SURYA.CO.ID - Ketegangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat pasca-gencatan senjata 8 April lalu masih menemui jalan buntu.
Menanggapi situasi ini, Mohsen Rezaei, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa pihak Teheran kini tengah menguji komitmen Presiden AS Donald Trump untuk mewujudkan perdamaian.
Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama CNN pada Jumat (5/6/2026), Rezaei menegaskan bahwa kelanjutan dialog ini sepenuhnya bergantung pada langkah yang akan diambil oleh Washington.
“Negosiasi berada dalam kebuntuan dan (Presiden AS Donald) Trump harus memecahkan kebuntuan ini. Bola ada di tangan Trump,” kata Rezaei.
Sebagai langkah awal untuk memecahkan kebekuan diplomatik, Iran menuntut Washington segera mencairkan dana mereka yang dibekukan.
Skema yang diajukan adalah pelepasan dana sebesar 12 miliar dollar AS (sekitar Rp 217 triliun) segera setelah kesepakatan interim ditandatangani, diikuti dengan pencairan nominal yang sama pada fase berikutnya.
Rezaei menekankan bahwa pembebasan total aset senilai 24 miliar dollar AS tersebut merupakan tolok ukur utama apakah AS bisa dipercaya atau tidak.
“Jika dia (Trump) ingin mencapai kesepakatan dengan Iran, dana 24 miliar dollar AS (sekitar Rp 434 triliun) ini adalah tes kepercayaan yang ingin dimiliki Iran terhadap Trump, ini adalah tes yang harus dilalui Amerika dan jalan akan terbuka,” ujar Rezaei.
“Ini adalah uang kami sendiri, bukan uang Amerika,” lanjutnya.
Di sisi lain, Gedung Putih di bawah pemerintahan Trump menunjukkan sikap keberatan.
Mereka khawatir kehilangan posisi tawar (leverage) jika dana tersebut dicairkan terlalu cepat.
Selain itu, Trump berambisi memformat ulang perjanjian baru yang jauh lebih mengikat dan kuat ketimbang kesepakatan nuklir (JCPOA) tahun 2015 silam.
Meski menilai risiko pecahnya perang susulan dalam waktu dekat masih relatif kecil, Rezaei memberikan peringatan keras jika militer AS kembali melakukan provokasi atau serangan.
Iaa mengancam akan memperluas zona pertempuran dari Selat Hormuz hingga mencakup kawasan Samudra Hindia, Selat Bab al-Mandab, Laut Merah, hingga Laut Mediterania.
“Kami akan memberikan dimensi lain pada perang dengan menyerang pangkalan-pangkalan Amerika lainnya yang selama ini telah kami serang,” kata Rezaei.
Terkait sinyal dari Donald Trump yang sempat melontarkan ketertarikannya untuk bertemu langsung dengan Mojtaba Khamenei, pihak Teheran langsung menutup pintu tersebut.
Rezaei menilai wacana pertemuan bilateral tingkat tinggi itu sangat tidak realistis karena proses diplomasi kedua negara masih berada di tahap paling dasar.
“Ini tidak akan terjadi. Saat ini kami berada dalam tahap pertama negosiasi dan Trump telah membuat negosiasi terhenti. Ini tidak akan terjadi,” ujarnya.
Pernyataan ini sekaligus meredam komentar Trump sebelumnya yang mengeklaim bahwa komunikasinya dengan pemimpin baru Iran tersebut berjalan positif dan ia akan merasa terhormat jika bisa bertatap muka secara langsung.
Selain dinamika politik, mantan panglima Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) ini juga menyinggung hak kontrol bersama antara Iran dan Oman atas Selat Hormuz.
Jalur maritim krusial ini memegang peranan penting dalam menyalurkan seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Terkait rencana penarikan biaya bagi kapal-kapal asing yang melintas, Rezaei menolak jika kebijakan tersebut dicap sebagai "pungutan tol".
Menurut tokoh yang juga pernah menduduki posisi Wakil Presiden di era mendiang Ebrahim Raisi ini, biaya tersebut adalah kompensasi pemeliharaan, mengingat Iran merasa tidak semestinya menanggung beban finansial pengelolaan selat strategis tersebut sendirian.