Jalan ke Rumah Istri Bahlil Diperlebar, Warga Tahunan Minta Perbaikan, Kades Bantah Pengaruh Pejabat
Septrina Ayu Simanjorang June 07, 2026 05:55 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Jalan ke rumah istri Bahlil diperlebar jadi sorotan.

Padahal warga sudah bertahun-tahun minta jalan tersebut diperbaiki namun baru kini terealisasi. 

Kepala desa pun membantah jalan tersebut kini diperbaiki karena pengaruh pejabat.

Baca juga: Fortuner Dikepung Massa di Tanah Abang, Dirusak dan Dilempari Batu, Pengemudi Tak Mau Lapor Polisi

Sosok Sri Suparni, istri Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kembali jadi sosotan.

Kali ini Suparni disorot lagi gara-gara jalan kampung yang menuju ke rumah di Sragen kini diperlebar dan lebih mulus.

Proyek pelebaran jalan yang menghubungkan Desa Tenggak dan Desa Sribit di Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen telah rampung.

Jalur tersebut dikenal warga sebagai akses utama menuju kampung halaman Sri Suparni yang berasal dari Dusun Semen, Desa Sribit.

Baca juga: BENARKAH Kunjungan Prabowo ke Luar Negeri Datangkan Investasi Rp2.430 Triliun? Cek Faktanya

Kondisi jalan kini tampak lebih lebar dan mulus dibanding sebelumnya, sehingga memudahkan mobilitas masyarakat yang setiap hari melintas di kawasan tersebut.

Lokasinya yang tidak jauh dari Gerbang Tol Sragen membuat jalan penghubung Desa Tenggak–Desa Sribit memiliki peran penting sebagai jalur penghubung warga menuju pusat kota maupun wilayah sekitar.

Meski demikian, Pemerintah Desa Sribit menegaskan bahwa proyek pelebaran jalan tersebut tidak memiliki hubungan dengan status Sri Suparni sebagai istri seorang menteri.

Sri Suparni diketahui merupakan warga asli Dusun Semen, Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Baca juga: Polsek Sunggal Ciduk Pelaku Pembongkar Dua Rumah di Deli Serdang Hanya Dalam Hitungan Jam

Menurut Kepala Desa Sribit, Sutaryo, keluarga Sri Suparni memang telah lama dikenal masyarakat setempat.

Namun, setelah merantau ke Papua dan kemudian menetap di Jakarta bersama suaminya, Sri Suparni hanya sesekali pulang kampung untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar.

"Bapak-ibunya (Sri Suparni) sudah seda (meninggal). Kalau pulang ke sini (Lebaran) sowan (berkunjung) ke keluarga lebih tua," tutur dia, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Meski sudah lama tinggal di luar daerah, hubungan Sri Suparni dengan kampung halamannya disebut masih terjaga melalui kunjungan keluarga pada momen-momen tertentu.

Jalan Diperlebar Setelah Bertahun-Tahun Diusulkan

Sebelum proyek dilaksanakan, ruas jalan tersebut hanya memiliki lebar sekitar 4 hingga 5 meter.

Kondisi itu kerap menyulitkan kendaraan yang berpapasan, terutama mobil, sehingga salah satu kendaraan harus mengalah atau menepi.

Melihat tingginya aktivitas lalu lintas, pemerintah desa telah lama mengajukan usulan pelebaran jalan kepada Pemerintah Kabupaten Sragen.

"Itu kan jalan ramai, sudah sering sekali terjadi kecelakaan. Makanya sudah lama kami usulkan agar diperlebar," ungkap Sutaryo saat ditemui di kediamannya, Jumat (5/6/2026).

MENTERI ESDM- Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia saat menyampaikan gagasannya soal BBM.
MENTERI ESDM- Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia saat menyampaikan gagasannya soal BBM. (Instagram @bahlillahadalia)

Menurut dia, kebutuhan pelebaran jalan lebih didorong faktor keselamatan dan kepentingan masyarakat luas daripada alasan lain.

Proyek yang dikerjakan sepanjang 2,148 kilometer tersebut memperlebar masing-masing sisi jalan sekitar satu meter.

Anggarannya berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU) APBD Perubahan Tahun Anggaran 2025 dengan nilai mencapai Rp1,16 miliar.

Kades Bantah Pelebaran Jalan karena Keluarga Menteri

Sutaryo yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sri Suparni menegaskan bahwa proyek tersebut bukan bentuk perlakuan khusus karena adanya keluarga pejabat negara di Desa Sribit.

Ia menjelaskan usulan pelebaran jalan telah disampaikan sejak masa pemerintahan Bupati Sragen periode 2016–2026, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, namun belum memperoleh tindak lanjut saat itu.

"Itu (usul pelebaran jalan) sudah sangat lama. Dari zaman Bupati Bu Yuni, tapi tidak ada tindak lanjut. Pernah dulu rusak, tapi cuma ditambal aspal, tidak ada pelebaran," beber Sutaryo.

Menurutnya, proyek baru terealisasi ketika jalan tersebut masuk dalam prioritas pembangunan Dinas Bina Marga pada 2026.

"Jadi bukan karena ada keluarga pejabat yang sering pulang lewat ke sini. Bukan karena itu. Tidak ada hubungannya sama sekali. Cuma pas kebetulan saja dapat giliran anggarannya pas era Bupati Sragen sekarang," tegas Sutaryo.

Baca juga: Polsek Sunggal Ciduk Pelaku Pembongkar Dua Rumah di Deli Serdang Hanya Dalam Hitungan Jam

Ia juga menegaskan bahwa rutinitas Sri Suparni maupun suaminya yang sesekali pulang kampung tidak berkaitan dengan keputusan pembangunan infrastruktur tersebut.

Jalur Vital bagi Mobilitas Warga Sribit

Selain dikenal sebagai akses menuju kampung halaman Sri Suparni, jalan penghubung Tenggak–Sribit merupakan jalur utama masyarakat setempat.

Ke arah barat, jalan tersebut terhubung dengan Jalan Raya Sragen–Gemolong.

Sementara ke arah timur, warga memanfaatkannya untuk menuju pusat Kota Sragen dan berbagai fasilitas publik lainnya.

Karena itu, pelebaran jalan dinilai memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dibanding sekadar akses menuju kawasan permukiman tertentu.

 

(*/ Tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.