TRIBUNJAKARTA.COM, DUREN SAWIT - Pemprov DKI Jakarta mengapresiasi upaya warga RW 14, Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur dalam pembuatan biopori untuk pengolahan sampah organik.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan upaya warga pengolahan sampah organik sisa makanan dan daun kering menjadi pupuk kompos ini patut ditiru warga Jakarta lainnya.
Lewat pengolahan ini sampah organik dapur warga dapat dibuang ke biopori yang dibuat di halaman rumah hingga taman, dan dalam waktu tiga bulan sampah terurai menjadi kompos.
"Ini bisa menjadi percontohan penanganan sampah di Jakarta. Kebetulan warga Jakarta Timur ini inisiatif untuk lingkungannya termasuk yang paling bagus," kata Pramono, Minggu (7/6/2026).
Bila upaya serupa diterapkan secara massal maka sampah organik di Jakarta diyakini tidak perlu lagi dibuang ke tempat pembuangan akhir, sehingga mengurangi beban TPST Bantargebang.
Biopori yang dibangun memiliki kedalaman sekitar 80 sentimeter hingga 2 meter dan diameter 41 sentimeter ini dikerjakan petugas gabungan Kecamatan Duren Sawit hingga warga.
Petugas terlibat melakukan pembuatan biopori di antaranya PPSU, pemadam kebakaran, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, Dinas Lingkungan Hidup DKI, Dinas Sumber Daya Air.
"Bioporinya jumbo, satu biopori itu untuk dua rumah. Kalau dua rumah apakah betul tiga bulan, tadi kan disampaikan tiga bulan, menurut saya mungkin lebih cepat dari tiga bulan," ujar Pramono.
Untuk tahap awal sudah 150 biopori yang diperuntukkan untuk 300 rumah dibangun di RW 14 Pondok Kelapa, jumlah ini masih dapat bertambah karena masih terdapat lahan belum dimanfaatkan.
Menurut warga RW 14 Pondok Kelapa ide untuk mengikat sampah lewat biopori muncul karena mayoritas sampah dihasilkan merupakan jenis organik dan non organik.
Sehingga untuk mengatasi hal tersebut warga membuat biopori untuk mengolah sampah organik menjadi kompos, sedangkan sampah non organik ditangani lewat program bank sampah.
"Kalau sampah nonrganik seperti botol, kardus itu sudah punya nilai jual. Jadi enggak ada masalah lagi, itu enggak diangkut ke tempat pembuangan akhir," tutur Ketua RW 14, Tengku Husaini.
Terkait pemanfaatan kompos hasil pengolahan, nantinya pupuk tersebut akan digunakan secara mandiri untuk melakukan penghijauan pada taman di wilayah RW 14 Pondok Kelapa.
Menurut warga hingga kini tidak ada kendala dalam proses pembuatan biopori, karena sejak beberapa tahun lalu warga RW 14 sudah melakukan program pilah sampah dari sumber.
Terlebih warga juga dibantu petugas gabungan dari Pemkot Jakarta Timur untuk membuat biopori, sehingga proses pengolahan sampah di RW 14 ditargetkan berjalan optimal.
"Sebelumnya saya punya rencana pembuatan biopori, ditantang sama Pak Wali, 'Bisa enggak 150?'. Saya bilang butuh tenaga. Alhamdulillah dibantu kelurahan, kecamatan, kota," lanjut Teungku.