IRGC Iran Luncurkan Operasi Nasr Serang Israel: Houthi Blokade Laut Merah, AS Minta Israel Tak Membalas
TRIBUNNEWS.COM - Konflik Iran dan Israel memasuki fase baru setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan dimulainya Operasi "Nasr" (Kemenangan) yang menargetkan sejumlah lokasi penting di pangkalan udara strategis Israel.
Lokasi-lokasi Israel yang disasar Iran yakni Tel Nof dan Nevatim.
Operasi tersebut menandai babak terbaru dalam rangkaian aksi saling balas yang terus berkembang di tengah upaya diplomatik Amerika Serikat untuk mempertahankan jalur perundingan dengan Teheran.
Baca juga: Konflik AS-Israel di Tengah Perang Iran, Pentagon Naikkan Ancaman Spionase Israel ke Level Tertinggi
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut operasi itu dilancarkan dengan sandi "Ya Haydar Karrar" sebagai penghormatan bagi korban yang gugur dalam perang 12 hari yang berlangsung pada Juni 2025.
Menurut mereka, serangan tersebut merupakan respons terhadap serangan rudal Israel yang sebelumnya menghantam sejumlah lokasi radar di tiga wilayah Iran.
IRGC juga menegaskan bahwa percepatan waktu respons dan perluasan daftar sasaran menjadi bagian dari strategi terbaru mereka.
Selain itu, seluruh unit tempur dan operasional disebut telah berada dalam kondisi siap untuk menjalankan operasi berskala besar apabila situasi terus memburuk.
Eskalasi tidak hanya terjadi di front Iran-Israel.
Kelompok Houthi di Yaman yang terafiliasi Iran, mengumumkan "larangan total dan menyeluruh" terhadap pelayaran Israel di Laut Merah.
Mereka menyatakan seluruh aktivitas maritim Israel kini dianggap sebagai sasaran militer.
Dalam pernyataan terpisah, Houthi mengklaim telah menyerang target penting Israel di wilayah Jaffa menggunakan rudal dan menyebut serangan itu mengenai sasaran.
Kelompok tersebut menegaskan bahwa setiap peningkatan operasi militer Israel akan dibalas dengan eskalasi yang lebih besar.
Pengumuman itu muncul beberapa jam setelah militer Israel mengaku melakukan serangan udara terhadap sasaran militer di Iran bagian barat dan tengah. Media Iran kemudian melaporkan adanya ledakan di Teheran, Tabriz, dan Isfahan.
Sebelumnya, Israel juga menyatakan telah mendeteksi 11 rudal yang ditembakkan dari Iran dan mengklaim seluruhnya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Teheran menyebut peluncuran rudal tersebut sebagai pesan peringatan atas serangan Israel di pinggiran selatan Beirut.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya menjaga agar jalur negosiasi dengan Iran tetap terbuka.
Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump menegaskan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada akhirnya harus menerima kesepakatan apa pun yang dicapai Washington dengan Teheran.
"Saya yang membuat keputusan. Dia tidak membuat keputusan," kata Trump ketika ditanya mengenai sikap Netanyahu.
Pernyataan itu disampaikan setelah Iran meluncurkan empat gelombang rudal balistik ke Israel, yang disebut sejumlah media sebagai pelanggaran paling serius terhadap gencatan senjata yang berlaku sejak April.
Trump menilai serangan tersebut tidak akan menggagalkan proses negosiasi. Ia bahkan menyatakan eskalasi saat ini tidak memberikan keuntungan strategis dan tidak seharusnya mengubah arah pembicaraan antara Washington dan Teheran.
Laporan Channel 12 Israel menyebut Trump secara langsung meminta Netanyahu untuk tidak segera membalas serangan Iran dan memberikan waktu tambahan bagi proses diplomasi.
Menurut sumber Amerika Serikat dan Israel yang mengetahui pembicaraan tersebut, Trump mengatakan bahwa kesepakatan dengan Iran sudah sangat dekat sehingga tindakan militer baru berisiko menggagalkan proses yang sedang berlangsung.
Meski sempat menyampaikan keberatan, Netanyahu disebut akhirnya menerima permintaan tersebut.
Seorang pejabat senior AS menyebut percakapan terbaru kedua pemimpin berlangsung lebih tenang dibandingkan komunikasi sebelumnya yang dikabarkan cukup memanas.
Trump juga mengakui bahwa perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan perlu diarahkan menuju tahap berikutnya.
Namun, ia tetap membuka kemungkinan langkah yang lebih keras apabila negosiasi gagal.
Presiden AS itu mengatakan Washington memiliki dua pilihan jika kesepakatan tidak tercapai, yakni melanjutkan tindakan militer terhadap sasaran yang belum dihancurkan atau memperketat tekanan ekonomi dan politik terhadap Iran.
Perkembangan terbaru ini terjadi di tengah rapuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang mulai berlaku pada April dan diperpanjang pada Mei.
Meski perundingan masih berjalan, pembahasan mengenai program nuklir Iran dan situasi keamanan di Lebanon belum mencapai titik temu.
Iran berkali-kali menegaskan bahwa penyelesaian permanen hanya mungkin tercapai jika serangan Israel ke Lebanon dihentikan. Sementara itu, Israel tetap melanjutkan operasi militernya terhadap Hizbullah, kelompok yang didukung Teheran.
Dengan munculnya Operasi "Nasr", ancaman Houthi di Laut Merah, serta masih berlangsungnya manuver diplomatik Washington, konflik Timur Tengah kini memasuki fase yang lebih kompleks, di mana jalur militer dan negosiasi berjalan secara bersamaan dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi.
(oln/ft/*)