliano Allegri.
Karena itu, laga bersama Portugal sebenarnya menjadi kesempatan ideal bagi Leao untuk menunjukkan kualitasnya di hadapan dunia sekaligus meningkatkan nilai pasarnya menjelang bursa transfer musim panas.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih menjadi pembeda di lapangan, Leao meninggalkan pertandingan lebih cepat dan menambah pekerjaan rumah bagi tim pelatih Portugal.
Secara aturan, kartu merah akibat tindakan kekerasan berpotensi berujung hukuman hingga tiga pertandingan.
Jika skenario tersebut diterapkan sepenuhnya, Leao bisa melewatkan laga uji coba terakhir melawan Nigeria serta dua pertandingan awal Portugal di Piala Dunia 2026 menghadapi Republik Demokratik Kongo dan Uzbekistan.
Dalam beberapa kasus sebelumnya, FIFA kerap mengurangi masa hukuman dengan memberikan sebagian sanksi dalam status percobaan.
Cristiano Ronaldo pernah mengalami situasi serupa setelah mendapat kartu merah saat menghadapi Republik Irlandia pada November lalu.
Saat itu ia hanya menjalani hukuman satu pertandingan dengan absen melawan Armenia, sementara sisa larangan bermain ditangguhkan.
Jika pendekatan yang sama digunakan FIFA, peluang Leao tampil pada fase grup Piala Dunia masih cukup besar.
Baca juga: Bisnis Mesra AC Milan dan Chelsea Berlanjut Lewat Garnacho, Kuncinya Ada di Leao
Terlepas dari kontroversi tersebut, Portugal tetap datang ke Piala Dunia 2026 sebagai salah satu unggulan utama.
Skuad Roberto Martinez dinilai memiliki keseimbangan yang sangat baik di setiap lini.
Kekuatan terbesar mereka berada di sektor tengah yang dihuni pemain-pemain elite seperti Bruno Fernandes, Vitinha, Joao Neves, dan Bernardo Silva.
Bruno Fernandes bahkan baru saja menorehkan musim luar biasa bersama Manchester United dengan mencatatkan 21 assist di Liga Inggris 2025/2026.
Sementara Vitinha dan Joao Neves menjadi bagian penting keberhasilan Paris Saint-Germain meraih dua gelar Liga Champions secara beruntun.
Tak mengherankan jika Portugal masuk dalam daftar favorit sejumlah pengamat. Ketua Umum NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari, bahkan secara terbuka menjagokan Cristiano Ronaldo dan kolega untuk menjadi juara dunia.
"Untuk Piala Dunia 2026, saya lihatnya ada tiga di pikiran saya, itu ada Argentina, Belanda, Portugal, tapi hati saya itu lebih ke Portugal," ujar Okto kepada Tribunnews di Senayan, Jakarta,Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, faktor Ronaldo menjadi alasan utama. Piala Dunia 2026 diyakini akan menjadi "last dance" sang megabintang di panggung sepak bola terbesar dunia.
"Kenapa Portugal? Ya pertama saya memang suka sama Portugal dan ini juga akan jadi last dance-nya Ronaldo. Biasanya kalau last dance itu akan memberikan yang terbaik. Apalagi untuk orang seperti Ronaldo," tegasnya.
Portugal sendiri tergabung di Grup K bersama Kolombia, Uzbekistan, dan Republik Demokratik Kongo. Secara kualitas, Selecao das Quinas difavoritkan untuk keluar sebagai juara grup.
Namun sebelum memikirkan peluang mengangkat trofi, Portugal kini lebih dulu menanti keputusan FIFA terkait Rafael Leao.
Di tengah tingginya ekspektasi menuju Piala Dunia, insiden yang melibatkan bintang AC Milan itu menjadi gangguan yang sebenarnya tidak mereka perlukan.
(Tribunnews.com/Tio/Abdul Majid)