TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Penampilan jamaah haji Kloter 7 Debarkasi Makassar asal Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan (Sulsel) selalu mencuri perhatian.
Bagaimana tidak, para jamaah haji mengenakan baju turung haji.
Baju turung haji (baju turun haji) adalah busana adat Bugis-Makassar yang dikenakan jamaah wanita saat kembali ke Tanah Air.
Busana ini berbentuk gamis atau jubah berwarna cerah, dihiasi payet mengilap, dan dilengkapi penutup kepala khas (mispa) serta perhiasan emas, menjadi simbol rasa syukur dan kehormatan.
Salah satu jamaah yang mengenakan pakaian tersebut adalah Hj Hamdana.
Ia baru menunaikan ibadah haji dari Tanah Suci.
Kloter 7 Debarkasi Makassar asal Kabupaten Gowa tiba di Asrama Haji Sudiang sekitar pukul 00.03 Wita, Minggu (7/6/2026) dini hari.
Hj Hamdana mengenakan busana bernuansa merah muda cerah lengkap dengan hiasan kepala khas daerah.
Bagi Hj Hamdana, pakaian yang dikenakannya bukan sekadar busana untuk menyambut keluarga.
Ia sengaja menyiapkannya sejak masih berada di Indonesia sebagai bentuk kebanggaan terhadap budaya Sulawesi.
“Saya memang berniat memperlihatkan dan mengenalkan adat Sulawesi. Saya ingin tampil berbeda dan menunjukkan identitas budaya daerah saya," katanya kepada Tribun Timur di Aula Arafah.
Busana tersebut telah dipersiapkan jauh sebelum keberangkatan ke Arab Saudi.
Kainnya dibeli di Pasar Sentral dan dibawa langsung ke Tanah Suci.
Menurut Hamdana, total biaya bahan pakaian yang dikenakannya mencapai sekitar Rp1,5 juta.
Sementara biaya jahitnya sekitar Rp250 ribu.
Kain yang digunakan sekitar tiga meter dengan harga sekitar Rp500 ribu.
“Memang sengaja saya siapkan dari Indonesia dan saya bawa ke Tanah Suci. Saat akan pulang ke Indonesia, saya ganti pakaian di hotel di Makkah,” ungkapnya.
Perempuan yang berangkat haji seorang diri itu mengaku telah menunggu selama 15 tahun untuk bisa menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan bahagia. Luar biasa rasanya. Saya sudah menunggu selama 15 tahun untuk berangkat haji dan akhirnya bisa terlaksana,” ujarnya.
Selama berada di Arab Saudi, Hamdana mengaku tidak mengalami kendala berarti.
Ia memilih fokus menjalankan ibadah meski harus menghadapi cuaca ekstrem yang mencapai 45 hingga 48 derajat Celsius.
“Alhamdulillah, tidak ada masalah yang saya rasakan. Tidak ada beban pikiran, saya fokus beribadah," kata dia.
"Memang panas, tapi saya tidak pernah merasa terganggu. Saya bahkan menghindari penggunaan AC selama lebih dari satu bulan,” tambahnya.