TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Masih maraknya diskriminasi, perundungan, hingga pengusiran terhadap anak autistik di ruang publik menjadi latar belakang digelarnya Walk For Autism 2026 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Minggu (7/6/2026).
Kegiatan yang merupakan kolaborasi JCI East Java, Unesa, Dharma Wanita, dan PKK Jawa Timur tersebut tidak hanya menghadirkan jalan sehat dan berbagai kompetisi, tetapi juga menjadi sarana edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap penyandang autisme.
Project Director Walk For Autism 2026, Elisabeth Glory membeberkan realitas memilukan yang masih kerap dijumpai di tengah masyarakat, seperti insiden pengusiran keluarga anak autis dari restoran hanya karena sang anak mengalami tantrum.
Menurutnya, ketidakpahaman publik terhadap cara kerja dan respons anak autistik yang unik harus segera diakhiri melalui edukasi yang masif.
Baca juga: Meriahnya Walk For Autism di Surabaya, JCI East Java Ajak Anak Berkebutuhan Khusus Tunjukkan Bakat
"Masih banyak loh teman-teman autistik itu yang enggak diterima di tempat publik. Contoh misalnya ke restoran, anak autis tantrum, diusir karena mengganggu. Padahal siapa yang pengin anaknya tantrum? Padahal memang teman-teman autis tuh cara bekerjanya beda, ya bagaimana teman-teman yang non-autis harusnya bisa memahami," ungkap Elisabeth Glory dengan mendalam.
Dirinya menegaskan bahwa esensi utama dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk mengikis habis penggunaan kata autis sebagai bahan ejekan dan memperlakukan mereka secara setara.
Lahir dengan kondisi autisme bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah realitas yang semestinya mendapatkan ruang aman serta penerimaan yang sama tanpa sekat pembeda.
Local President JCI East Java, Alfin Vado Fransen memaparkan bahwa tujuan mendasar dari perhelatan tahun ini bertumpu pada tiga pilar utama, yakni awareness - penumbuhan kesadaran, acceptance- penerimaan, serta edukasi berkelanjutan.
Ketiga elemen ini diharapkan mampu menggerakkan warga sekitar untuk ikut ambil bagian dalam menjaga serta memberdayakan anak-anak berkebutuhan khusus.
"Tujuan acara ini adalah pertama awareness, jadi kita tahu bahwa ada teman-teman kita yang butuh perhatian khusus. Kedua itu acceptance, kita menerima keadaan mereka. Dengan menerima, kita juga bisa mengedukasikan masyarakat sekitar agar peduli," tuturnya.
Alasan lain mengapa agenda ini penting diselenggarakan adalah sebagai wadah integrasi konsep pentahelix yang mempertemukan kepedulian komunitas dengan komitmen korporasi serta kebijakan pemerintah.
Berbagai sektor swasta sebenarnya memiliki keinginan besar untuk ikut berkontribusi, namun keterbatasan akses informasi sering kali menjadi penghambat utama mereka dalam menyalurkan bantuan secara tepat sasaran.
Melalui ruang inklusif yang dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dan Rektor UNESA ini, kolaborasi nyata akhirnya dapat diwujudkan.
Salah satunya melalui dukungan sektor perbankan yang memberikan kepastian masa depan pendidikan bagi anak-anak difabel lewat program beasiswa senilai ratusan juta rupiah.
Kepala Cabang BRI Pahlawan, Fuaad Fauzi menyatakan bahwa partisipasi aktif pihak swasta dalam mendukung gerakan kemanusiaan ini didasarkan pada semangat untuk menciptakan lingkungan yang ramah dan setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Tentunya dengan kegiatan WFA ini kan kegiatan yang bagus sekali ya untuk kegiatan sosial. Sejalan juga dengan semangat kami yang memberi makna Indonesia. Tentunya kami menyambut baik ketika ada ajakan kembali dari JCI untuk mendukung kegiatan ini. Kami full support 100 persen," katanya.
Komitmen pemenuhan hak tersebut diwujudkan secara riil lewat penyerahan bantuan dana pendidikan sebesar 260 juta rupiah yang dialokasikan bagi dua puluh anak disabilitas.
Langkah ini diharapkan mampu meruntuhkan dinding pembatas sosial dan memberikan rasa percaya diri yang sama bagi anak berkebutuhan khusus dalam menata masa depan mereka.
"Salah satunya adalah kami memberikan beasiswa untuk penerima bantuan disabilitas untuk pendidikannya. Nilai beasiswanya 260 juta untuk 20 orang, dengan penerima yang berbeda dari tahun lalu. Tentunya memfasilitasi teman-teman yang disabilitas, bahwa seperti yang disampaikan oleh Ibu Kadis Sosial tadi, kita setara, kita sama. Memberikan ruang untuk kita merasa sama," pungkasnya.
Rangkaian acara yang diikuti oleh ratusan peserta ini menjadi bukti bahwa dengan menyediakan wadah yang tepat, setiap lapisan masyarakat dapat bersatu menjadi sahabat terdekat yang suportif bagi penyandang autisme.