Oleh: Prof Dr Abd Hamid Paddu MA
Dewan Pakar CIDES ICMI Sulsel
TRIBUN-TIMUR.COM - Di hampir setiap ruang diskusi pembangunan daerah, pertanyaan yang sama selalu muncul: mengapa Sulawesi Selatan masih tertinggal dibandingkan wilayah Jawa?
Padahal jika yang dihitung adalah sumber daya manusia, Sulawesi Selatan tidak miskin. Kita memiliki masyarakat yang ulet dan tangguh, puluhan perguruan tinggi, ratusan profesor, ribuan doktor, birokrat berpengalaman, pengusaha tangguh, serta diaspora yang tersebar di berbagai pusat ekonomi Indonesia dan dunia.
Tetapi sejarah pembangunan tidak pernah ditentukan oleh banyaknya orang pintar. Sejarah ditentukan oleh kemampuan mengorganisasi pengetahuan menjadi kebijakan. Di situlah Sulawesi Selatan tertinggal.
Selama beberapa dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan relatif baik dibandingkan banyak provinsi lain di luar Jawa. Namun jika dibandingkan dengan kawasan metropolitan di Jawa, jaraknya masih terlalu jauhdan cenderung stagnan.
Pusat-pusat inovasi nasional masih terkonsentrasi di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sebagian Yogyakarta. Sebagian besar investasi teknologi, riset industri, pusat keuangan, dan pengambilan keputusan nasional juga berputar di koridor yang sama.
Sulawesi Selatan sering menjadi pasar. Belum sepenuhnya menjadi pusat gagasan. Kita lebih sering menjadi objek kebijakan daripada produsen kebijakan.Lebih sering menerima program daripada merancang masa depan.
Padahal sejak masa perdagangan maritim Nusantara, Makassar pernah menjadi salah satu simpul ekonomi terpenting di Asia Tenggara.
Ada sesuatu yang hilang dalam perjalanan panjang itu. Bukan keberanian.Bukan sumber daya. Melainkan institusi yang secara konsisten menghasilkan ide besar, diperlukan revolusi kecerdasan, revolusi gagasan Sulawesi.
Negara-negara maju memahami satu hal penting.Kemajuan tidak lahir hanya dari gedung pemerintahan atau proyek infrastruktur. Kemajuan lahir dari lembaga yang memikirkan masa depan.
Amerika Serikat memiliki RAND Corporation, Brookings Institution, Heritage Foundation, CSIS, dan puluhan think tank lainnya. Inggris memiliki Chatham House. Singapura memiliki Institute of Policy Studies. Korea Selatan memiliki Korea Development Institute.
Lembaga-lembaga ini tidak membangun jalan. Tidak mengoperasikan pelabuhan. Tidak menjalankan pemerintahan. Tetapi gagasan mereka membentuk arah pembangunan nasional.
Mereka menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan publik. Mereka mengubah data menjadi keputusan. Mereka menerjemahkan penelitian menjadi strategi.
Sulawesi Selatan membutuhkan institusi semacam itu. Bukan untuk meniru Barat. Tetapi untuk menjawab persoalan kita sendiri.
Bagaimana menjadikan Makassar sebagai pusat logistik Indonesia Timur?
Bagaimana hilirisasi nikel, kakao, rumput laut, dan perikanan benar-benar menciptakan nilai tambah di daerah?
Bagaimana mencegah anak-anak terbaik Sulsel terus bermigrasi ke Jakarta?
Bagaimana memanfaatkan kecerdasan buatan dan ekonomi digital tanpa meninggalkan sektor pertanian?
Bagaimana mempersiapkan Sulsel menghadapi Indonesia Emas 2045?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab dengan rapat rutin. Tidak cukup dengan slogan pembangunan. Diperlukan riset yang serius, independen, dan berkelanjutan.
Karena itu, pembentukan CIDES ICMI Sulsel patut dilihat sebagai momentum yang lebih besar daripada sekadar pembentukan organisasi baru.
Yang dipertaruhkan bukan struktur kepengurusan. Yang dipertaruhkan adalah lahirnya tradisi intelektual baru.Tradisi yang menjadikan pengetahuan sebagai fondasi pembangunan daerah.
CIDES ICMI Sulsel memiliki modal yang tidak kecil. Di dalamnya berkumpul akademisi, profesional, pengusaha, birokrat, dan tokoh masyarakat dengan pengalaman lintas sektor. Tetapi modal intelektual hanya akan menjadi daftar nama jika tidak diubah menjadi karya nyata.
Tantangan terbesar CIDES bukanlah membuat seminar. Bukan pula menerbitkan laporan. Tantangannya adalah menghasilkan gagasan yang memengaruhi kebijakan.Membantu pemerintah mengambil keputusan yang lebih baik. Mengurangi biaya kesalahan kebijakan.Meningkatkan kualitas pembangunan daerah.
Di era kecerdasan buatan, nilai sebuah daerah tidak lagi ditentukan oleh luas wilayah atau jumlah penduduk semata. Nilainya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan kini menjadi sumber daya strategis yang bahkan lebih berharga daripada komoditas.
Nikel bisa habis, Batubara bisa habis, Gas bisa habis.Tetapi ide yang baik dapat menghasilkan kemakmuran tanpa batas. Kita hidup pada masa ketika algoritma, data, riset, dan inovasi menjadi mata uang baru pembangunan.Daerah yang mampu menguasainya akan melompat jauh ke depan. Daerah yang mengabaikannya akan semakin tertinggal.
Sulawesi Selatan sebenarnya memiliki semua syarat untuk menjadi pusat pertumbuhan baru Indonesia. Posisi geografis strategis. Sumber daya alam melimpah. Budaya kewirausahaan yang kuat. Kampus-kampus besar.Jaringan diaspora yang luas. Yang belum kita miliki adalah ekosistem gagasan yang bekerja secara sistematis.
Kita membutuhkan “pabrik ide”. Kita membutuhkan “mesin pemikiran strategis”. Kita membutuhkan tempat di mana para ilmuwan, ekonom, insinyur, teknolog, sosiolog, pengusaha, dan pembuat kebijakan duduk bersama memikirkan masa depan Sulawesi Selatan.
Jika CIDES ICMI Sulsel mampu memainkan peran itu secara konsisten, bukan mustahil suatu hari nanti rekomendasi kebijakan yang lahir dari Makassar akan dibaca di Jakarta.Bahkan diperhatikan di Asia.
Pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah tidak ditentukan oleh berapa banyak anggaran yang dibelanjakan. Ia ditentukan oleh kualitas gagasan yang memandu penggunaan anggaran tersebut. Dan sejarah menunjukkan bahwa setiap lompatan besar peradaban selalu diawali oleh sekelompok orang yang berani memikirkan masa depan lebih jauh daripada zamannya.
Sulawesi Selatan tidak kekurangan orang pintar. Yang kita perlukan sekarang adalah keberanian untuk mengorganisasi kecerdasan itu menjadi kekuatan pembangunan.
Mungkin di situlah arti penting CIDES ICMI Sulsel. Bukan sekadar organisasi. Melainkan ikhtiar menjadikan Sulawesi Selatan bukan hanya lebih maju, tetapi juga lebih mampu memikirkan dirinya sendiri.(*)
Makassar, 07 Juni 2026.