TRIBUNJOGJA.COM - Selembar naskah kuno beraksara Jawa mungkin tampak seperti peninggalan usang yang bisu di tengah riuh rendah dunia modern yang serba instan dan bergegas.
Namun, bagi Galih Adi Utama, lembaran-lembaran berdebu itu justru menyimpan kompas esensial yang mulai hilang dari genggaman masyarakat modern yakni identitas dan ketenangan batin.
Sebagai staf pengajar di Prodi Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma sekaligus seorang pemerhati naskah Jawa, Galih melihat adanya fenomena mengkhawatirkan di mana perlahan-lahan orang Jawa mulai merasa asing di tanahnya sendiri.
Ironisnya, kerenggangan ini berakar dari ketidakmampuan kita dalam mengenali warisan literasi masa lalu.
"Orang Jawa dikatakan mulai tidak mengenali kebudayaannya sendiri, dikarenakan mungkin salah satu faktornya adalah mulai asing dengan peninggalan-peninggalan berupa karya sastra yang dihasilkan oleh para pujangga di periode yang lampau," ujar Galih penuh keprihatinan.