BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pagi itu, embun masih menggantung di sela daun kopi di Desa Petaling Banjar, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka.
Di tengah hamparan hijau yang selama ini identik dengan lada dan kelapa sawit, seorang pria tampak sibuk memeriksa buah kopi yang mulai memerah.
Namanya Mardi.
Di Bangka Belitung, memilih menjadi petani kopi lebih dari satu dekade lalu bisa dibilang keputusan yang tidak lazim. Saat mayoritas petani menggantungkan hidup dari lada atau sawit, Mardi justru melangkah ke arah berbeda.
Semua berawal dari kebiasaan sederhananya yakni menyukai kopi.
"Awalnya saya cuma suka ngopi," ujar Mardi sembari tersenyum saat ditemui Bangkapos.com, Minggu (7/6/2026).
Namun kecintaan pada secangkir kopi itu pelan-pelan tumbuh menjadi keyakinan.
Sejak 2012, Mardi mulai serius mempelajari dunia perkopian, di tengah minimnya perhatian masyarakat terhadap komoditas tersebut di Pulau Bangka.
Kala itu, kopi nyaris tak terdengar sebagai tanaman masa depan di wilayah ini.
Alih-alih mundur, Mardi justru memilih belajar. Ia menempuh perjalanan ke sejumlah daerah sentra kopi seperti Lampung, Bengkulu, hingga Jawa Barat.
Dari sana, ia mempelajari proses budidaya secara menyeluruh, mulai dari teknik pembibitan, perawatan tanaman, panen, hingga pengolahan pascapanen.
Baginya, menanam kopi bukan sekadar bertani, tetapi membangun ekosistem baru.
Perjalanan panjang itu perlahan membuahkan hasil.
Kini, Mardi mengelola lebih dari 26 hektare kebun kopi produktif di Desa Petaling. Dalam sekali panen raya, hasilnya bisa mencapai 17 ton biji kopi robusta.
Tak berhenti sebagai petani, ia juga mendirikan koperasi Kopling Banjar Mandiri, wadah pembinaan petani kopi lokal di sekitarnya.
Nama "Kapling" pun bukan sekadar merek dagang. Ia merupakan singkatan dari Kopi Asli Petaling, identitas yang lahir dari mimpi sederhana untuk mengenalkan kopi Bangka ke lebih banyak orang.
Perlahan, mimpi itu mulai menemukan jalannya.
Kopi hasil kebun Mardi ternyata tak hanya diminati di Bangka Belitung. Produk green bean miliknya bahkan pernah sampai ke Brazil dan Australia, dibawa pembeli yang tertarik setelah mencicipi kualitas kopi robusta asal Bangka.
"Saya jual green bean, biasanya setelah dijemur. Harganya sekitar Rp60 ribu sampai Rp70 ribu per kilogram. Kalau kopi kemasan 200 gram Rp30 ribu, kami juga ada kopi botol 200 mililiter, harganya Rp10 ribu," jelas Mardi.
Di balik geliat kebun kopi itu, ada perubahan lain yang diam-diam ikut mengubah cara Mardi menjalankan usaha yakni digitalisasi layanan keuangan.
Jika dulu transaksi dilakukan secara tunai dan pencatatan usaha sering kali tercecer, kini sebagian besar aktivitas usaha kopinya dilakukan melalui aplikasi BRImo.
Bagi Mardi, membangun usaha kopi bukan perjalanan yang selalu mulus. Ada masa ketika ia harus berpindah dari satu kebun ke kebun lain, bertemu pembeli, mengurus pekerja, hingga memikirkan biaya operasional sambil tetap menjaga kualitas hasil panen.
Di fase itulah, ia mulai merasakan pentingnya layanan keuangan yang praktis dan dekat dengan aktivitasnya sebagai petani.
Mardi mengaku, sejak mengenal BRImo, banyak hal menjadi lebih sederhana.
Saat pesanan kopi datang dari luar daerah seperti Lampung, pembayaran tidak lagi harus dilakukan secara tunai atau menunggu lama. Hasil penjualan langsung masuk ke rekening dan dapat dipantau kapan saja melalui telepon genggam.
Di tengah aktivitas di kebun, ia juga tetap bisa mengatur berbagai kebutuhan usaha tanpa harus meninggalkan pekerjaan. Mulai dari membayar tagihan, membeli pulsa listrik, hingga paket internet untuk menunjang komunikasi usaha dilakukan melalui satu aplikasi.
"BRImo itu menemani perjalanan saya jadi petani kopi. Semua uang hasil jual kopi masuknya ke BRImo. Jadi saya gampang memantau. Mau transfer, bayar kebutuhan, semua ada," ujar Mardi.
Kemudahan itu terasa penting bagi Mardi. Sebab, bagi petani, waktu di lapangan sering kali jauh lebih berharga dibanding harus meninggalkan pekerjaan hanya untuk mengurus administrasi keuangan.
Tak hanya mempermudah transaksi, BRImo menurut Mardi juga membantu dirinya membangun disiplin pencatatan usaha. Seluruh arus keuangan tercatat secara digital, mulai dari uang masuk hasil penjualan hingga pengeluaran operasional kebun.
"Jadi lebih gampang bikin pembukuan. Uang masuk, uang keluar semua tercatat. Beli pulsa listrik, bayar tagihan, beli paket handphone, semua lewat BRImo. Fiturnya lengkap," katanya.
Pencatatan tersebut menjadi penting, terlebih ketika usaha kopi yang ia bangun terus berkembang dan mulai melibatkan lebih banyak petani binaan di bawah koperasi.
Meski mengaku pernah mendapat tawaran dari layanan perbankan lain, Mardi memilih tetap bertahan menggunakan BRImo karena merasa nyaman dengan kemudahan yang diberikan.
"Ada banyak yang menawarkan dari bank lain, tapi saya tolak. Kalau sudah nyaman itu susah," ujarnya sambil tersenyum.
Di tengah dominasi sawit dan lada, Mardi percaya kopi bisa menjadi alternatif masa depan pertanian Bangka Belitung. Karena itu, ia terus mengajak warga sekitar untuk ikut menanam dan belajar mengelola kopi secara serius.
Sore mulai turun di kebun kopi Petaling. Di sela deretan pohon robusta yang dulu sempat diragukan banyak orang, Mardi masih rutin memeriksa tanaman satu per satu.
Baginya, kopi bukan lagi sekadar minuman kesukaan, melainkan harapan baru bagi pertanian Bangka Belitung.
"Kalau dulu semua serba tunai, sekarang lebih mudah. Tinggal buka BRImo," kata Mardi.
Keberhasilan Mardi, petani kopi asal Desa Petaling Banjar, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, mengembangkan kopi robusta hingga dikenal di luar daerah dinilai menjadi contoh nyata bagaimana digitalisasi mampu mengubah wajah usaha pertanian di daerah non-sentra komoditas.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI melalui Branch Office Sungailiat memandang pemanfaatan layanan digital perbankan, khususnya aplikasi BRImo, menjadi salah satu pintu masuk untuk memperluas inklusi keuangan hingga ke desa-desa.
Petugas Penunjang Operasional BRI Branch Office Sungailiat, Desriandi Nuriski, mengatakan apa yang dilakukan Mardi menunjukkan bahwa transformasi digital kini tidak lagi hanya menjadi milik pelaku usaha di kota besar.
"Keberhasilan Pak Mardi menjadi bukti bahwa digitalisasi mampu memutus keterbatasan geografis di sektor pertanian. Wilayah yang sebelumnya bukan sentra kopi sekalipun tetap memiliki peluang berkembang jika didukung akses keuangan yang mudah, aman, dan inklusif," ujar Desriandi kepada Bangkapos.com, Minggu (7/6/2026).
Menurut dia, BRImo tidak sekadar hadir sebagai sarana transaksi digital, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan pengelolaan usaha yang lebih profesional bagi pelaku UMKM maupun petani.
Melalui layanan tersebut, petani dapat melakukan transaksi keuangan langsung dari kebun, mulai dari menerima pembayaran, transfer antarbank, membayar kebutuhan operasional, hingga memantau arus kas usaha tanpa harus meninggalkan aktivitas produktif.
"Kalau dulu petani harus datang ke kantor bank atau melakukan transaksi tunai, sekarang cukup lewat telepon genggam. Ini membuat usaha menjadi lebih efisien dan membantu mempercepat perputaran modal," katanya.
Namun, menurut Desriandi, inklusi keuangan yang dibangun BRI tidak berhenti pada transaksi digital semata.
Sebagai bank yang memiliki jaringan luas hingga ke pelosok daerah, BRI Branch Office Sungailiat didukung unit-unit kerja di berbagai wilayah serta keberadaan AgenBRILink yang menjadi perpanjangan layanan perbankan kepada masyarakat.
Melalui ekosistem tersebut, masyarakat desa dapat mengakses layanan keuangan kapan pun dan di mana pun, termasuk di wilayah yang jauh dari kantor cabang.
"AgenBRILink hadir untuk mendekatkan layanan perbankan kepada masyarakat. Jadi masyarakat tidak harus selalu datang ke kantor bank untuk melakukan transaksi dasar maupun mendapatkan akses layanan keuangan," jelasnya.
Selain layanan transaksi, BRI Sungailiat juga membuka akses pembiayaan bagi masyarakat sesuai kebutuhan usaha masing-masing, mulai dari kredit super mikro, Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kupedes, hingga pembiayaan segmen ritel.
Menurut Desriandi, akses pembiayaan tersebut menjadi bagian penting agar pelaku usaha desa tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan naik kelas.
"Petani atau pelaku UMKM yang sudah mulai berkembang tentu membutuhkan dukungan modal. Karena itu kami menyediakan berbagai skema pembiayaan sesuai kebutuhan masyarakat," ujarnya.
Tak kalah penting, BRI juga terus mendorong edukasi digital kepada masyarakat desa agar lebih nyaman beralih ke transaksi non tunai.
Desriandi mengatakan seluruh pekerja BRI kini tidak hanya menjalankan fungsi layanan perbankan, tetapi juga berperan sebagai penyuluh digital yang aktif memberikan edukasi penggunaan BRImo, QRIS, hingga keamanan bertransaksi.
Menurutnya, edukasi tersebut penting mengingat meningkatnya ancaman kejahatan siber, seperti phishing maupun social engineering yang kerap menyasar masyarakat.
"Seluruh pekerja BRI pada dasarnya menjadi penyuluh digital. Kami terus mengedukasi masyarakat bagaimana menggunakan layanan digital dengan aman, termasuk memahami modus-modus kejahatan siber agar masyarakat lebih terlindungi," katanya.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)