Laporan langsung wartawan Tribunnews.com dan Media Center Haji dari Arab Saudi, Sri Juliati
- Jemaah haji Indonesia gelombang kedua yang mulai bergerak dari Makkah menuju Madinah diimbau untuk mengingat nama hotel dan sektor tempat menginap selama berada agar tidak tersesat di Kota Nabi.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah PPIH Arab Saudi, Ihsan Faisal mengungkapkan, ada perbedaan mendasar terkait akomodasi jemaah selama di Madinah.
Hotel-hotel jemaah di Madinah tidak menggunakan nomor sebagaimana hotel di Makkah.
Selain itu, jumlah sektor atau kawasan pemondokan jemaah di Madinah, tidak sebanyak di Makkah yang mencapai 10 sektor.
"Di Madinah itu tidak ada nomor hotel. Para jemaah harus mengingat nama hotel dan sektornya," ucap Ihsan ketika ditemui tim Media Center Haji (MCH) di sela-pelepasan jemaah di Manazel Al Hoor Hotel 2, Misfalah, Makkah, Minggu (7/6/2026).
"Kalau lupa lokasi hotel, jemaah bisa menanyakan kepada petugas yang ada di sekitar Masjid Nabawi dengan menyebutkan nama hotel dan sektornya," sambungnya.
Selain itu, Ihsan juga meminta jemaah tidak bepergian seorang diri ketika keluar hotel.
Jemaah dianjurkan selalu bersama anggota regu, rombongan, atau kloternya untuk menghindari risiko tersesat maupun kendala lainnya.
"Kalau keluar hotel, harus selalu bersama teman-teman satu regu atau rombongan. Jangan berjalan sendiri-sendiri," kata dia.
Menurut Ihsan, lokasi hotel jemaah Indonesia di Madinah relatif dekat dengan Masjid Nabawi sehingga dapat dijangkau dengan berjalan kaki.
Namun kedekatan jarak tersebut tidak boleh membuat jemaah lengah.
Selain fokus beribadah di Masjid Nabawi, jemaah juga diingatkan untuk berkoordinasi dengan petugas kloter dan sektor apabila ingin mengikuti kegiatan di luar hotel.
Termasuk ziarah ke sejumlah lokasi bersejarah di Madinah.
"Kalau ada kegiatan di luar, harus berkoordinasi dengan kloter dan sektor agar tetap aman dan nyaman," ujarnya.
Selain itu, jemaah juga diminta untuk tetap menjaga kondisi kesehatan selama berada di Madinah.
Menurut Ihsan, cuaca di Madinah masih cukup panas sehingga jemaah harus memperhatikan asupan cairan, waktu istirahat, dan tidak memaksakan diri beraktivitas berlebihan.
"Yang paling utama adalah menjaga kesehatan karena kondisi cuaca baik di Makkah maupun Madinah cukup panas," ujarnya.
Jemaah Dapat Kesempatan ke Raudhah
Meski aktivitas ibadah di Madinah tidak sepadat saat berada di Makkah, Ihsan mengingatkan jemaah haji agar tetap mematuhi aturan dan menjaga kedisiplinan selama menjalani ibadah.
Salah satu agenda yang paling dinantikan jemaah haji selama berada di Madinah adalah berziarah ke Raudhah, area di dalam Masjid Nabawi yang dikenal sebagai Taman Surga.
Ihsan memastikan seluruh jemaah haji Indonesia akan mendapatkan kesempatan untuk masuk dan beribadah di Raudhah melalui pengaturan yang telah dikoordinasikan antara PPIH Arab Saudi, syarikah, dan otoritas setempat.
"Insya Allah semua jemaah akan mendapatkan hak untuk masuk dan berziarah di Raudhah," katanya.
Khusus jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas, PPIH Arab Saudi telah menyiapkan layanan prioritas selama berada di Madinah, termasuk saat berziarah ke Raudhah.
Menurut Ihsan, jemaah lansia dan disabilitas akan mendapatkan pendampingan serta pengaturan waktu khusus agar dapat beribadah dengan lebih nyaman.
"Yang memakai kursi roda di Raudhah ada waktu khusus dan tempat khusus untuk antre. Jadi insya Allah, para lansia dan disabilitas akan mendapatkan prioritas pelayanan," jelasnya.
Ia menambahkan, layanan khusus tersebut merupakan hasil koordinasi antara PPIH Arab Saudi, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, syarikah, serta berbagai pihak terkait lainnya.
Hal senada juga disampaikan Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak yang mengatakan, jemaah akan mendapatkan fasilitas untuk melaksanakan ziarah ke Raudhah sesuai jadwal yang telah diatur petugas.
Menurut Dahnil, Madinah menjadi kesempatan bagi jemaah untuk menikmati suasana ibadah yang lebih tenang setelah menjalani fase-fase puncak haji.
"Kami berharap jemaah bisa menikmati suasana Madinah, memperbanyak ibadah dengan tenang, serta memanfaatkan kesempatan berziarah ke Raudhah dengan baik," ujar saat meninjau kesiapan layanan jemaah di Hotel Grand Plaza Al Madina, Madinah.
Selain itu, Wamenhaj memastikan layanan akomodasi yang disiapkan bagi jemaah di Madinah berada pada lokasi yang relatif dekat dengan Masjid Nabawi.
Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu jemaah beribadah dengan lebih nyaman tanpa harus mengeluarkan energi berlebihan. (*)