Cara SMA Hang Tuah Tarakan Gaet Calon Siswa Baru di SPMB 2026, Termasuk Tawarkan Diskon
Amiruddin June 07, 2026 06:14 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Inilah cara SMA Hang Tuah, Tarakan, Kalimantan Utara,  menggaet calon siswa baru di SPMB 2026, termasuk di antaranya menawarkan diskon.

Di tengah persaingan penerimaan murid baru tingkat SMA di Kota Tarakan, SMAS Hang Tuah Tarakan tetap optimistis mampu memenuhi kuota peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027.

Sekolah swasta yang berada di bawah pembinaan Yayasan Hang Tuah, dan berafiliasi dengan TNI Angkatan Laut melalui Koarmada II ini, mengandalkan kedisiplinan, pengawasan siswa, serta pengembangan karakter sebagai nilai jual utama kepada masyarakat.

Kepala SMAS Hang Tuah Tarakan, Nur Hidayah, mengatakan proses Seleksi Penerimaan Murid Baru ( SPMB ) di sekolahnya telah dibuka lebih awal, dibanding jadwal penerimaan secara umum.

"Kalau SPMB di sini kita itu sudah awal-awal memang sudah buka.

Saya buka itu kemarin mulainya di bulan Maret 2025," ujar Nur Hidayah saat diwawancarai TribunKaltara.com, Minggu 7 Juni 2026.

Menurutnya, pembukaan pendaftaran lebih awal dilakukan karena sebagian calon peserta didik berasal dari keluarga yang secara turun-temurun mempercayakan pendidikan anaknya di SMAS Hang Tuah Tarakan.

"Kalau di SMA Hang Tuah ini memang ada keluarga-keluarga tertentu.

Turun-temurun dia di sini," katanya.

Baca juga: SMA Hang Tuah Bersyukur dan Bangga, M Zainal Ihsan Lolos Tahap Verifikasi Pakibraka Nasional

Untuk menarik minat pendaftar, sekolah juga memberikan potongan biaya bagi calon siswa yang mendaftar lebih awal.

Program tersebut sudah berjalan dalam dua tahun terakhir.

"Nah dan kebetulan sudah dua tahun ini saya ada promosi sedikit.

Bahwa pendaftar pertama misalnya mulai dari nomor 1 sampai nomor 30 itu ada diskon. 

Untuk tahun ini sampai 60 siswa ada diskon," ungkapnya.

Strategi tersebut ternyata cukup efektif.

Hingga saat ini jumlah pendaftar yang masuk disebut sudah mendekati dua rombongan belajar (rombel).

"Nah kebetulan untuk posisi tahun ini sekarang ini sudah hampir penuh.

Sudah mau dua kelas," ujarnya.

Meski demikian, Nur Hidayah menjelaskan proses penerimaan siswa baru masih berlangsung,  sehingga pihak sekolah belum dapat memastikan jumlah akhir peserta didik yang diterima.

SMAS Hang Tuah Tarakan sendiri memiliki kapasitas maksimal enam rombongan belajar untuk setiap tingkatan kelas.

"Memang saya setiap tahun itu enam kelas.

Tidak boleh lebih dari itu karena kelas yang tersedia itu enam.

Enam-enam setiap tingkatan," jelasnya.

Dengan jumlah maksimal 36 siswa per kelas, kapasitas penerimaan peserta didik baru setiap tahun mencapai sekitar 216 siswa.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, sekolah swasta menghadapi tantangan tersendiri akibat tingginya daya tampung sekolah negeri.

"Tahun kemarin saya masih dapat lima kelas.

Padahal target saya enam kelas," katanya.

Bahkan pada tahun sebelumnya jumlah peserta didik baru yang diterima sempat turun hingga hanya tiga kelas.

"Malah pernah betul-betul tahun lalunya lagi yang naik kelas tiga sekarang itu betul-betul tiga kelas saja," ujarnya.

Menurut Nur Hidayah, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah swasta, karena sebagian besar calon siswa lebih memilih sekolah negeri terlebih dahulu.

Meski begitu, ia menilai kualitas pendidikan tidak bisa hanya diukur dari status sekolah negeri atau swasta.

"SMA Hang Tuah walaupun swasta mungkin bisa disampaikan swasta itu stigma-nya tidak harus dibilang tidak berkualitas.

 Tidak mau saya begitu," tegasnya.

Baca juga: Cerita Muhammad Rahmat, Siswa SMA Hang Tuah Tarakan Lolos Jadi Anggota Paskibraka Nasional

Ia mengatakan sekolah swasta harus memiliki ciri khas yang dapat dipercaya masyarakat.

"Kalau kita di sekolah swasta itu apa yang harus kita jual dulu di luar?

Kita harus punya ciri khas yang harus kita jual di luar. 

Dan itu harus kita dipercaya di masyarakat," katanya.

Di SMAS Hang Tuah Tarakan, nilai yang paling diunggulkan adalah kedisiplinan.

Menurutnya, kedisiplinan tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi dibuktikan melalui sistem pengawasan yang diterapkan setiap hari.

"Walaupun misalnya kita publish, oh ini loh saya kedisiplinan yang saya jual.

Tetapi kalau tidak ada bukti di dalam, harus hasil kita tunjukkan ke luar bahwa ini loh buktinya saya bisa," ujarnya.

Salah satu bukti yang dimaksud adalah prestasi siswa dalam bidang Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang berhasil bersaing hingga tingkat tinggi.

Selain kedisiplinan, sekolah juga menerapkan pengawasan ketat terhadap proses belajar mengajar agar tidak ada kelas yang kosong.

"Tapi kalau di SMA Hang Tuah itu pengawasan kita memang ini.

 Jadi ada guru piket.

 Jadi guru piket itu yang memantau.

 Kalau misalnya kok kelas ini kosong, mana gurunya?" katanya.

Ia menjelaskan apabila ada guru yang berhalangan hadir, maka harus melapor kepada kepala sekolah atau wakil kurikulum, sehingga dapat segera dicarikan guru pengganti.

"Kalaupun pagi, memang guru-guru itu kalau misalnya dia sakit harus laporan ke saya, atau wakil kurikulum.

Kemudian dicarikan guru pengganti.

Jadi jarang kosong kelas," ungkapnya.

Selain itu, pengembangan karakter siswa juga dilakukan melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan proyek kolaboratif yang melibatkan siswa secara aktif.

"Kegiatan siswa harus banyak.

Terutama di ekstrakurikulernya.

Itu harus banyak," katanya.

Menurutnya, kegiatan tersebut penting karena dapat melatih kemampuan komunikasi dan kerja sama siswa, yang mulai berkurang akibat ketergantungan terhadap gawai.

"Anak-anak sekarang kan gadget.

 Jadi dia selalu ada menyendiri begini.

Makanya kita harus banyak projek.

Jadi banyak anak-anak itu berkomunikasi dengan temannya, kerja sama aja dengan temannya.

Diajarin seperti itu," jelasnya.

Terkait penggunaan telepon seluler, SMAS Hang Tuah Tarakan tidak melarang siswa membawa gawai ke sekolah.

Namun penggunaannya diatur secara ketat.

"Di sini HP begitu apel pagi, HP sudah terkumpul semua.

Ada keranjangnya tersendiri di wali kelas," ujarnya.

Gawai baru dapat digunakan apabila diperlukan dalam kegiatan pembelajaran dan atas arahan guru mata pelajaran.

"Ada guru mapel yang mengharuskan, mau pakai HP ayo diambil.

Setelah selesai ayo dikembalikan lagi," katanya.

Meski menerapkan pembatasan penggunaan telepon seluler, Nur Hidayah menegaskan sekolah tetap mendukung pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.

"Sekarang kita tidak boleh jauh dari teknologi.

 Teknologi harus seiring dengan kita," tegasnya.

Karena itu, seluruh ruang kelas di SMAS Hang Tuah Tarakan telah dilengkapi fasilitas pendukung pembelajaran berbasis digital.

"Kalau di Hang Tuah itu sudah lama.

Semua LCD ada di kelas," ujarnya.

Selain itu, sekolah juga menyediakan perangkat laptop untuk mendukung proses pembelajaran para guru.

"Berarti tidak ada kapur lagi.

Tidak ada," katanya sambil tersenyum.

Pemanfaatan teknologi juga diterapkan dalam sistem pelaporan hasil belajar siswa kepada orang tua.

"Guru-guru itu ngumpulin tugas lewat sistem.

Ngirim hasil nilainya anak-anak ke orang tua, kirim ke grup orang tua.

Lihat hasil kerjaan anaknya, nilainya," pungkas Nur Hidayah. 

(*)

Penulis: Andi Pausiah 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.