TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seorang ibu muda di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra), berinisial AS (24) pada akhir Mei 2026 menjadi cerita memilukan dalam sebuah perjalanan cinta.
Cinta yang seharusnya tumbuh dengan kasih sayang, berujung pada kekerasan dan rasa sakit tiada henti sampai berujung kematian.
Sosok yang melakukannya, tak lain suami AS, IS (28).
Meski mengaku menyayangi istrinya, namun karena cemburu yang begitu dahsyat dirasakannya menjadikan IS brutal beraksi.
Hubungan rumah tangga yang terjalin kurang lebih tiga tahun, menjadi tragedi memilukan.
Hal ini terkuak dalam wawancara ekslusif Saksi Kata bersama IS yang ditetapkan sebagai tersangka kasus KDRT dan pembunuhan sang istri.
IS yang ditemui pada Jumat (5/6/2026) di Mako Polresta Kendari, mengungkap detik-detik kepergian istrinya, termasuk alasannya memukuli hingga menendang ibu dari anaknya itu.
IS cemburu buta saat mengetahui bahwa istrinya telah menduakan cintanya.
Baca juga: Suami di Konawe Selatan Sempat Mandikan dan Sisir Rambut Istrinya Usai Aniaya, Berharap Hidup Lagi
Ia mengaku geram dan membuatnya mengambil langkah kekerasan dengan dalih ingin mendidik istrinya.
"Memberi efek jera, sebab yang dia pikirkan setiap hari adalah selingkuhannya," tuturnya kepada jurnalis TribunnewsSultra.com, Desi Triana.
IS mengurai bahwa di malam, 29 Mei 2026, cekcok terjadi karena pertanyaannya.
Ia mempertanyakan kembali persoalan perselingkuhan istrinya dengan pria lain.
Pengakuan IS, sang istri selalu menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang membuatnya emosi.
"Tepatnya di jam 11 malam, saya memulai percakapan dengan istri saya, saya menanyakan pikiran di hari-harinya. Saya bertanya, bagaimana dengan pikiranmu ini hari. Dia jawab teringat dengan suaminya orang, selalu terbayang wajah mukanya, selalu membayangkan apa yang mereka lakukan pada saat ada di rumah saya," kata IS.
"Sebelum-sebelumnya pikirannya selalu seperti itu. Jadi saya lakukan (kekerasan) untuk mendapatkan efek jera," sambungnya.
Ia tak menampik bahwa kekerasan yang terjadi, dilakukannya sejak Desember 2025 hingga Mei 2026.
Bermula saat dirinya pulang dari merantau di Kalimantan Timur.
Ia sempat bekerja sebagai operator di salah satu pabrik.
IS pulang karena sudah diberhentikan. Namun kepulangannya, disambut dengan kabar tak mengenakan soal dugaan perselingkuhan istrinya.
"Itu saya tanyakan, sebenarnya sudah lama. Kejadian (kekerasan) itu bukan pertama kali. Sudah banyak terjadi pada hari-hari lainnya," tuturnya.
IS mengaku dirinya tak berniat menghabisi nyawa istrinya. Berkali-kali, ia mengklaim bahwa kekerasan yang dilakukannya adalah hukuman atas kesalahan sang istri.
IS lantas membongkar bagaimana tubuh istrinya dianiaya secara brutal berkali-kali dan berjam-jam.
"Saya tidak pernah berniat membunuh, tapi saya hanya ingin memberi efek jera. Saya pukul, di bagian muka saya pukul, di bagian tangan dan paha saya tendang, bagian belakang saya tendang, bagian dada saya tendang," jelasnya.
Menurutnya, sang istri, AS, tidak melawan atas perlakuan kasarnya.
Ia menilai sang istri menerima hukuman.
"Tidak melawan sama sekali, dia pasrah menerima hukuman," jelasnya.
Tak hanya tega menganiaya istrinya secara brutal, IS juga mengunci anaknya di kamar.
Ia enggan mempertontonkan keberingasannya pada anak perempuannya itu.
"Anak saya setiap kali saya bertengkar anak saya selalu saya kunci di dalam kamar," katanya.
"Tidak ada sama sekali pikiran yang terlalu jauh, saya hanya mau memberi pelajaran bu," jelasnya.
Kurang lebih 2 jam di malam itu, IS memukuli hingga menendang istrinya.
"Dari jam 11, berakhir kurang lebih jam antara stengah 2 atau jam 2,"
IS berhenti setelah melihat kondisi istrinya sangat parah.
Baca juga: Hasil Autopsi Ibu Muda Dibunuh Suami di Ranomeeto Konawe Selatan, 28 Luka Memar, Pembengkakan Otak
Walau darah sudah mengucur, IS tidak berhenti menganiaya.
Ia terus melakukannya, sampai melihat istrinya mulai melemah.
"Sudah, saya lihat sudah parah, memar di bagian kanan. Dia berdarah. Walaupun keluar darah tidak berniat berhenti. Nanti setelah sudah tak bagus dipandang wajahnya saya beralih ke tangan dan kaki," jelasnya.
Baginya, kekerasan yang dilakukan adalah bentuk hukuman atas perselingkuhan istrinya.
"Yang saya pikirkan, istri saya tidak pernah kapok. Memikirkan laki-laki lain. Pikirannya ingin sama-sama selingkuhannya, ingin menjadi istri kedua, tentang seks, semuanya," tuturnya.
Setelah kekerasan terjadi, IS dan AS sempat tidur bersama dan memeluk anak mereka.
Tak ada kalimat yang tersampaikan dari AS.
Hanya saja, kata IS, istrinya sempat mengeluhkan sakit pada bagian perut.
"Dia masih sadar, masih sempat kami tidur istrahat. Meninggalnya bukan saat saya pukul saat itu. Jadi masih sempat kami peluk anak kami," katanya.
IS sempat keluar dari rumah pada subuh hari untuk mengambil cabai dan pepaya.
Namun saat pulang, dirinya melihat tubuh istrinya sudah tergeletak di kamar mandi.
"Jam 4 subuh, saya temukan di WC sudah tergeletak," katanya.
Bagi IS, kekerasan tersebut sudah sering terjadi bahkan menurutnya menjadi hal yang biasa.
"Selalu seperti itu".
Namun, kepergian istrinya membuka pikirannya.
Ia tak menyangka hukuman yang diberikan berujung pada kematian.
"Saya dobrak dadanya saya pikir bisa bernapas kembali, tetapi tidak ada (respon) kemudian saya tarik. Saya bawa ke ruang tengah kembali. Saya kasi baring, saya dobrak kembali tapi masih tetap sama (tidak merespon)," jelasnya.
Ia tak langsung mengabari tetangga atau orang terdekatnya.
IS bahkan sampai memasak dan makan bersama anaknya.
Dengan kondisi jasad sang istri yang dibaringkan di atas kasur.
Meski kekerasan bertubi-tubi dilakukannya, berbulan-bulan, namun IS mengaku mencintai istrinya.
"Kalau sayang, sayang bu. Kalau saya tidak sayang tidak mungkin saya," tuturnya terhenti karena mengenang AS yang telah dihabisinya.
Ia menyesal atas perbuatan yang dilakukannya.
"Hendri, saya tidak akan ulangi lagi. Saya tidak akan pernah pukul-pukul lagi. Saya tidak akan buat Hendri seperti kemarin-kemarin. Saya akan buat keluarganya kita bahagia. Tersenyum kembali seperti dulu," jelasnya.
"Saya pikir itu cara saya, didik istri saya baik. Tapi ternyata salah. Saya sangat-sangat salah, dan saya sangat menyesal. Bahkan bentuk penyesalan saya itu, saya tidak segera melapor saya masih berharap istri saya bangun. Saya masih berharap semuanya baik-baik saja. Saya tahu, saya tahu niat saya baik. Saya ingin didik istri saya, tapi cara yang biadap yang bajingan yang kurangajar. Kalau saya tahu ada cara yang baik, bisa buat istri saya baik. Cara itulah yang akan saya ikuti, bukan cara seperti ini."
Ia berharap mendapat hukuman mati karena telah menghabisi nyawa istrinya secara perlahan.
"Saya berharap dihukum mati, tidak ada harapan ku yang lain. Saya ingi dihukum mati saja bu. Itu keinginan saya satu-satunya. Saya tidak berharap apapun," jelasnya.
"Mungkin dengan cara itu, saya bisa minta maaf pada istri saya. Yang terlambat saya ucapkan pada saat dia masih tertawa sama-sama saya," pungkasnya.
Atas kasus ini, IS ditetapkan sebagai tersangka KDRT dan pembunuhan.
Ia ditahan selama proses penyidikan yang dilakukan tim kepolisian Satreskrim Polresta Kendari.
(*)
(TribunnewsSultra.com/Apriliana)