Donald Trump Sebut Iran Miliki Harga Diri Tinggi, Selat Hormuz Kembali Membara Akibat Saling Serang
Rustam Aji June 07, 2026 10:26 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, WASHINGTON DC – Di tengah tersendatnya perundingan damai AS Iran, ketegangan di kawasan Teluk justru kembali membara setelah militer Iran meluncurkan rentetan serangan rudal Iran berbentuk rudal balistik dan drone ke pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait dan Bahrain, Sabtu (6/6/2026). 

Eskalasi bersenjata ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump memberikan pujian terbuka dengan menyebut para pemimpin Iran sebagai sosok yang kuat dan memiliki harga diri tinggi dalam program Meet the Press di NBC News, Jumat (5/6/2026).

Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) melalui media sosial X mengonfirmasi bahwa militer AS berhasil mencegat beberapa rudal balistik dan drone yang diarahkan menuju Selat Hormuz serta sejumlah negara Teluk.

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeklaim gempuran tersebut merupakan aksi balasan atas tindakan militer Washington sebelumnya di wilayah Sirik dan Pulau Qeshm yang dituding menewaskan warga sipil.

Dampak dari serangan ini langsung memicu aktivasi sistem pertahanan udara di Kuwait dan membunyikan sirene udara di seluruh penjuru Bahrain.

Baca juga: Mata-Matai Pejabat Top Washington, Status Ancaman Spionase Israel Dinaikkan ke Level Kritis oleh AS

Saling Serang di Selat Hormuz Persulit Jalur Diplomasi

Aksi saling balas ini berawal ketika pasukan militer AS menembak jatuh empat drone milik Iran yang dinilai mengancam langsung lalu lintas maritim regional di Selat Hormuz, Jumat (5/6/2026). 

Menanggapi hal tersebut, AS langsung melancarkan serangan udara balasan yang menyasar instalasi situs radar Iran di kawasan pesisir selatan, tepatnya di Kota Goruk dan Pulau Qeshm. Centcom menegaskan bahwa penghancuran radar pengawas pantai tersebut terpaksa dilakukan demi mempertahankan diri dan menjaga keselamatan navigasi internasional.

Di sisi lain, militer Iran mengklaim telah menembakkan rudal peringatan ke arah dua kapal perusak milik AS di Teluk Oman. Rentetan insiden berdarah ini diprediksi para pengamat akan semakin mempersulit upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan sejak pecah pertama kali melalui serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026.

Donald Trump Klaim Militer Iran Melemah Namun Tetap Kuat

Meskipun situasi di lapangan terus memanas, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan mengenai kesepakatan sementara untuk menghentikan perang masih berjalan namun membutuhkan waktu.

Baca juga: Opsen Bikin Tunggakan Pajak Kendaraan di Jateng Tembus Rp3 Triliun, Cilacap dan Banyumas Tertinggi

"Karena mereka kuat. Mereka bangga. Ada hal-hal yang tidak pernah mereka duga akan mereka lakukan, yang kini harus mereka lakukan. Mereka tidak punya pilihan," ujar Trump sebagaimana dilansir Reuters.

Trump menambahkan, meskipun sebagian besar fasilitas manufaktur drone dan rudal Iran telah hancur akibat serangan sekutu, Teheran diperkirakan masih menyimpan sekitar 21 persen hingga 22 persen dari total pasokan rudal mereka. Angka tersebut dinilai masih cukup besar untuk menimbulkan ancaman nyata di wilayah Teluk.

Hingga saat ini, AS dan Iran masih terjebak dalam negosiasi tidak langsung. Melalui kesepakatan darurat ini, isu-isu krusial termasuk penundaan program nuklir Iran sedianya akan digeser ke perundingan berikutnya. Namun, dengan kembali digempurnya pangkalan militer AS di kawasan Teluk, masa depan resolusi konflik ini kembali berada di titik nadir. (danur/aditya/kps)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.