Grid.ID - Aksi Dedi Mulyadi respon aduan netizen terkait kondisi Masjid Cipaganti Bandung ramai jadi perbincangan. Ya, hal ini dikarenakan rumah ibadah tersebut sudah dalam kondisi memprihatinkan.
Bahkan Dedi Mulyadi respon aduan dari netizen terkait hal itu. Dimana bagi para pencinta sejarah dan arsitektur di Kota Lembang.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat dipastikan bakal turun tangan untuk memugar sebuah rumah ibadah berstatus cagar budaya di kawasan Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung.
Dalam video yang beredar di media sosial, tampak tempat ibadah itu masih berdiri. Kendati demikian di bagian lain terlihat jelasatap sirap kayu masjid yang legendaris itu sedang tidak baik-baik saja.
Pasalnya atap area belakang terpaksa dibalut lembaran plastik putih, seolah menjadi tameng sementara untuk menahan rembesan air hujan. Meski sebagian sudah ditutupi atap baja ringan, sangat kontras dengan keanggunan atap sirap.
Melihat aduan tersebut, Dedi Mulyadi melemparkan pujian kepada netizen dan warga yang peduli dan melaporkan kerusakan Masjid Cipaganti Bandung itu.
“Terima kasih atas informasinya, karena masjid ini merupakan masjid bersejarah atau heritage,” ujar Dedi Mulyadi dikutip Grid.ID dari Instagram @dedimulyadi71, Senin (8/6/2026).
Lebih lanjut, Gubernur Jawa Barat itu membeberkan bahwa jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat bergerak cepat melakukan peninjauan langsung guna mengukur tingkat kerusakan.
“Kami sudah melakukan verifikasi tentang kebutuhan masjid tersebut dan dalam waktu tidak terlalu lama lagi kami akan memprosesnya,” imbuhnya.
Tak berhenti sampai di situ, pemugaran juga akan dilakukan secepat mungkin. Bukan tanpa alasan, pasalnya di dalam bangunan itu menyimpan memori kolektif yang diharapkan bisa kembali kokoh.
“Segera masjid itu direnovasi,” tegas Dedi Mulyadi.
Dedi juga berujar masjid tersebut adalah aset cagar budaya yang mencerminkan identitas serta rekam jejak perjalanan peradaban sebuah bangsa. Dan bukan sekedar hanya onggokan batu dan kayu tua yang mati.
Selain itu dari cara Dedi Mulyadi respon terhadap aduan netizen, ia ingin adanya perlindungan terhadap situs-situs lama harus menjadi perhatian serius semua elemen. Tokoh publik ini pun menaruh asa agar agenda restorasi ini memicu semangat kebersamaan dalam memelihara identitas nasional.
“Semoga kita semua menjadi orang-orang yang senantiasa merawat dan menjaga seluruh peninggalan sejarah bangsa ini,” tandas Dedi Mulyadi.
Sementara itu, dilansir dari TribunJabar.id, merujuk dari ata resmi dari laman bandung.go.id, Masjid Besar Cipaganti menduduki posisi terhormat sebagai salah satu pusat peribadatan paling sepuh (tua) di Kota Bandung.
Prosesi peletakan batu pertamanya tercatat pada tanggal 7 Februari 1933, yang bertepatan dengan tanggal 11 Syawal 1351 Hijriah. Hanya berselang setahun, tepatnya pada 27 Januari 1934, rumah ibadah yang menempati lahan seluas 2.675 meter persegi ini resmi dibuka untuk umum.
Dan siapa sangka masjid itu dirancang oleh maestro arsitektur kenamaan asal Belanda, Charles Prosper Wolff Schoemaker, sosok genius di balik kemegahan Hotel Preanger dan Villa Isola.
Dalam pengerjaannya, ia berkolaborasi dengan Het Keramische Laboratorium Bandung (lembaga yang kini bertransformasi menjadi Balai Besar Keramik).