Kutai Kartanegara (ANTARA) - Masyarakat adat Kutai Lawas di Desa Kedang Ipil, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, terus mempertahankan tradisi Nutuk Beham sebagai bentuk syukur atas kelimpahan hasil panen padi.
"Kita harus selalu ingat dengan asal usul warisan leluhur, sehingga tradisi penghormatan terhadap proses mengolah beras bisa terus berlanjut dan dipahami oleh para generasi muda," kata Tokoh Adat Desa Kedang Ipil, Sartin di Kutai Kartanegara, Minggu.
Upaya pelestarian budaya ini, kata dia, menjadi wujud eksistensi warga dalam merawat kearifan lokal yang dinilai sarat akan nilai-nilai spiritualitas.
Disampaikan Sartin, pengolahan pangan ini bermula dengan mengambil rendaman bulir-bulir padi pilihan yang kemudian disangrai secara massal di atas perapian tradisional hingga akhirnya mengeluarkan aroma harum khas.
"Setelah didinginkan secukupnya, warga desa bahu-membahu menumbuk padi ketan tersebut di dalam sebuah lesung kayu berukuran besar secara bergantian," jelasnya.
Pelaksanaan gotong royong mengolah padi ini biasanya memakan waktu hingga tiga hari penuh untuk memastikan kualitas beras ketan yang dihasilkan benar-benar bersih sempurna.
Interaksi erat yang tercipta secara alami selama berhari-hari itu secara otomatis mampu mempererat tali persaudaraan antarwarga pedesaan.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur Lestari menyampaikan upaya masyarakat dalam memastikan keberlanjutan ritual turun-temurun tersebut, pemerintah akhirnya menetapkan perayaan ini sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari wilayah Kalimantan Timur.
"Selain melindungi, kita semua juga harus mengembangkan serta memanfaatkan bagaimana cara memfasilitasi berbagai kegiatan pengembangan dari pesta adat yang membanggakan ini," ujar Lestari.
Dukungan berupa pembuatan regulasi dari pihak berwenang diyakini pihaknya membantu masyarakat adat agar mereka terlindungi secara hukum saat melaksanakan pelestarian kebudayaan tahunan tersebut.
"Nilai historis dan pesan filosofis mengenai larangan membuang beras sembarangan pada zaman dahulu juga terus diajarkan kepada anak cucu guna menanamkan rasa hormat terhadap kelestarian alam," tuturnya.
Pada puncak tradisi tersebut, beras hasil tumbukan bersama itu langsung dimasak dan dihidangkan hangat untuk dinikmati oleh seluruh warga maupun pengunjung luar daerah.





