Total Football dan Gotong Royong Ala Timnas Indonesia
Rizali Posumah June 08, 2026 03:22 AM

 

Bukan Belanda. Tapi timnas Indonesia yang memakai gaya Total Football. Dan mereka berhasil.

Timnas Oman dipermak 3-0 dalam pertandingan Friendly Match FIFA di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (5/6/2026). 

Oman jadi serasa bak Kamboja. 

Padahal tim ini adalah runner-up Piala Teluk dan kerap mengalahkan Arab Saudi serta Qatar, dua negara Teluk langganan Piala Dunia.

Sedang Belanda di bawah Ronald Koeman lebih menerapkan sepak bola pragmatis-realistis saat bertanding melawan Aljazair dalam uji coba jelang Piala Dunia 2026. Hasilnya, tim Oranje harus takluk 1-0 dari sang tamu. 

Kekalahan ini membuat tim Belanda memasuki Piala Dunia 2026 dengan sedikit keraguan.

"Eerlijk gezegd betwijfel ik het (Sejujurnya saya sedikit ragu)," kata Anet, seorang turis Belanda yang saya wawancarai di tempat penyewaan sepeda motor di Tikala, Manado, Sabtu (6/6/2026).

Timnas Belanda memang main bapuk di Stadion De Kuip, Feyenoord. 

Para pemain seakan tersandera di posisi masing-masing. 

Tak ada pressing tinggi. Serangan pun berjalan sporadis.

Ruang antar-lini tak cukup rapat hingga masih ada koridor yang mampu dimanfaatkan Riyad Mahrez dan kawan-kawan untuk menerobos ke kotak penalti dan mencetak gol.

Sedang Timnas Indonesia di atas kertas memakai pola 3-4-3. 

Tapi di lapangan bisa sangat cair. Bisa jadi 4-4-2, 4-5-1, 5-4-1, dan lainnya. 

Posisi pemain pun berubah-ubah. Rizky Ridho misalnya. 

Berposisi centre back kanan, tapi ia sering naik ke sayap kanan, bahkan hingga kotak penalti. 

Sementara bek kanan Kevin Diks sering tiba-tiba muncul sebagai penyerang bayangan. 

Adapun Joey Pelupessy berkali-kali mundur selangkah jadi stopper.

Yang paling fenomenal adalah Ole Romeny. 

Ia terlihat seperti Johan Cruyff, sang legenda Total Football. 

Pemain klub Oxford ini berada di mana-mana; striker, sayap, second line, gelandang box-to-box, hingga regista.

Untuk pertama kalinya Timnas Indonesia sukses memperagakan pressing tinggi. 

Pemain Timnas juga mengisi ruang dan waktu dengan tepat hingga selalu terlihat lebih banyak di sisi lapangan manapun.

Melihat ini, entah bagaimana, saya teringat predestinasi. 

Predestinasi adalah ajaran dari Calvinisme yang menyatakan bahwa Tuhan sedari awal telah memilih orang yang akan diselamatkan.

Dalam permainan Timnas Indonesia, saya melihat ada struktur taktis yang mendahului putusan pemain. 

Dalam Calvinisme, ini artinya ada tatanan ilahi yang mendahului pilihan manusia.

Calvinisme menyatakan bahwa individu bebas bergerak dalam batas rencana Allah. 

Bukankah ini mirip permainan Timnas yang bebas bergerak tapi dalam batas sistem?.

Kemudian para pemain punya fungsi dalam sistem. 

Inilah yang dalam Calvinisme disebut calling (panggilan). 

Memang Total Football adalah akibat dari pengaruh Calvinisme yang kuat di Belanda.

Memang Rinus Michel ataupun Johan Cruyff mungkin bukan Calvinis taat. 

Tapi Total Football yang mereka ciptakan sangat dipengaruhi budaya Belanda yang dibentuk Calvinisme. 

Dan pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, memang joss. Tak hanya mengisi Timnas dengan "AI Total Football", ia juga menaruh faktor khas Indonesia: gotong royong.

Jadinya, Total Football Indonesia lebih realistis. 

Tak harus meniru Total Football Belanda di era Cruyff atau Marco van Basten.

Cruyff pernah mengatakan, sepak bola adalah ruang dan waktu. Dan Herdman menambahkannya dengan kebersamaan.

Malam setelah pertandingan Timnas, saya pun berdoa,

"Tuhan, loloskan Indonesia ke Piala Dunia, dan tolong pertemukan Belanda dan Inggris di final Piala Dunia kali ini." (Arthur Rompis)

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.