TRIBUNNEWSMAKER.COM - Sebuah perselisihan yang awalnya tampak sepele berakhir menjadi tragedi yang merenggut nyawa seorang pelajar di Kota Surabaya.
Thomas Julianus Kristianto, siswa SMAN 11 Surabaya, dilaporkan meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh empat orang pelaku.
Peristiwa memilukan itu bermula dari ajakan sparing atau duel satu lawan satu yang kemudian berubah menjadi aksi kekerasan secara bersama-sama.
Kasus tersebut sontak mengundang perhatian publik karena dipicu persoalan hilangnya sepasang sandal Crocs yang nilainya tidak sebanding dengan nyawa yang melayang.
Pihak kepolisian bergerak cepat melakukan penyelidikan hingga akhirnya mengamankan sejumlah terduga pelaku yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.
"Kami sudah mengamankan empat orang pelaku yang masing-masing berinisial CJF, AAY, KVRL, dan RU," ujar Kasi Humas Polrestabes Surabaya AKP Hadi Ismanto.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, permasalahan bermula pada Mei 2026 ketika Thomas tanpa sengaja memakai sandal Crocs milik salah seorang terduga pelaku saat berkunjung ke rumah temannya.
Setelah itu sandal tersebut dilaporkan hilang dan korban diminta untuk mengganti kerugian yang dianggap timbul akibat kejadian tersebut.
Keluarga korban mengaku telah berupaya menyelesaikan persoalan secara baik-baik dengan memenuhi permintaan penggantian sandal tersebut.
Baca juga: Sosok Yogi Iskandar, Dalang Pengeroyokan Ayah Pengantin di Purwakarta, Bukan Kali Pertama Masuk Bui
Kakak korban, Hana Novia Kristiani, bahkan mengungkapkan bahwa dirinya telah memberikan uang kepada sang adik agar segera membeli sandal baru sebagai bentuk tanggung jawab.
Menurut Hana, Thomas juga telah menyerahkan sandal pengganti kepada pihak yang merasa dirugikan sehingga persoalan tersebut dianggap sudah selesai.
"Lalu adik saya info ke saya bahwa si pelaku meminta ganti rugi. Saya sudah kasih uang untuk ganti rugi dan adik saya sudah mengganti dengan sandal baru. Jadi saya menganggap tidak ada utang piutang," ujar Hana, Minggu (7/6/2026).
Namun di luar dugaan, persoalan yang semestinya berakhir damai itu justru berkembang menjadi konflik yang berujung pada tindakan kekerasan fatal.
Kematian Thomas meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan lingkungan sekolah yang tidak menyangka perselisihan kecil dapat berakhir dengan tragedi sebesar ini.
Kini kasus tersebut menjadi perhatian luas masyarakat, sementara proses hukum terhadap para pelaku terus berjalan untuk mengungkap seluruh fakta di balik pengeroyokan yang menewaskan pelajar tersebut.
Namun, persoalan tidak berhenti setelah sandal pengganti diberikan.
Terduga pelaku menolak sandal tersebut karena menganggap nilainya tidak sebanding dengan sandal yang hilang.
Sandal yang hilang diklaim bernilai sekitar Rp 1.500.000, sedangkan sandal pengganti yang diberikan Thomas diperkirakan hanya seharga Rp 200.000 hingga Rp 300.000.
Hana meragukan klaim harga tersebut karena tidak pernah melihat model sandal yang dimaksud maupun bukti pembeliannya.
"Apakah betul Rp 1,5 juta, bahkan model sandalnya saya tidak tahu. Bagaimana caranya saya percaya bahwa harga sandal tersebut Rp 1,5 juta jika tidak ada bukti dari pembelanjaan," kata Hana.
Baca juga: Sosok Irmanda, Vokalis Band Jadi Korban Pengeroyokan di Kota Batu, Dibacok dari Belakang
Perselisihan itu kemudian berujung pada ajakan sparing satu lawan satu untuk menyelesaikan masalah.
Namun, menurut keterangan teman salah satu terduga pelaku berinisial AE, Thomas justru dikeroyok oleh empat orang saat tiba di lokasi. Salah satu pelaku diketahui memiliki julukan "Klipet".
"Pertama niatnya satu-satu, tapi tahu-tahunya di sana dikeroyok," ujar AE kepada Kompas.com.
Akibat pengeroyokan tersebut, Thomas mengalami luka berat di bagian kepala.
Lurah Manukan Kulon Moestofa mengatakan, berdasarkan keterangan keluarga korban, Thomas sempat dibawa ke Klinik dr Danu pada dini hari sebelum dirujuk ke RSUD dr Soetomo sekitar pukul 04.30 WIB.
“Thomas langsung dibawa ke klinik dr Danu pada dini hari sebelum dirujuk ke RSUD dr Soetomo sekitar pukul 04.30. Di sana ia menjalani serangkaian pemeriksaan, termasuk CT scan dan USG, serta operasi mulai pukul 08.30,” ujar Moestofa.
Setelah menjalani operasi, kondisi Thomas terus memburuk akibat pendarahan pascaoperasi.
Ia sempat menjalani perawatan intensif di ruang ICU sebelum akhirnya meninggal dunia.
Moestofa menyebut Thomas merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Sejak duduk di bangku SMP, ia telah kehilangan kedua orang tuanya.
Selama ini, kebutuhan hidup Thomas ditopang oleh ketiga kakaknya dan seorang kakek.
Sementara itu, polisi menangkap para terduga pelaku pada malam yang sama ketika Thomas masih dalam kondisi kritis.
Keempatnya kini menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Polrestabes Surabaya.
(Tribunnewsmaker.com/ Kompas.com)