Purbaya Bongkar Penyebab Rupiah Tertekan, Tegaskan Ekonomi RI Masih Kuat di Tengah Sentimen Negatif
Eri Ariyanto June 07, 2026 11:44 AM

TRIBUNNEWSAMKER.COM - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih berada dalam posisi yang kuat meski nilai tukar rupiah menghadapi tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, pelemahan rupiah bukan disebabkan oleh fundamental ekonomi nasional yang memburuk, melainkan lebih dipengaruhi oleh sentimen negatif yang berkembang di pasar keuangan.

Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa berbagai indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja yang solid, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi yang terkendali, hingga stabilitas sektor keuangan.

Purbaya juga menilai munculnya berbagai persepsi negatif di pasar telah memberikan tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Meski demikian, ia memastikan pemerintah terus memantau perkembangan situasi dan menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan untuk merespons kekhawatiran sejumlah pihak terkait fluktuasi nilai tukar rupiah yang belakangan menjadi sorotan publik.

Purbaya pun mengajak masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh sentimen jangka pendek yang belum tentu mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya.

Ia optimistis ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga dan mampu menghadapi berbagai tantangan global yang masih berlangsung hingga saat ini.

Baca juga: Detik-detik WN Rusia Dibekuk BNN di Bali, Kedapatan Selundupkan 7,8 Kg Narkoba Jenis Hashish

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan kondisi ekonomi negara baik-baik saja, di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Purbaya mengatakan Indonesia tidak sedang dalam kondisi menuju krisis ekonomi seperti periode 1997-1998.

Sebab, menurut dia, kondisi keuangan negara baik-baik saja.

Ia menyebut apa yang terjadi saat ini disebabkan oleh sentimen negatif.

"Kita tidak sedang menuju keadaan seperti 1997-1998 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus, hanya ada sentimen negatif di sana-sini yang mengganggu sedikit terhadap nilai tukar (rupiah)," ujar dia di Kantor Bea dan Cukai Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu (6/6/2026), dikutip dari kanal YouTube Kompas TV.

Lebih lanjut, Purbaya mengatakan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa diperbaiki asalkan pemerintah, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dan Bank Indonesia (BI) saling berkoordinasi.

"Itu harusnya bisa diperbaiki dengan kombinasi yang lebih baik antara pemerintah, Kementerian Keuangan dengan bank sentral," imbuhnya.

Hal serupa juga disampaikan Purbaya saat diundang ke DPR RI di hari yang sama.

Ia menekankan fundamental ekonomi Indonesia dalam keadaan amat baik.

MENKEU PURBAYA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (25/3/2026).
MENKEU PURBAYA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (25/3/2026). (KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY)

Purbaya juga mengatakan, saat ini yang menjadi fokus pemerintah adalah berkoordinasi dengan BI agar pertumbuhan ekonomi semakin cepat.

"Dari meeting APBN, dari pertemuan APBN kita kemarin, sudah terlihat fundamental ekonomi kita baik, fiskal juga dalam keadaan yang baik, amat baik malah kalau kita lihat dari acuan-acuan yang ada," ungkap Purbaya di Gedung DPR RI, Kompleks Senayan, Jakarta.

"Jadi ke depan kita akan fokus memastikan kebijakan fiskal berjalan dengan baik, sehingga pertumbuhan kita semakin cepat. Dalam perjalanannya tentu kita akan meningkatkan juga koordinasi dengan Bank Sentral."

"Kita akan mendukung Bank Sentral memperkuat koordinasi supaya kebijakan semakin sinkron, supaya dampak kebijakan antara moneter dan fiskal lebih signifikan ke perekonomian," urainya.

Sinkronisasi itu, diharapkan Purbaya bisa mengembalikan kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia dan memperkuat nilai tukar rupiah.

Ia meyakini kombinasi kebijakan yang selaras antara pemerintah dan bank sentral akan menjaga stabilitas rupiah, sehingga tidak kembali mengalami pelemahan yang lebih dalam.

"Tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai tukar rupiah, sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan, tidak akan melemah lagi ke level yang lebih tinggi dari sekarang," pungkas dia.

Tolak Gelar Rapat Darurat

Sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa menolak usulan untuk menggelar rapat darurat bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terkait melemahnya nilai tukar rupiah.

Sebab, kata Purbaya, ia sudah menyerahkan wewenang untuk mengelola stabilitas nilai tukar rupiah kepada Bank Indonesia (BI).

Menurut Purbaya, BI telah menjalankan kebijakannya secara baik.

"Anda melihat saya panik? Nggak. Pada dasarnya, BI masih menjalankan kebijakan dengan baik dan semuanya masih di bawah kendali mereka," kata Purbaya di Gedung DPR RI, Kamis (4/6/2026).

"Saya serahkan rupiah ke mereka (BI)," lanjut dia.

Meski demikian, Purbaya memastikan pemerintah tidak berdiam diri melihat nilai tukar rupiah yang terus melemah.

Ia mengungkapkan, dari sisi fiskal, pihaknya telah melakukan intervensi langsung ke pasar obligasi.

Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas Surat Berharga Negara (SBN).

"Mungkin Rp8 triliun lebih yang di obligasi ya. Tapi katanya nggak boleh diomongin, nggak apa-apa biar Anda tahu saya intervensi sedikit."

"Terus yield yang 10 tahun kan relatif stabil, cenderung turun. Jadi dampaknya ada ke surat utang kita," pungkas dia.

DPR: Jangan Sampai Harga Barang dan Jasa Naik

Di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, anggota Komisi XI DPR RI, Puteri Komarudin, meminta BI agar segera melakukan antisipatif.

Puteri menilai langkah antisipatif perlu dilakukan secara serius agar inflasi impor bisa dicegah.

"Jangan sampai depresiasi rupiah menyebabkan kenaikan biaya bahan baku dan biaya produksi, lalu diteruskan menjadi kenaikan harga barang dan jasa di tingkat masyarakat," ujar Puteri, Jumat (5/6/2026).

Ia mengingatkan jika transmisi inflasi tersebut terjadi, tekanan terhadap daya beli masyarakat tentu akan semakin berat. 

Terlebih lagi bagi kelompok kelas menengah dan masyarakat rentan yang saat ini masih menghadapi tantangan pemulihan ekonomi pasca-pandemi.

Puteri menegaskan, Komisi XI terus mencermati pergerakan kurs rupiah setiap harinya.

Ia menyebutkan DPR telah menyoroti dan meminta penjelasan BI terkait pelemahan ini dalam rapat kerja yang digelar pada 18 Mei lalu.

Dari rapat tersebut, BI memaparkan bahwa pelemahan kurs rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor musiman.

"Di antaranya tekanan kebutuhan pembayaran dividen, kewajiban utang luar negeri, hingga tekanan arus modal keluar akibat ketidakpastian global," ucap Puteri.

Meski demikian, pihak BI memastikan nilai tukar rupiah akan segera kembali menguat pada periode Juli hingga Agustus mendatang.

Sebagai langkah konkret dan strategi lanjutan untuk memperkuat stabilitas kurs rupiah, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) terkini, BI juga telah memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

Selain instrumen suku bunga, Puteri turut mendorong sinergi antara BI, pemerintah, dan otoritas terkait untuk mengambil langkah penguatan dari sisi pasokan valuta asing (valas).

Salah satunya melalui optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE).

"Saya juga mendorong BI bersama pemerintah dan otoritas terkait untuk mengoptimalkan Devisa Hasil Ekspor dari Komoditas Sumber Daya Alam."

"Menurut saya, langkah ini penting untuk memperkuat pasokan valuta asing di dalam negeri, sehingga dapat menjaga stabilitas rupiah," tuturnya. 

(TribunNewsmaker.com)(Tribunnews.com/Pravitri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.